Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 95. Resepsi


__ADS_3

****


Hari yang dinantikan telah tiba, ballroom hotel milik Rian telah disulap menjadi penuh dengan hiasan bunga Krisan (Crysanthemum Morifilium), bunga Mawar, dan bunga peony yang sangat cantik. Rian sudah menyiapkan tempat itu dengan penuh rasa bangga. Ini adalah kali pertama Rian mengadakan resepsi pernikahan putrinya, dia tampak sangat antusias mengawasi para pendekor, sehingga terciptalah ruangan yang saat ini bernuansa putih dan penuh dengan bunga.


Zafrina dan Zico di siapkan dalam ruangan yang berbeda. Zico berulang kali menarik nafas karena merasa gugup. Ini kali pertama ia akan duduk bersanding dengan istrinya dan disaksikan oleh banyak pasang mata. Raiden yang sedang duduk di samping pria itu terkekeh geli melihat iparnya itu.


"Anggap saja sedang memimpin rapat. Lagi pula ini bukan sidang,


kenapa kamu setegang itu?"


"Aku juga tidak tahu, membayangkan duduk di depan banyak orang saja membuatku berkeringat begini."


Raiden geleng kepala dengan tingkah kakak iparnya. Dia sebenarnya ingin menempel pada Zafia, tapi sejak tadi gadis itu terus melekat dengan mama Dian. Sehingga Raiden akhirnya memilih masuk di kamar Zico.


"Sudah lah, dibuat relaks saja. Jangan terlalu dipikirkan."


Tak lama pintu ruangan Zico diketuk, seorang pria memakai rompi dan juga dasi kupu-kupu meminta sang mempelai untuk segera bersiap karena acara sebentar lagi di mulai.


Zico dan Raiden saling melempar pandangan, Raiden lalu tersenyum dan menepuk bahu, Zico.


"Semangat, Bro. Setelah ini masih ada satu momen menegangkan lagi."

__ADS_1


Raiden berjalan melewati pegawai dari Weding organized yang tadi memanggil Zico. Dia lalu menuju lift untuk mencari keberadaan calon jodohnya.


Zafrina sudah siap, Ia memakai gaun pernikahan model A-lineA-line yang menjuntai menyapu lantai. Wajahnya yang blesteran bahkan lebih mirip bule itu kini sudah di make-up dengan riasan natural. Rambutnya diikat ala princess di negeri dongeng. Namun, ada satu hal yang tampaknya sangat unik, tapi sebenarnya jika dilihat keseluruhan sangat kontras dengan tampilan Zafrina yaitu perut Zafrina yang buncit. Zafrina juga sampai harus memakai sandal rumahan karena kondisi kakinya yang bengkak, beruntung kakinya tertutup gaun.


Rian dan Gerry masuk ke ruangan dimana para perempuan sedang berkumpul. Keduanya menjemput mempelai wanita yang akan mereka apit dari pintu masuk ballroom hingga pelaminan.


"Ayo, Zico sudah menunggumu, Sayang," ujar Rian.


"Iya, Pi."


"Mas, nanti kalau mengapit Zafrina jangan jalan cepat-cepat. Kasihan, kakinya bengkak," kata Dian pada Gerry.


"Kamu, tenang saja. Yang patutnya kamu takutkan adalah dia, bukannya aku."


"Kau itu orang yang tidak sabaran. Aku takut putriku akan terseok-seok mengikuti langkahmu," jawab Gerry. Rian mendengus kesal.


"Dia itu juga putriku, aku pasti akan menjaganya."


"Sudah-sudah, papa sama papi bisa tidak sehari saja kalau bertemu tidak berdebat?" Zafrina menatap jengah kedua papanya.


"Dia yang mulai," ujar Gerry dan Rian berbarengan. Semua tertawa mendengar keributan kedua orang itu.

__ADS_1


Rian dan Gerry akhirnya berhasil membawa mempelai wanita keluar dari ruangan make-up. Rian menoleh sesaat dan menatap putra pertamanya dengan tatapan curiga.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rian. Matanya memicing saat melihat putranya tersenyum.


"Memangnya papi saja yang ingin menggandeng wanita, aku juga mau membawa wanitaku." Gerry yang mendengar ucapan Raiden menatap pemuda itu dengan tajam.


"Jangan macam-macam dengan putriku yang polos."


"Aku hanya akan berbuat satu macam saja, calon papa mertua," kata Raiden. Gerry hanya mendengus. Jika hari ini bukan hari kebahagiaan putrinya sudah pasti ia akan menyeret Raiden untuk diintrogasi olehnya.


"Jangan membuat papi malu," tegur Rian.


"Jika kalian terus berdebat, lebih baik kak Zafa saja yang mengantarkan aku ke sana," ujar Zafrina kesal. Akhirnya Rian dan Gerry kembali mengempit lengan Zafrina. Kini ketiganya mulai berjalan menuju ballroom di mana sudah ada ratusan atau bahkan mungkin ribuan tamu berkumpul."


Saat pintu ballroom terbuka, semua mata menatap ke arah Zafrina, Rian dan juga Gerry. Banyak tamu undangan terlebih lagi para relasi bisnis mereka yang terkejut saat melihat momet itu, Rian dan Gerry terkenal bagai kucing dan tikus bila bertemu, tapi kini keduanya berdiri dengan sangat akur di sisi kanan dan kiri mempelai wanita.


Semua tamu hadirin bertepuk tangan, saat ketiga orang itu mulai melangkah mendekat ke arah mempelai pria. Zico berulang kali menelan salivanya dengan kasar. Kali ini dia dibuat kembali jatuh cinta pada wanita yang sama. Penampilan Zafrina saat ini terlihat lain. Apalagi sejak ia menggenal istrinya, Zafrina memang jarang sekali berdandan. Zico jadi merasa tidak rela jika banyak pasang mata yang menatapnya.


Ketiga orang itu sudah mencapai pelaminan, Zico mengulurkan tangannya dan Zafrina menerimanya dengan wajah yang tersenyum.


"Ku serahkan putri kesayanganku padamu, jagalah dia, bimbing ia agar menjadi istri yang patuh pada suaminya dan tetap menghormati orangtuanya. Tegur dia saat dia berbuat salah, jangan pernah menyakitinya, karena aku tidak pernah seujung kuku pun menyentuh tubuh putriku dengan kasar," kata Gerry.

__ADS_1


"Ina, sekarang tugas papa dan papimu ini telah selesai. Kami serahkan kamu pada suamimu. Maafkan kami, jika selama kami masih banyak kekurangan dalam mendidik kamu. Jadilah istri yang patuh. Doa kami, semoga kamu dan Zico akan senantiasa diberkati dengan kebahagiaan," ujar Rian. Air mata Zafrina langsung tumpah mendengar petuah kedua papanya.


__ADS_2