Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 86. Bertemu Sahabat Lama


__ADS_3

****


Zafrina membuka matanya saat merasa perutnya seperti tertimpa sesuatu, Ia melihat wajah suaminya tertidur di sampingnya. Zafrina ingin bergerak, tapi melihat wajah lelah suaminya Zafrina memilih diam dan membelai rahang Zico.


Zico tiba di butik dan melihat istrinya tertidur pulas. Ia berjongkok di samping Zafrina dan membelai lembut pipi Zafrina. Namun sepertinya istrinya itu terlalu lelah. Dia sama sekali tak terganggu dengan sentuhan-sentuhan lembutnya.


"Kenapa tidur di sini? kalau lelah kenapa tidak pulang?" tanya Zico dengan mata yang masih terpejam. Perlahan manik mata berwarna coklat terang itu terbuka. Dia menatap dalam wajah istrinya begitu juga sebaliknya.


"Aku mau pulang, tapi setiap mengingat kamu jarang pulang aku jadi malas. Lagi pula aku sedang mengurus masalah di sini. Ternyata selama ini ada penyelewengan bakal kain, tapi oma sepertinya tidak tahu. Aku mau tanya takut papi yang malah akan marah. Bisa saja papi akan langsung melenyapkan nyawa orang yang mempermainkan bisnis oma."


"Aku pun juga akan melakukan hal yang sama. Kalau saja itu kamu, aku akan membunuh mereka. Aku tidak akan biarkan orang yang aku cintai disakiti apalagi dicurangi."


Zafrina tersenyum dan memeluk Zico. Namun suasana romantis itu tiba-tiba ambyar karena Zafrina kembali merasakan gejolak di perutnya. Zafrina segera bangkit dan berjalan dengan tergesa-gesa ke kamar mandi. Dia kembali berusaha memuntahkan isi perutnya di kloset.


Zico pun segera menyusul Zafrina dan memijat tengkuk istrinya. Apa gara-gara terlalu fokus dengan masalah butik, istrinya jadi sakit. Zico benar-benar akan membuat perhitungan pada orang yang membuat istrinya bekerja keras sampai-sampai istrinya seperti ini.


"Apa kamu sudah makan, Queen?" Zafrina menggeleng dan kembali berusaha memuntahkan isi perutnya.


"Sejak siang tadi?" tanya Zico, ia semakin dibuat kesal saat tahu, istrinya juga melewatkan makan siangnya. Padahal sekarang sudah pukul 8 malam.


Zafrina berdiri, ia segera mencuci mulutnya setelah berkali-kali menekan flush kloset. Zafrina menghadap ke arah Zico sambil memegangi dua sisi jas suaminya. Dia memeluk Zico dan membenamkan wajahnya di dada suaminya itu. Zafrina menghirup dalam-dalam aroma musk parfum Zico. Gejolak diperutnya mulai mereda dan kini berubah menjadi rasa lapar.


"King, ayo kita pergi jalan-jalan. Aku mau waffle dengan isian keju yang banyak." Zico mengangguk saat melihat wajah antusias istrinya. Keduanya lalu berjalan keluar bersama. Zafrina menatap motor Zico, lalu beralih menatap pakaiannya, hari ini Zafrina memakai sebuah dress terusan semata kaki. Zafrina Meringis, namun ternyata Calvin cepat tanggap. Dia menyerahkan kunci mobil pada Zico.


Butuh waktu sedikit lebih lama untuk tiba di outlet waffle langganan Zafrina dulu saat SMA. Setibanya di sana masih ada beberapa antrian, dan Zafrina bergerak maju. Niatnya hanya ingin menanyakan apakah stoknya masih ada atau tidak, karena dia tidak mau sia-sia mengantri tapi tak mendapatkan apa-apa.


Zico masih di dalam mobil untuk melepas jasnya. Ia tidak jadi keluar karena ada panggilan telepon dari papanya. Zafrina yang tiba di depan outlet sudah hampir membuka mulutnya sampai tepukan di pundaknya membuatnya tersentak kaget.

__ADS_1


"Ayunda... " Suara bariton itu membuat Zafrina langsung menoleh. Senyum Zafrina langsung merekah saat melihat teman semasa SMA nya.


"Emilio ...." tunjuk Zafrina, lalu keduanya saling berjabat tangan.


"Kamu apa kabar?" tanya Emilio, matanya menelisik Zafrina dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Baik-baik. Ternyata selera kita masih sama, ya," ujar Zafrina. Emilio mengangguk. Tak lama giliran Emilio tiba. Dia langsung memesan 3 waffle dengan ekstra keju. Zafrina sejenak menunggu Emilio selesai memesan. Zafrina sesekali berpaling untuk mencari keberadaan Zico. Ia ingin mengenalkan Zico pada Emilio.


"Kamu sendirian?" tanya Emilio sesaat ketika tanpa sadar dia menatap Zafrina yang celingukan.


"Ha..? aku?" tanya Zafrina yang masih tidak fokus karena menunggu suaminya.


"Iya, aku nanya ke kamu, masa iya aku tanya tas kamu."


"Engga, aku engga sendirian. Kalau kamu?"


"Ehm.... " Zico tiba-tiba berdiri di belakang Zafrina. Zafrina tersenyum dan lalu menarik lengan suaminya.


"Emil, kenalin ini Zico suamiku."


"Emilio." Emil mengulurkan tangannya pada Zico.


"Zico." Zico tersenyum sambil membalas jabatan tangan Emilio.


"Sayang, udah?" Suara seorang wanita membuat Zafrina, Emilio da juga Zico seketika menoleh. Emilio tersenyum lembut pada tunangannya itu. Pria itu mengulurkan tangannya dan menarik lembut tangan wanitanya.


"Kenalin ini, Ayunda, sahabatku waktu SMA dulu dan ini suaminya." Alis Zico mengernyit saat mendengar Emilio memanggil istrinya dengan nama tengah yang jarang disebutkan.

__ADS_1


"Rena... " tunangan Emilio mengulurkan tangannya dan disambut oleh Zafrina dan Zico.


"Eh, betewe makasih banget, ya. Tahu aja aku mau pesan ini."


"Jelas tahu, ini makanan favorit kamu sejak jaman dulu. Ya, udah deh. Aku dan tunanganku tidak bisa lama-lama. Dia punya jam malam."


"Oh, iya. Makasih, ya sekali lagi." Emilio dan Rena akhirnya pergi dari outlet itu. Zico tiba-tiba memasang wajah masam. Di dalam mobil pun Zico mendiamkan Zafrina.


"Suamiku kenapa, sih?" Zafrina mengusap lengan Zico sambil menggigit Waffle yang tadi Emilio berikan.


"Engga apa-apa."


"Engga apa-apa tapi wajahnya asem banget. Ingat lho, kita mestinya saling terbuka, jangan sampai masalah yang pernah terjadi kembali terulang," ujar Zafrina.


"Aku kesel," ujar Zico singkat. Zafrina langsung menoleh ke arah suaminya yang sedang mengemudi.


"Maksudnya, kesel kenapa? aku ada salah apa, King?"


"Kenapa dia panggil kamu Ayunda? siapa dia tadi? kok bisa tahu waffle itu favorit kamu?"


"Soal panggilan aku tidak tahu, dia emang sejak awal kenal dari SMA dia satu-satunya yang panggil aku Ayunda. Katanya dia jadi ingat sama mamanya. Terus soal kenapa dia tahu kalau ini makanan favoritku ya karena dulu sering belajar kelompok di cafe dekat outlet waffle itu. Lagian waffle ekstra keju itu makanan kesukaan dia, terus aku pernah dikasih nyoba ngincip dan ternyata enak. Sejak saat itu, waffle itu jadi favorit aku."


"Kenapa dulu kamu engga bilang?"


"Oh my King, suamiku tercinta, terganteng, tersegala-galanya, di sini dan di Amrik beda. Kita sama-sama menyebutnya waffle tapi tampilannya engga sama itu makanya aku juga jarang membicarakan makanan ini. Lagian cemburunya keterlaluan, ah. Kaya engga percaya sama cintaku ke kamu," ujar Zafrina merajuk.


Zico tertawa dan mencubit pipi istrinya dengan gemas. Zafrina mencubit waffle nya dan menyuapi Zico. Ia ingin suaminya juga mengenal makanan favoritnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2