Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
100


__ADS_3

"Bagaimana pesta pernikahannya? Aku minta maaf, tadi sudah ku usahakan agar tidak terlambat, tapi pesawat yang aku naiki di tunda keberangkatannya satu jam." ujar Kyle pada Barry. Ia masih tidak berhenti-berhenti memaki sejak tadi karena melewatkan pesta pernikahan Zuin. Kalau begitu, sia-sia saja dia menyusul terbang ke Melbourne. Tapi dia bisa apa coba, toh sekarang dirinya telah berada di tempat ini. Jadi nikmati saja.


Mereka sekarang sedang berada di sebuah club malam yang cukup terkenal di Melbourne. Letaknya hanya ada di dalam hotel yang mereka tinggali. Tapi dibagian rooftop lantai enam puluh tiga. Kyle belum pernah datang ke sini sebelumnya tapi Barry sudah. Waktu laki-laki itu sedang dalam perjalanan bisnis ke tempat ini. Barry mengunjungi club tersebut bukan bermaksud untuk mencari kesenangan dengan perempuan, ia datang hanya sekedar untuk melepas penat dengan alkohol. Dan melepas stres dari pekerjaannya yang menumpuk tentu saja.


Ada dua bagian di club tersebut. Outdoor yang berupa balkon luas dengan kolam renang besar yang dihiasi lampu keemasan dan pemandangan kota Melbourne di malam hari yang ciamik, dan ruangan tertutup berisi sekat-sekat sofa dan bar besar yang dipenuhi berbagai jenis minuman beralkohol dengan beberapa orang bartender yang siap sedia di sana, serta ada juga lantai dansa dengan panggung DJ yang mewah.


"Tidak apa-apa. Kau bisa menyelamati mereka besok." balas Barry lalu meneguk wine dari gelas yang dia pegang. Kadar alkoholnya ringan jadi Barry tidak gampang mabuk hanya dengan segelas minum.


Barry masih merasa sedih saja mengingat Zuin yang sudah benar-benar di ambil darinya. Ia tahu putrinya satu hari nanti pasti akan menikah dan tinggal dengan keluarga barunya, tapi ia sama sekali tidak menyangka Zuin akan menikah secepat ini. Gadis itu adalah keluarganya satu-satunya, jelaslah Barry sedih.


Barry kembali meneguk wine tersebut dengan perasaan berkecamuk. Sesekali pria itu mendes*h pelan. Kyle di sebelahnya tersenyum melihat sang sahabat, kalau orang lain tidak tahu, mungkin mereka akan mengira pria itu baru saja putus cinta.


"Sekarang kau baru sadar kan terlalu cepat menikahkan putrimu." ujar Kyle setengah meledek. Pria itu sendiri tidak merasa sedih lagi mendengar Zuin sudah menikah. Sepertinya perasaannya terhadap gadis itu benar-benar sudah hilang. Akhir-akhir ini ia malah terus-terusan memikirkan Ketty. Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu. Pria itu memandang Barry lagi.


"Kau tidak ingin menikah lagi?" pertanyaan itu sontak membuat Barry menoleh menatap Kyle.


"Well, aku hanya berpikir kau butuh seorang pendamping sekarang. Sudah bertahun-tahun ini kau tidak pernah menjalin hubungan. Sejak mamanya Zuin meninggal. Memangnya kau tidak bosan sendirian?"

__ADS_1


"Aku tidak butuh istri lagi." balas Barry datar. Semenjak mama Zuin meninggal hatinya memang sudah mati. Ia tidak bisa mencintai siapa pun lagi. Hanya tersisa Zuin satu-satunya perempuan yang ia cintai dan akan dia jaga seumur hidupnya. Putri kandungnya yang ia besarkan dengan penuh cinta. Cinta antara ayah pada putrinya. Dan Barry tidak terpikir sama sekali untuk membagi cintanya pada wanita lain.


Kyle sampai menggeleng-geleng menatap Barry. Tidak menikah lagi masih bisa ia makhlumi, tapi sebagai seorang pria, ia masih tidak percaya kalau Barry bisa menahan kebutuhan biologisnya sampai bertahun-tahun ini.


"Ayolah Barry. Tidak perlu menikah. Bersenang-senang saja. Kau masih cukup muda. Begini saja, kalau kau butuh wanita, aku akan menyiapkannya untukmu." kata Kyle lalu menepuk pelan bahu Barry. Barry yang mendengarnya hanya tertawa.


"Aku tidak sepertimu Kyle." balasnya. Kyle terkekeh. Ia menyerah. Bukan sekali dua kali ia memaksa Barry, jadi percuma saja memaksa terus. Barry adalah sosok pria yang sangat berprinsip, sulit memaksanya kalau pria itu memang tidak mau.


\*\*\*


Dikamar mereka, Dastin tersenyum menatap Zuin yang masih terlelap dipelukannya tanpa sehelai benang pun pagi ini.


Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya tipe perempuan seperti Zuin ini jauh sekali dari tipenya. Dulu Dastin lebih menyukai perempuan dewasa yang bisa mengurus dirinya saat ia pulang kerja. Tidak pernah terpikir sedikitpun ia dengan gadis belia yang jauh lebih muda darinya. Tapi sekarang dirinya malah tergila-gila pada Zuin. Tidak tahu perasaan itu di mulai sejak kapan, yang dia tahu, dia tidak bisa kehilangan Zuin.


"I love you," bisik Dastin pelan ditelinga Zuin, lalu membelai lembut sang istri.


"Eunghh.." Zuin melenguh panjang seraya mengulat. Menandakan sebentar lagi ia akan terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Gadis itu membuka matanya perlahan. Ia merasa tubuhnya sedang di dekap erat oleh Dastin. Ia mencoba mengumpulkan nyawa dan mencerna apa yang terjadi.


Semalam habis pesta pernikahan mereka, ia langsung ke kamar pengantin dan karena terlalu capek jadinya ia ketiduran tanpa menunggu suaminya.


"Pagi sayang," suara Dastin yang berat terdengar begitu seksi di telinga Zuin. Tapi, gadis itu mengernyitkan keningnya bingung. Kenapa dia tidur tanpa baju? Seingatnya semalam ia pakai piyama. Zuin lalu menyipitkan matanya menatap Dastin.


"Kamu yang buka baju aku kan?" tuduhnya dengan sorot mata tajam. Dasar laki-laki mesum. Tahu-tahu istrinya lagi tidur, malah ambil-ambil kesempatan.


"Kenapa? Aku suamimu. Tidak ada yang bisa melarangku termasuk kamu." ujar Dastin dengan senyum lebarnya. Ia memang melepaskan pakaian Zuin semalam, tapi belum menyentuhnya sama sekali karena tidak mau mengganggu sang istri yang tertidur lelap. Dastin bermaksud akan melakukan hubungan intim dengan istrinya pagi ini. Miliknya sudah gatal karena puasa dua hari ini.


"Tapi kan..."


"Sssttt... Aku mau ini," Zuin mengerang pelan ketika Dastin tiba-tiba membelai inti tubuhnya dengan lembut. Zuin mendorong pelan tangan suaminya yang terus mengusap kewanita*nnya tapi Dastin melemparkan tatapan tidak senang.


"Jangan mengganggu sayang." ucap Dastin memberi peringatan.


"Tapi, ahh..." Zuin mengerang keras ketika satu jari Dastin masuk ke dalam miliknya dan mulai bergerak di sana. Wajah Dastin tampak puas melihat ekspresi wajah Zuin yang menahan nikmat akibat ulahnya.

__ADS_1


"Lihat, kau menikmatinya sekarang." goda Dastin hingga wajah Zuin memerah. Dastin lalu mengeluarkan jarinya dan mengarahkan miliknya yang sudah siap ke inti Zuin. Ia sudah tidak tahan berlama-lama.


"Sekarang langsung ke menu utama." gumam Dastin dan mulai memasuki Zuin. Bunyi suara khas percintaan keduanya begitu jelas memenuhi ruangan itu. Dan Dastin seperti tidak ada capek-capeknya menindih istrinya. Mereka baru selesai sekitar jam sepuluh. Itu pun karena papa Zuin menelpon dan mengingatkan kalau hari ini mereka semua akan jalan-jalan.


__ADS_2