Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
72


__ADS_3

Zuin terus menatapi Dastin yang kini asyik mengunyah makanannya. Ia ingin tahu apa yang dibicarakan Dastin dan ayahnya ditelpon tadi.


"Papa bilang apa?" tanyanya kemudian. Dastin terlihat santai. Tapi Zuin yakin Dastin dan ayahnya membicarakan suatu hal yang serius. Ia tahu Dastin tidak mencoba menutupi darinya, namun pria itu juga tidak bilang apa-apa, hanya terus menikmati makanannya. Padahal Zuin ingin tahu.


Setelah menelan habis makanannya, Dastin menaikkan wajah menatap Zuin. Lelaki itu tersenyum, lalu mencubit pelan pipi Zuin dengan sebelah tangannya.


"Papamu ingin aku mengadakan pertemuan dengan pihak BIN secepatnya. Katanya hasil obat yang ditelitinya sudah keluar dan ia ingin segera melaporkan." sahut Dastin. Zuin yang mendengarnya ikut merasa senang.


"Berarti misi papa akan segera selesai? Apa setelah itu papa sudah bisa pulang?" tanya Zuin antusias. Dengan begitukan dia bisa bertemu sang ayah setiap hari. Dia sudah merindukan pria yang membesarkannya itu. Rindu berdebat, meminta apa saja dan masih banyak lagi. Ia juga bisa kembali ke rumah mereka. Gadis itu terdiam sebentar dan berpikir.


Pulang ke rumah? Zuin mengangkat wajahnya menatap Dastin. Sepertinya ia tidak bisa pulang lagi. Kan statusnya sekarang adalah istri lelaki didepannya ini. Itu berarti dia harus tinggal dengan suaminya. Dastin juga pasti tidak akan setuju mereka tinggal berpisah. Tapi, kalau dia coba bertanya dan minta ijin mungkin saja Dastin akan setuju. Zuin menggeleng-geleng. Ya ampun Zuin, jangan ngawur. Mana mungkin Dastin setuju. ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa, ada yang kamu pikirin?" tanya Dastin heran dengan gerak-gerik sang istri.


Zuin menggeleng cepat sambil tersenyum lebar. Dastin menyipitkan matanya curiga namun ponselnya tiba-tiba berbunyi. Pandangan pria itu berpindah ke hpnya di atas meja. Itu panggilan dari Gean. Pasti ingin dia balik ke markas. Dastin lalu mengangkat panggilan itu, bicara sebentar dengan Gean dan mengakhiri panggilan tersebut kemudian menatap Zuin lagi.


"Aku balik kerja dulu. Jangan lupa, selesai kuliah nanti kamu langsung pulang. Kalau mau ketemu sama teman-teman kamu, beritahu aku. Jaman sekarang di luar sana banyak orang jahat, kamu harus selalu waspada." kata Dastin panjang lebar. Semenjak tinggal dengan Zuin pria itu memang sering khawatir, takut kalau ada orang jahat yang akan menyakitinya. Apalagi banyak kasus kejahatan yang terus terjadi di luar sana. Beberapa kasusnya di selidiki sendiri oleh Dastin, jadi wajar kalau ia khawatir pada Zuin. Apalagi sekarang ayah gadis itu sedang melakukan penelitian yang mungkin berbahaya, harus bersembunyi sebaik mungkin dari musuh. Bahkan profesor Barry sudah menyembunyikan Zuin sebagai putrinya dari orang-orang dari kecil. Artinya, ayahnya tahu ada banyak musuh yang mungkin akan menyakiti Zuin nanti.


Sementara Zuin yang mendengar hanya mengangguk malas . Ia tidak takut sama sekali. Apalagi selama ini kan dia selalu berkeliaran sendirian di luar sana. Sebelum bertemu Dastin. Ia dan Ketty selalu pergi kemanapun mereka suka. Dan selama itu tidak ada yang terjadi. Meski begitu, Zuin mengangguk saja agar Dastin tahu dirinya akan bekerja sama.


"Dengar, aku tidak akan membatasimu melakukan apapun yang kamu suka, aku cuma minta kamu hati-hati dimanapun kamu pergi dan terus mengabariku. Aku tidak mau kehilangan kamu sayang." ucap Dastin lagi sambil mengelus-elus pipi Zuin penuh sayang.


Zuin merasa tersentuh. Mengetahui ada seseorang yang khawatir dan tidak mau kehilangan dia, rasanya begitu senang. Hatinya berbunga-bunga. Gadis itu menyentuh lengan Dastin pelan.

__ADS_1


"Iya, aku janji akan hati-hati." balasnya patuh. Kali ini benar-benar patuh.


"Dan apa?"


"Terus kabarin kamu."


Dastin tersenyum mengacak-acak pelan rambut Zuin.


"Anak manis." ucapnya lalu berdiri dari kursi.


"Ya udah, ini sudah lewat jam makan siang. Aku harus balik kerja." pria itu kemudian mengecup singkat dahi Zuin sebelum meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2