Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
46


__ADS_3

Hari pertama Zuin menyamar menjadi anak sekolah, tidak ada satupun yang dia lakukan yang berjalan sesuai dengan keinginannya. Hari ini, Zuin meyakinkan dengan pasti pada dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu yang berguna. Setidaknya dia harus membuat Dastin tahu kalau gadis sepertinya bisa melakukan sesuatu yang berguna juga.


Apalagi Zuin baru tahu kalau Dastin dan Gean juga akan berada di sekolah itu. Kedua laki-laki itu ikut menyamar sepertinya, tapi bukan sebagai anak sekolah. Untuk kesekian kalinya Dastin memperingatkan Zuin agar tidak berbuat macam-macam karena dirinya bisa memantau gerak-gerik gadis itu. Telinga Zuin sampai panas mendengarnya.


"Liat tuh, anak baru. Cewek belagu yang sok jadi pahlawan kemarin."


"Cih, dipikir dia cantik apa? Baru jadi anak baru aja belagunya selangit."


Zuin berusaha keras menahan diri saat mendengar perkataan-perkataan yang merendahkan dirinya. Zuin tahu itu antek-anteknya Santi, karena sih Santi duduk ditengah-tengah mereka. Tenang Zuin, tenang. Anggap saja mereka hanya seonggok kotoran. Misimu lebih penting. Gumam Zuin dalam hati.


Berbeda dengan para antek-anteknya Santi, murid-murid cowok malah bersiul-siul ketika ia melewati mereka. Bahkan ada yang sengaja memainkan mata kearahnya. Meski tidak suka dengan perlakuan para cowok-cowok itu, Zuin merasa senang karena secara tidak sengaja sikap mereka kepadanya membuat Santi beserta para antek-anteknya tidak senang.


Zuin bahkan mengangkat dagunya tinggi-tinggi pada cewek-cewek tersebut sambil tersenyum menang.


Ketika sampai ke mejanya, pandangannya berpindah ke cewek kemarin yang tengah duduk sambil membenamkan wajahnya ke meja. Dia ketiduran? Zuin terus memandangi gadis itu. Meski hanya rambutnya yang terlihat, karena seluruh wajahnya tertutupi oleh rambut tebalnya.


"Zua." pandangan Zuin berpindah ke Maria yang tiba-tiba datang.


"Kamu udah selesai nyatat belom?" tanya Maria. Zuin tampak berpikir dengan wajah bingung. Selesai nyatat? Mencatat apa? Dirinya sama sekali tidak ingat.

__ADS_1


"Kemaren aku pinjemin buku aku biar kamu bisa salin catatannya. Kamu inget kan? Kalo kamu udah selesai nyatat, aku pengen ambil lagi. Soalnya mau aku pake belajar." ujar Maria panjang lebar. Zuin langsung mengingatnya. Ya ampun, kenapa dia bisa lupa?


Zuin cepat-cepat mengeluarkan buku yang dipinjamkan Maria kepadanya kemarin dan memberikannya pada gadis itu. Dia belum mencatat karena tidak ada gunanya juga baginya buat mencatat pelajaran tersebut. Maria mengambil buku miliknya dari tangan Zuin lalu melirik gadis yang sedang masih tidur-tiduran di sebelah Zuin itu sebentar, berdecak malas sambil menggeleng-geleng kepala, kemudian berjalan kembali kebangkunya.


Sesaat kemudian seorang guru perempuan masuk. Kelas yang tadinya riuh berubah tenang. Siswa-siswi yang sibuk dengan obrolan mereka kembali ke bangku masing-masing. Dan gadis di sebelah Zuin itu mengangkat kepalanya dari meja, memilih duduk dengan tegak.


Zuin mencuri-curi pandang pada gadis itu sesekali. Ketika gadis itu menyadari tengah diperhatikan, ia menoleh ke Zuin. Ekspresinya datar dan tampak dingin. Tapi entah kenapa Zuin merasa senang-senang saja duduk bersebelahan dengannya. Ia berharap bisa menjalin hubungan baik dengan siswi yang belum ia ketahui namanya itu. Dengan begitu, dirinya akan makin gampang mendapatkan informasi yang dia cari.


"H..hai," sapa Zuin ramah. Dirinya harus terlihat seperti gadis baik-baik kalau mau berteman dengan siswi tersebut.


Siswi itu diam saja. Malah terkesan cuek. Tapi bukan Zuin kalau tidak punya banyak ide.


"Aku Zua. Kamu?" kata Zuin mengajak  berkenalan sambil mengulurkan tangannya kedepan dengan senyum lebarnya. Namun sebelum gadis itu merespon ajakan kenalan Zuin, suara lantang guru paruh baya didepan sana menghentikannya.


"Kalian berdua diam dan fokus didepan sini kalau tidak mau di hukum!" perintah guri perempuan itu dengan suara tegasnya. Zuin tertunduk seketika. Ia memutuskan diam dulu. Kan tidak lucu dirinya mendapat masalah lagi. Meski begitu, dirinya sama sekali tidak merasa rugi. Karena dirinya sudah tahu nama siswi disebelahnya tersebut. Ternyata namanya Dian.


Ketika Zuin memilih diam, siswi bernama Dian itu menulis sesuatu di bukunya kemudian menggeser buku tersebut ke arahnya. Alis Zuin terangkat. Ia menatap Dian sebentar, kemudian membaca isi catatan yang di tulis oleh gadis itu.


Mata Zuin sukses membulat sempurna. Dalam catatan tersebut Dian mengatakan dia tahu tentang penyamaran Zuin. Dia juga kenal siapa Dastin dan Gean, tentu saja tentang pekerjaan mereka yang sebenarnya juga.

__ADS_1


D..Dian.. siapa sebenarnya gadis itu? Kenapa dia bisa tahu? Apa dia tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka dengan kepala sekolah? Terus, bagaimana gadis itu bisa kenal Dastin dan Gean.Zuin kembali menatap gadis itu, tapi Dian sama sekali tidak meliriknya. Gadis itu pun terlihat sangat tenang.


Zuin menaut-nautkan jemarinya sambil berpikir keras. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apa Dian akan membocorkan penyamaran mereka? Tidak, tidak. Ia harus bertemu Dastin sekarang juga. Otaknya buntu. Ia butuh pria itu buat menyusun rencana baru.


"Bu." seru Zuin sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Guru paruh baya didepan sana menoleh.


"Ada apa?"


"A..aku mau ijin ke toilet." kata Zuin. Guru itu mendecakkan lidah.


"Ya sudah sana, cepet." kata perempuan tua itu akhirnya. Zuin cepat-cepat bangkit keluar dari kelas.


Di luar, gadis itu cepat-cepat mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelpon Dastin.


Sial. Tidak diangkat. Dastin tidak mengangkat telponnya. Gadis itu menelpon lagi sambil bergerak mondar-mandir seperti cacing kepanasan. Ketika ia memandang lurus kedepan, ia seperti melihat sosok Dastin berjalan membelakanginya. Zuin menatap ke kiri-kanan. Koridor, lapangan, taman sekolah dan semua tempat yang lain masih sepi, karena sekarang jam pelajaran masih berlangsung. Tanpa pikir panjang Zuin berlari mengejar Dastin.


"Dastin, Dastin." ia berteriak kecil memanggil nama Dastin namun pria itu sama sekali tidak mendengarnya. Dastin terus berjalan lurus kedepan. Lelaki itu baru terhenti ketika Zuin meraih meraih lengannya.


Awalnya Dastin kaget dan sudah siap-siap untuk memarahi siapapun orang yang berani membuatnya kaget dan mengganggunya. Tapi, ketika dilihatnya ternyata gadis tersebut adalah Zuin, pria itu tidak jadi melampiaskan emosinya.

__ADS_1


Dastin bisa melihat raut khawatir di wajah Zuin. Kenapa dengan gadis itu?


"Ikut aku. Ada hal penting yang ingin aku laporkan." kening Dastin berkerut. Belum sempat ia buka suara, Zuin sudah menariknya. Dan lebih parahnya lagi, Zuin malah membawanya masuk ke toilet wanita. Astaga! Apa-apaan ini?


__ADS_2