Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
40


__ADS_3

Setelah berbagai cara di lakukan Zuin untuk membujuk Dastin, lelaki itu akhirnya setuju meski masih setengah hati. Dastin setuju dengan catatan, Zuin harus mengikuti semua yang pria itu bilang. Tidak boleh bergerak sendiri dan patuh pada perintahnya. Zuin memang mengangguk setuju ketika mendengar syarat dari Dastin, tapi bukan berarti Dastin percaya sepenuhnya pada gadis itu. Dastin tahu sekali Zuin punya banyak sekali akal. Dia benar-benar tidak boleh membiarkan gadis itu melakukan semaunya yang nantinya akan merugikan dirinya sendiri.


Siang ini, di vila tersebut hanya ada Zuin dan Dastin. Yang lainnya sudah pergi. Dastin memilih tinggal dengan Zuin hari ini, karena di antara yang lain, memang pria itu yang paling dekat dengan Zuin dan satu-satunya yang bisa mengatur gadis itu. Jadi untuk urusan segala persiapan Zuin buat menyamar, dan hal-hal kecil lainnya, Dastin yang akan mendampinginya. Anggota timnya yang lain pergi mengurus pekerjaan mereka yang sempat tertunda kemarin. Hanya Gean yang diberi perintah oleh Dastin untuk ikut serta membantu kasus bunuh diri seorang remaja di sungai kemarin dengan polisi di daerah tersebut.


"Jadi, kapan aku mulai bersekolah?" tanya Zuin yang duduk di sebelah Dastin. Gadis itu melirik Dastin yang tengah sibuk didepan laptopnya. Pria itu sedang serius mempelajari kasus penyelidikan mereka. Ada banyak gambar juga beberapa video yang berhasil di ambil oleh Gilang dan Ayyara secara diam-diam, dan sekarang Dastin tengah mengamatinya dengan saksama. Sebelum dirinya fokus pada penyamaran Zuin.


"Jangan menggangguku dulu." kata Dastin cuek. Matanya terus fokus didepan laptop. Dulu dia paling benci kalau ada yang mengganggunya saat dirinya sedang fokus kerja. Tapi mengingat gadis yang mengganggunya sekarang adalah Zuin, Dastin tidak bisa marah, hanya menyuruhnya diam saja.


"Cih." Zuin berdecih. Tangannya terlipat di dada, dengan wajah dongkolnya. Dasar pria menyebalkan. Memangnya dia sangat menganggu apa? Bukannya Dastin seharusnya senang karena dirinya mau membantu dengan sepenuh hati, tapi yang dilihatnya sekarang, lelaki itu malah tidak terlihat senang pada dirinya yang mengajukan bantuan, meski ia berhasil membujuk pria itu. Buktinya sejak tadi Dastin tidak pernah bicara padanya. Tahu begini dia sudah ikut dengan Sari dan Rivo. Ia dengar mereka berdua mau pergi ke lokasi kejadian pembunuhan saat mereka berbincang tadi. Berada berdua saja dengan pria kutub menyebalkan seperti Dastin ini membuatnya bosan.


"Mau kemana?"


Dastin mengalihkan pandangannya ke Zuin ketika menyadari gadis itu berdiri, hendak meninggalkan tempat itu. Tentu saja pria itu tidak benar-benar mengacuhkan Zuin sejak tadi. Ia hanya terlalu fokus berpikir apa saja yang harus ia persiapkan sebelum Zuin menjalankan tugasnya.

__ADS_1


Zuin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Dastin. Sorot matanya tajam.


"Bukannya tadi kau bilang jangan mengganggumu? Aku mau ke kamar saja! Fokus saja pada pekerjaan pentingmu itu!" ketus gadis itu masih kesal. Lebih baik dia menonton saja daripada duduk disebelah laki-laki yang sejak tadi tidak mempedulikannya tersebut.


"Di sini saja. Setelah ini aku akan membawamu ke suatu tempat." kata Dastin lalu mematikan laptopnya. Zuin memicingkan matanya. Awas saja kalau laki-laki itu berbohong. Ia melangkah dan berhenti didepan Dastin sambil bersedekap dada.


"Kau tidak sedang membohongiku kan? Kalau sampai kau kedapatan dengan sengaja mau membodohiku, lihat saja aku akan... Ahh..."


Dengan sekali sentakan, Dastin berhasil menarik Zuin hingga terduduk di pangkuan pria itu. Ia merasa gemas karena dari tadi gadis itu tidak berhenti-berhenti mengomel. Sejak dirinya sibuk berkutat didepan laptop. Kalau itu Ayyara atau wanita lain, Dastin mungkin sudah merasa risih dan terganggu. Bahkan mengusir mereka dari hadapannya. Tapi ini Zuin, gadis yang berhasil merebut hatinya. Perempuan paling spesial. Bagaimana dia bisa mengusirnya coba, alih-alih kesal, Dastin malah lebih senang menggodanya.


"Das..tin..lep..asin. Bagaimana kalau ada yang memergoki kita?" Zuin terus berusaha melepaskan diri dari Dastin. Ia merasa tidak enak kalau tiba-tiba ada yang datang dan melihat posisi keduanya yang tampak intim itu, orang-orang bisa beranggapan lain. Padahal mereka tidak sedang berbuat apa-apa. Zuin tahu Dastin sengaja mau bermain-main dengannya, mau menggodanya. Tapi ini siang hari, dan mereka berada di ruang tamu. Bagaimana kalau bi Surma tiba-tiba datang dan memergoki mereka? Atau teman-teman pria itu tiba-tiba pulang.


Tunggu, Zuin berpikir sebentar. Sepertinya ada yang salah dengan pikirannya. Siang hari? Memangnya kalau Dastin menggodanya seperti ini di malam hari dia akan senang? Astaga Zuin! Kau sudah gila. Benar-benar gila. Pandangannya kembali lurus ke depan. Ia melihat ekspresi Dastin yang tersenyum mesum padanya. Ya ampun, kenapa dia harus bertemu dengan laki-laki ini sih. Dia bahkan tidak mampu menatap lama-lama pemilik wajah tampan itu.

__ADS_1


"Kau takut ada yang memergoki kita? Memangnya kita sedang melakukan apa?" goda Dastin lagi. Masih ingin berlama-lama bermain-main dengan gadis itu. Zuin menelan salivanya. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak berpikir dulu sebelum berbicara tadi. Jadinya salah bicarakan. Perkataannya malah membuat Dastin makin gencar menggodanya.


"M..maksudku, yang lain bisa salah paham kalau melihat posisi kita seperti ini. Aku mau turun." Zuin kembali berusaha melepaskan dirinya, namun lagi-lagi, Dastin tidak membiarkannya turun.


"Biarkan saja mereka salah paham," Dastin memajukan wajahnya ke telinga Zuin.


"Memangnya kau tidak ingat? Kita berdua sudah melakukan yang lebih jauh dari ini semalam." kali ini pria itu berbisik serak ditelinga Zuin, bahkan bibirnya menempel singkat di daun telinga gadis itu, menggodanya habis-habisan hingga membuat Zuin merinding. Bukan karena takut, entahlah. Zuin tidak bisa mengatakan bagaimana perasaannya sekarang. Hubungannya dan Dastin sekarang ini seperti apa, ia tidak bisa menjelaskan. Mereka jelas bukan sepasang kekasih, namun tindakan mereka yang bukan pasangan kekasih sudah jauh melebihi batas menurutnya.


Tunggu, Zuin kembali fokus dengan perkataan Dastin tadi. Apa katanya?


Mereka berdua yang melakukannya? Seingatnya semalam hanya Dastin yang menciumnya. Dia tidak membalas sama sekali. Meski tidak bisa dipungkirinya kalau dirinya sedikit menikmati ciuman tersebut. Zuin berusaha bersikap biasa dan sengaja memasang tampang galaknya. Ia tidak boleh dipermainkan terus seperti ini oleh pria itu.


"Kalau kau terus menggodaku seperti ini, aku akan melapor pada papaku apa yang sudah kau lakukan padaku." ancam gadis itu. Sayangnya Dastin sama sekali tidak takut. Zuin tidak tahu saja ayah gadis itu sengaja menyuruh dirinya menjaga Zuin karena memang ada maksud lain juga.

__ADS_1


Waktu itu Dastin memang tidak tahu. Tapi setelah beberapa kali bicara dengan Barry, barulah lelaki itu menyampaikan niatnya. Awalnya Dastin memang masih ragu. Tapi semakin mengenal Zuin, keraguannya perlahan memudar. Ia menyetujui permintaan ayah Zuin. Itu sebabnya lelaki itu tidak tanggung-tanggung mencium Zuin waktu itu.


"Laporkan saja. Aku malah ingin tahu bagaimana tanggapan papamu." kata Dastin percaya diri. Zuin melotot lebar padanya. Dastin benar-benar sudah gila. Sampai kapan sih dia mau main-main seperti ini? Kan tadi pria itu sendiri yang bilang mau membawanya ke suatu tempat. Apa dia sudah lupa?


__ADS_2