Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
86


__ADS_3

Suasana di kampus tampak ramai. Ada sekumpulan mahasiswa yang berkumpul didepan jurusan fashion Design. Jurusan yang biasanya tenang itu hari ini terlihat ramai sekali. Namun bagi Zuin itu tidak penting. Gadis itu terus mempercepat langkahnya menuju depan kampus, mengingat mamanya Dastin sedang menunggu. Namun ketika melewati keramaian itu, ada yang tiba-tiba memanggilnya. Membuat langkahnya dan Ketty sama-sama terhenti. Juga ke empat pengawal yang mengikuti mereka dari belakang.


"Zuin!"


Zuin menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah panggilan. Sekelompok mahasiswa yang berkerumun didepan sana ikut menatap kearahnya hingga Zuin merasa risih tapi terus bersikap biasa saja. Ia lebih ke ingin tahu siapa yang memanggilnya.


Kemudian seorang wanita cantik yang sudah berumur keluar dari balik kerumunan tersebut sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangan dengan anggun ke Zuin. Beberapa mahasiswa yang dia lewati tampak membungkuk hormat padanya.


Itu mamanya Dastin, tante Rika. Eh, salah. Harusnya Zuin memanggilnya mama. Dia dan kan sudah menikah. Resepsinya yang masih tertunda. Kenapa mama Rika muncul dari aulanya jurusan Fashion Design? Zuin merasa bingung.


"Mama udah nunggu kamu dari tadi sayang." ucap Rika saat menghentikan langkahnya didepan gadis itu. Wanita tua itu tersenyum lalu menggapai tangan Zuin, seperti keduanya sudah sangat akrab sangat lama. Padahal ini baru kedua kali keduanya bertemu. Ketty di sebelahnya merasa takjub. Ia tahu wanita itu. Mamanya Dastin itu adalah salah satu penyumbang terbesar di kampus mereka dan juga merupakan salah satu desainer yang sering memberikan seminar-seminar di kampus-kampus. Padahal ia selalu sibuk dengan urusan-urusan di butiknya tapi masih sering mengambil permintaan tersebut ketika di minta pihak kampus. Ketty kenal karena wanita itu adalah idola mamanya. Mamanya sering sekali datang di butiknya Rika untuk sekedar membeli pakaian rancangan wanita itu. Dengar-dengar suami wanita itu juga memiliki perusahaan besar. Ahh, Zuin benar-benar beruntung.


"Mm, ma.. mama kenapa di sini?" tanya Zuin. Ia belum terbiasa dengan sebutan itu, namun berusaha untuk jadi terbiasa. Rika sendiri tersenyum.


"Kebetulan mama datang kasih seminar sebentar. Terus mama ingat Dastin pernah bilang kamu kuliah di kampus ini. Sekalian aja mama ajak kamu makan siang. Kamu mau kan?" kata Rika. Matanya melihat Zuin penuh harap. Zuin melirik Ketty sebentar. Harusnya sih bisa karena kebetulan sekarang memang sudah jam makan siang.


"Boleh, tapi sama teman aku yah ma." ucap Zuin. Rika melirik Ketty sebentar kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Ya udah, yuk."


ketiga wanita itu makan di sebuah restoran dekat kampus.


"Pokoknya nanti resepsi kalian harus meriah. Mama udah nunggu banget, nggak sabar ngasih tahu orang-orang kalo mama punya mantu secantik kamu sayang." sejak tadi Rika berbicara dengan begitu antusias. Bahkan ia sering mengomeli Dastin karena terlalu sibuk bekerja sehingga waktunya menemani Zuin malah berkurang.


"Nanti mama bilang ke Dastin. Dia harus ambil cuti. Kalau perlu cuti sebulan sekalian agar kalian bisa pergi bulan madu sambil bikin cucu buat mama. Harusnya sebulan cukup sih sampai mama dapat cucu. Tapi... Tiap malam kalian tetap usahakan?" Zuin hampir tersedak mendengarnya. Untung dia bisa menahannya. Ya ampun, kenapa mertuanya ini terus bahas-bahas cucu sih. Ujung-ujungnya kan pertanyaan itu bikin Zuin malu. Lihat, Ketty menertawainya sekarang.


"Mama kapan sampai?" tanya Zuin berusaha mengganti topik. Setahunya mama dan papa Dastin itu beberapa waktu lalu berangkat keluar negeri.


"Dua hari yang lalu. Mama bawain kamu hadiah tapi ada di rumah. Tunggu Dastin sama kamu datang ke rumah aja baru di kasih ya." sahut Rika. Zuin bersorak senang. Ia suka yang namanya hadiah.


"Ketty tante." sahut Ketty dengan senyuman ramah. Rika ikut tersenyum.


"Nama yang cantik secantik orangnya. Ayo Ketty makan yang banyak. Zuin juga."


Zuin dan Ketty sama-sama mengangguk. Tak butuh waktu lama bagi mereka bertiga untuk menjadi akrab. Apalagi mamanya Dastin ternyata heboh banget. Bahkan beberapa rahasia Dastin ia bocorkan ke Zuin.

__ADS_1


"Zuin, kebetulan sekali."


di tengah-tengah obrolan asik mereka, seseorang tiba-tiba datang menyapa. Ketiga wanita itu sama-sama menoleh. Detik itu juga perubahan drastis terlihat di wajah Ketty.


"Kyle?" ucap Zuin. Kyle tersenyum. Ia menatap Ketty sekilas namun langsung fokus lagi ke Zuin.


Zuin sendiri tiba-tiba mengingat seseorang yang muncul dalam mimpinya semalam. Wajahnya memang sangat mirip dengan Kyle tapi dalam mimpi tersebut namanya berbeda. Zuin meringis. Kenapa pembunuh dalam mimpinya harus mirip Kyle sih. Kan perasaannya jadi tidak enak. Gadis itu berusaha menghilangkan perasaan buruknya. Itu hanya mimpi Zuin. Kyle tidak mungkin membunuh papanya. Mereka kan bersahabat.


"Zuin, kalian ngobrol aja yah. Mama pamit duluan harus ketemu klien di butik." kata Rika. Ia sebenarnya penasaran siapa laki-laki yang menyapa Zuin, namun wanita paruh baya itu tidak enak bertanya langsung. Ia akan bertanya nanti ketika hanya berdua dengan Zuin saja. Rika sempat melihat cara pandang pria itu yang cukup berbeda ke Zuin. Dari pengalamannya, dia tahu arti tatapan itu. Untung saja Zuin sudah menikah dengan putranya. Tapi ia harus bilang ke Dastin untuk menjaga Zuin dengan baik. Jangan sampai ada laki-laki lain yang mencoba-coba merusak hubungan mereka. Ia sudah terlanjur menyukai Zuin sebagai menantunya soalnya. Ia bisa tahu Zuin gadis yang baik sejak pertama kali melihatnya. Apalagi Dastin pun keliatan sangat mencintai gadis itu. Pokoknya tidak ada yang boleh merusak pernikahan mereka.


"Aku anterin sampai depan ya ma." ucap Zuin ikut berdiri dari kursi.


"Ket, aku anterin mama bentar ya." katanya lalu meninggalkan Ketty dan Kyle berdua. Jelaslah langsung terjadi kecanggungan di antara kedua orang itu. Ketty tidak tahu mau ngomong apa, sementara Kyle sendiri pun bingung mau bicara apa. Hampir sebulan mereka tidak bertemu. Dan tiba-tiba dirinya merasa canggung. Apa ini?


Kyle tidak mengerti. Biasanya ia tidak pernah merasa canggung saat bertemu dengan para wanita. Ini pertama kalinya ia merasakan hal itu. Apa karena masalahnya dengan Ketty? Tapi ia memang melihat Ketty tampak berbeda. Seperti tidak senang melihatnya. Apa sekarang wanita itu membencinya?


"Bagaimana kabarmu?" akhirnya Kyle membuka suara. Tak ada jawaban. Ketty bahkan tidak melihatnya sedikitpun lalu berdiri dan langsung pergi begitu saja meninggalkan pria itu. Tanpa sepatah katapun.

__ADS_1


Kyle tertegun. Ketty memang membencinya sekarang. Entah kenapa Kyle merasa ada yang aneh dengan hatinya. Seperti... Kecewa? Ia kecewa karena Ketty meninggalkannya begitu saja? Tidak, tidak mungkin.


__ADS_2