Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
97


__ADS_3

"Bagaimana, dia baik-baik saja kan? Apa dia menanyakan tentangku? Baiklah, aku akan menghubungimu lagi."


Dastin lalu mengakhiri pembicaraannya di telpon. Ia baru saja selesai menelpon Nevan untuk menanyakan bagaimana perjalanan mereka, juga ingin tahu keadaan sang istri pastinya. Baru sehari tidak bertemu saja ia sudah kangen. Dastin cukup kesal karena kata Nevan Zuin belum pernah bicara tentangnya. Bahkan menyebut namanya saja tidak. Gadis itu benar-benar. Minta di hukum lagi rupanya.


Pandangan pria itu beralih ke bawah sana. Keluar jendela kaca. Menatap ke orang-orang banyak yang berlalu lalang di bawah sana dari kamar hotelnya. Suasana kota di malam hari begitu ramai, namun akan lebih ramai lagi kalau gadis yang ia cintai ada disampingnya. Dengan begitu mereka bisa menikmati pemandangan indah bersama. Sayangnya Dastin harus menahan diri sampai semua rencananya terlaksana.


Tahan Dastin, tahan. Tinggal sehari lagi. Gumamnya dalam hati.


Tok tok tok


Pria itu berbalik saat mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Siapa yang datang malam-malam begini? Ketika ia membuka pintu, ia melihat Ayyara sudah berdiri didepan pintu kamarnya dengan penampilan yang bisa dibilang... Waw?


Dastin tampak kaget dengan penampilan wanita itu hari ini. Wanita itu mabuk? Tidak biasanya seorang Ayyara yang begitu tertutup dan selalu berpenampilan sopan, malam ini malah mengenakan pakaian terbuka seperti itu. Sangat terbuka. Bahkan dengan tubuh jangkung Dastin, pria itu bisa melihat dengan jelas belahan dadanya sampai...


Dastin tidak bodoh. Ia tahu Ayyara sudah lama menyukainya tapi pria itu terus menghindarinya, tidak memberi wanita itu kesempatan sedikitpun. Karena dia tidak ada rasa sama sekali pada wanita itu. Entah apa yang Ayyara rencanakan dengan berpenampilan seperti malam ini.


"Dastin, kau ada waktu sebentar? Ada yang ingin ku katakan." ucap Ayyara. Dastin tampak malas. Ia tidak suka bicara dengan perempuan yang setengah telanjang begini. Kecuali Zuin tentu saja. Kalau istrinya yang bicara dengannya, dalam keadaan telanjang pun tidak akan dia tolak. Malah menerima dengan sepenuh hati. Itu pasti. Karena Zuin adalah perempuan yang dia cintai.


Ayyara berusaha menghilangkan rasa malunya dan makin mendekat karena Dastin tidak menjawabnya. Tentu saja pria itu refleks mundur. Tidak memberi kesempatan Ayyara untuk berada dalam jarak yang sangat dekat dengannya. Takutnya orang yang melihat akan salah paham.

__ADS_1


"Katakan di sini. Aku tidak bisa mengajakmu masuk ke dalam." kata Dastin datar. Ayyara yang merasakan penolakan Dastin berusaha tersenyum. Apakah penampilannya malam ini tidak membuat pria itu tertarik? Bukankah semua laki-laki suka menyentuh tubuh wanita? Ayyara yakin dia cukup cantik dan tubuhnya yang sexy mampu membuat banyak pria ingin menyetubuhinya. Mungkin pakaiannya saja yang kurang terbuka. Dan walau Dastin adalah tipikal pria yang dingin dan cuek, tidak mungkin pria itu tidak akan tergoda pada tubuh moleknya.


Pokoknya Ayyara tidak akan tinggal diam. Sejak siang tadi ia sudah merencanakan mendapatkan Dastin malam ini. Jadi ia harus berusaha keras. Lalu tanpa permisi wanita itu masuk ke dalam kamar itu dan dengan sengaja menurunkan dress bagian atasnya hingga *********** yang berisi terpampang jelas di mata Dastin.


Sialan. Bukan tergoda. Dastin tampak marah. Ayyara benar-benar kelewatan. Pria itu langsung memalingkan wajah ke arah lain, tidak sudi melihat bagian yang sengaja ditunjukkan Ayyara padanya. Walau melihat ia tidak akan tergoda sama sekali.


"Apa yang kau lakukan Ayyara!" kata pria itu dengan nada penuh tekanan. Sementara Ayyara malah tersenyum, tidak merasa malu sama sekali.


"Aku menyukaimu. Aku rela melakukan apa saja untuk mendapatkan hatimu Dastin. Kau mau apa? Tubuhku? Aku akan memberikannya sekarang." karena sudah seperti ini, Ayyara tidak akan membuang-buang waktu lagi.


Dastin memicingkan mata. Kali ini ia kembali melirik Ayyara, menatap wajah perempuan tersebut. Wanita murahan. Ia masih tidak menyangka Ayyara akan berbuat senekat ini. Kecuali kalau itu memang sudah menjadi kebiasaannya. Mendapatkan pria dengan cara murahan seperti ini.


"Pakai bajumu dan keluar dari sini sekarang juga." ucap Dastin dingin, tapi masih berusaha masih menahan diri.


Hufft..Dastin berkacak pinggang kemudian membuang nafas kesal. Waktunya yang berharga jadi habis karena wanita ini.


"Dengar, kau dan aku tidak mungkin bersama. Aku mencintai gadis lain.  Bagiku sendiri kau hanya rekan kerja dan seorang teman. Jadi aku mohon, pergilah dari sini. Jangan memancing kesabaranku dengan cara murahanmu itu." kali ini suara Dastin lebih tegas lagi. Ayyara menggeleng. Ia tidak terima. Dastin harus menjadi miliknya. Wanita itu maju mencoba meraih tubuh Dastin namun pria itu dengan cepat mendorongnya.


"Keluar dari sini sekarang juga, Ayyara!" tukas Dastin tidak tahan lagi.

__ADS_1


"Aku menyukaimu apa itu salah?!" teriak Ayyara frustasi. Dastin membuang nafas kesal. Tidak ada yang salah memang, itu hak wanita itu memiliki perasaan untuknya. Tapi caranya benar-benar salah. Bagaimana tidak salah coba kalau datang-datang dengan cara seperti menjual diri begitu. Dastin bahkan jijik pada wanita itu.


"Baiklah kalau kau tidak ingin keluar, aku saja yang pergi." kata Dastin kemudian, berusaha menahan dirinya agar tidak terpancing emosi. Ia masih menghargai Ayyara sebagai seorang wanita. Lalu pria itu meraih jas dan dompetnya di atas meja sofa dan segera keluar. Ayyara yang melihat pria itu hampir mencapai pintu cepat-cepat merapikan pakaiannya dan mengejar Dastin.


"Dastin jangan pergi, aku mohon.. Dastin!"


Ayyara terus berteriak mengejar Dastin sampai orang-orang yang berjalan di sekitar situ menatapnya heran. Namun lelaki yang dikejarnya telah menghilang dalam lift.


                                    ***


Dastin memilih menginap di kamar Gean malam ini. Besok baru mengganti kamar. Pria itu butuh seseorang untuk bicara dan dia hanya percaya pada Gean. Sahabat yang dari dulu berbagi rahasia dengannya.


"Dia sampai berbuat nekat begitu?" Gean masih tidak percaya dengan cerita Dastin. Ia tahu Ayyara memang menyukai Dastin dari lama. Tapi, mengenai wanita itu yang sampai berbuat nekat demi mendapatkan Dastin cukup mencengangkan.


Dastin mendengus keras. Ia masih tampak kesal mengingat kejadian tadi. Entah sudah berapa gelas air putih yang dia minum malam ini untuk menetralkan suasana hatinya. Sungguh tidak menyenangkan rasanya menghadapi wanita sinting seperti Ayyara. Ia sudah jijik.


"Kau baik-baik saja kan?" tanya Gean mengamati Dastin yang masih terlihat emosi. Dastin mengangguk.


"Bagaimana dengan rencanamu nanti?" Gean bertanya lagi mencoba mengalihkan pembicaraan agar Dastin tidak terus-terusan emosi gara-gara Ayyara.

__ADS_1


Dan benar saja, sepertinya masalah apapun yang di alami Dastin, pria itu akan cepat lupa kalau mengubah topik ke Zuin. Dastin kini terlihat lebih ceria saat mereka membahas tentang Zuin.


"Aku sudah mengurus semuanya." ujar Dastin. Senyum di wajahnya kembali tampak ketika mengingat sang istri.


__ADS_2