
Dastin mulai memasuki aula dan berhenti didepan tempat khusus yang sudah disiapkan buat dia dan pasangannya berdiri nanti. Kedua orang tuanya beserta para tamu yang ada berdiri menyambut sang pengantin pria.
Suara potret kamera mulai terdengar. Dastin menyewa salah satu vendor kenalannya untuk mengabadikan momen kebahagiaannya tersebut. Ia juga memilih menikahi Zuin di negara ini secara tertutup dan hanya dihadiri kerabat dekat, agar tidak ada media yang datang dan menimbulkan kebisingan. Dastin tahu baik dari pihak keluarganya dan keluarga Zuin sendiri adalah orang-orang yang cukup berpengaruh untuk menarik perhatian media. Jadi menurutnya sudah benar menikah di tempat ini.
"Selanjutnya, kita sambut mempelai wanita kita..."
Zuin melangkah masuk dengan langkah pelan, bersama papanya yang mendampingi di sebelahnya. Gadis itu tampak sangat cantik dalam balutan gaun pengantin yang indah dengan veil pada bagian atas kepalanya.
Sejumlah pasang mata yang hadir terpukau akan penampilan Zuin. Kesan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya dari seorang Zuin yang biasanya suka mengacau, malam ini tampak begitu anggun. Di antara semua tamu, hanya Ayyara yang tidak berdiri bahkan tersenyum sedikitpun. Sebelumnya ia sudah sangat senang karena tahu gadis itu tidak ikut liburan bersama mereka, tapi ia sama sekali tidak menyangka malam ini ia akan dikejutkan dengan pernikahan Dastin yang tiba-tiba ini, dengan gadis yang ia benci itu. Ayyara mau menangis rasanya namun berusaha menahan diri. Yang paling ia benci adalah, semua rekan kerjanya malah terlihat sangat bahagia dan ikut mendukung. Sialan.
Zuin sendiri menarik napasnya. Lehernya sudah terasa kaku, karena ingin melirik sekitarnya. Ternyata tidak segugup yang ia bayangkan tadi. Setelah mencapai Dastin, papanya memberikan tangannya pada suaminya. Dastin meraihnya dengan senyuman lebar penuh kebahagiaan lalu keduanya menghadap depan.
Pernikahan mereka luar biasa mewah dan sangat indah. Cincin berlian yang tersemat di jari manis Zuin sekarang pasti adalah cincin impian banyak wanita. Kini mereka benar-benar adalah suami istri yang sah didepan orang-orang, bukan hanya keluarga atau sahabat dekat. Dan Dastin merasa sangat puas, begitu pun dengan Zuin.
Kondisi pesta pernikahan mereka yang mendadak memang awalnya membuat Zuin kesal, tapi sekarang tidak lagi. Gadis itu menatap ke arah tempat papa dan mertuanya berdiri, wajah mereka tampak begitu bahagia.
Ada juga Ketty yang duduk semeja dengan kak Nevan dan Nako. Dan... Timnya Dastin juga ada. Berdiri di meja bagian tengah. Tapi gadis itu sama sekali tidak memperhatikan wajah merah padam Ayyara yang menahan emosi dan tangis.
Di penghujung acara, tamu-tamu yang hendak pulang bergantian memberikan mereka ucapan selamat.
"Astaga Dastin, Zuin. Aku sama sekali tidak menyangka yang menikah adalah kalian berdua!" seru Sari menyelamati Zuin dan Dastin bergantian. Ia turut senang melihat pasangan itu yang kini menjadi pasangan suami-istri. Di mata Sari mereka tentu sangat serasi.
"Istrimu sangat cantik." bisik Gilang ditelinga Dastin. Dastin tersenyum dengan bangga. Benar, istrinya memang cantik. Senyuman diwajah pria itu perlahan memudar saat tatapannya bertemu dengan tatapan Ayyara. Ingatan kejadian semalam kembali menghampirinya.
__ADS_1
"Da..Dastin... S...selamat yah." ucap wanita itu terkesan terlalu memaksa.
"Terimakasih." balas Dastin bersikap biasa saja. Tapi hatinya tentu saja sudah mencap buruk wanita semacam Ayyara ini. Dastin hanya menatapnya sekilas lalu menatap ke arah lain. Terlalu malas menatap Ayyara tentu saja.
Pandangan Ayyara berpindah ke Zuin yang juga sedang menatapnya dengan senyum kemenangan. Ingin sekali Ayyara menjambak rambut perempuan sialan itu tapi ditahannya. Ia langsung berbalik pergi tanpa memberi selamat sama sekali kepada Zuin. Sarilah yang merasa tidak enak dengan kelakuan Ayyara.
"Kenapa dengan sikapnya itu?" ucap Ketty tidak suka dengan cara Ayyara memperlakukan Zuin. Mereka masih setia duduk di meja mereka. Sayangnya Nako dan Nevan tidak mengerti apa maksudnya karena tidak sempat memperhatikan.
"Malam ini pasti lebih hot dari malam pertama kan." giliran Gean yang berbisik pelan pada Dastin dan Zuin dengan nada menggoda. Zuin langsung memerah, berbeda dengan Dastin yang tersenyum merasa tertantang. Dasar laki-laki. Celetuk Zuin dalam hati.
***
Zuin memasuki kamar pengantin yang sudah didekorasi dengan mewah oleh dekorator terkenal. Setelah berganti pakaian dengan gaun tidur warna putih miliknya, Zuin duduk di atas ranjang. Dastin belum masuk daritadi karena masih berbincang dengan orangtuanya dan beberapa tamu di luar.
Dastin melangkah mendekat dan duduk di tepi ranjang sambil mengamati istri cantiknya. Tangannya mengusap-usap lembut pipi Zuin lalu mengecup bibir gadis itu singkat, kecupan yang tulus dan penuh kasih. Ia sendiri sudah sangat lelah seharian ini. Tapi semua kelelahan seakan hilang begitu saja ketika melihat wajah tidur Zuin yang begitu damai.
"Padahal mau main empat ronde malam ini." gumamnya sambil terus menatap Zuin. Gadis itu pasti sangat kelelahan juga, makanya tidurnya sangat pulas.
Dastin kemudian berdiri. Ia harus mandi agar badannya terasa lebih segar.
Sementara itu dikamarnya, Ayyara tidak bisa lagi menahan emosi. Wanita itu meluapkan emosinya dengan membanting apa saja yang ada di kamar tersebut. Bahkan ia membanting barang-barang milik hotel.
__ADS_1
"Zuin, Zuin, Zuin!" teriaknya dengan emosi yang meluap-luap. Terakhir yang ia banting adalah sebuah gelas yang tersisa di atas meja.
"Berani-beraninya kau merebut milikku." katanya lagi dengan rahang mengeras. Wanita itu mengepal tangannya kuat-kuat. Pokoknya ia harus memikirkan cara untuk memisahkan mereka. Dastin harus jadi miliknya. Bagaimana pun caranya dia harus membuat Dastin menjadi miliknya. Ia tidak terima pria yang dia cintai menghabiskan sisa hidupnya dengan perempuan tidak berguna semacam Zuin.
"Lihat saja nanti, aku akan membuat Dastin tahu kalau dia salah memilih wanita." ucap Ayyara pada dirinya sendiri lalu tersenyum jahat.
Tok tok tok!
"Ayyara, kau di dalam?" itu suara Sari. Ayyara juga kesal pada wanita itu karena mendukung hubungan Dastin dan Zuin. Padahal Sari jelas-jelas tahu dia menyukai Dastin. Harusnya sebagai sahabat, wanita itu mendukungnya. Bukan malah memberi selamat pada Zuin dan Dastin dengan senyuman lebar yang merekah di wajahnya.
Dengan langkah malas Ayyara melangkah ke pintu lalu mengatur ekspresi wajahnya. Pura-pura tidak ada apa-apa. Ketika ia membuka pintu, Sari langsung masuk. Tidak sopan, batin Ayyara.
"Ay, apa yang terjadi? Kau ada masalah?" tanya Sari. Ia keheranan melihat kamar yang sangat berantakan itu. Ada pecahan di mana-mana hingga dia harus berhati-hati ketika berjalan.
Ayyara tersenyum kemudian menggeleng.
"Tidak ada. Aku tidak sengaja membuat meja itu terdorong dan semua yang ada di atasnya terjatuh." jawab Ayyara bohong. Sari menatap wanita itu lama. Ia tidak bodoh. Ia tahu Ayyara berbohong karena sejak pesta pernikahan tadi wanita itu tampak tidak baik-baik saja. Tapi Sari mencoba untuk tidak mencampuri urusan wanita itu. Watak Ayyara keras, mau dibilang bagaimana pun tidak akan dia dengar. Jadi percuma. Biarkan saja dulu untuk saat ini.
"Oh ya, aku, Gilang dan Rivo mau ke club dekat sini. Kau mau ikut?" ajak Sari kemudian. Ayyara menggeleng.
"Aku kelelahan Sar, kalian saja." tolaknya.
"Ya sudah. Kalau ada apa-apa hubungi aku." ucap Sari lagi lalu keluar dari kamar itu.
__ADS_1