Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
57


__ADS_3

Zuin berpapasan dengan Ketty didepan pintu l apartemen gadis itu. Penampilan Ketty cantik sekali dengan gaun hitam tanpa lengan yang membuatnya terlihat elegan dan tampak lebih dewasa dari umurnya. Makeup-nya pun lebih dewasa dari usianya.


Zuin mengernyitkan dahi mengamati keseluruhan penampilan Ketty. Ketty sendiri cukup terkejut melihat Zuin di apartemennya. Setahunya Zuin bilang kalau gadis itu akan lama berada di pedesaan, ternyata belum genap dua minggu, gadis itu malah sudah nongol lagi di depannya. Ketty  merasa dirinya tidak lagi seantusias dulu kalau Zuin datang menemuinya. Tidak sesenang biasanya.


Mungkin karena nama sahabatnya itu selalu disebutkan Kyle tiap kali pria itu bercinta dengannya. Dan Ketty tidak suka. Padahal jika di hitung-hitung dalam hampir dua minggu ini, Ketty dan pria itu sudah lebih dari delapan kali berhubungan intim. Namun Kyle tetap tidak memiliki rasa apa-apa terhadap Ketty. Laki-laki itu hanya menganggap Ketty sebagai mainan s*ksnya dan Ketty sendiri mau menjadi mainan lelaki itu. Dengan harapan, mungkin saja lama-kelamaan Kyle akan jatuh cinta padanya. Sayangnya itu semua masih mimpi bagi Ketty. Karena dengan tegas Kyle pernah bilang, lelaki itu tidak akan pernah memberikan hatinya pada perempuan lain selain Zuin. Hal itulah yang menyebabkan Ketty mulai merasa iri pada sahabatnya itu.


Ketty tahu Zuin tidak salah apa-apa. Tapi, tetap saja ia merasa iri pada Zuin yang bisa dengan gampangnya mendapat cinta tanpa berjuang keras seperti yang dia lakukan. Mengemis-ngemis cinta Kyle dengan cara memberikan tubuhnya.


"Kamu habis darimana?" tanya Zuin menatap keseluruhan penampilan Ketty. Dia ingin mengkomplain makeup Ketty yang terlalu tebal tapi tidak jadi. Sedang Ketty sendiri, walaupun merasa malas buat menjawab, gadis itu tetap memaksakan seulas senyum dan berbicara seadanya saja.


"Aku dari pesta. Ada salah satu teman kampus kita yang ulang tahun, dia mengundang seluruh kelas. Kamu nggak dapat undangannya karena memang lagi nggak ada di kota ini." jelas Ketty panjang lebar namun tidak begitu antusias seperti dulu. Hatinya masih panas saat mengingat kalimat Kyle dua hari lalu. Pria itu dengan tegas mengatakan padanya kalau dirinya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Zuin. Mengingat itu lagi, Ketty jadi kesal pada Zuin.


Memangnya apa dari dirinya yang tidak bisa dibandingkan dengan Zuin? Dari sisi pelajaran dan pergaulan, jelas dia lebih baik dari gadis itu. Zuin hanyalah gadis gadis manja yang suka berbuat seenaknya sesuai dengan suasana hatinya. Ketty merasa Zuin malah tak ada kelebihan sama sekali, hanya suka berbuat onar dan menyusahkan orang lain. Jadi, bagian mana dari gadis itu yang tidak bisa dibandingkan dengan Ketty? Wajah? Ketty juga punya wajah cantik yang tak kalah dari Zuin. Harta? Ketty juga punya kekayaan itu, meski tidak bisa dibandingkan dengan kekayaan keluarga Zuin, tapi juga tidak bisa bilang status sosial mereka berbeda. Pada akhirnya mereka adalah dua gadis yang sama-sama lahir dari sendok emas.


Zuin terlihat manggut-manggut mendengar penjelasan Ketty. Ia kemudian mendorong sahabatnya itu ke depan pintu masuk apartemennya.


"Buka pintunya. Aku pengen ngobrol banyak sama kamu. Kamu harus tahu apa saja yang aku alami selama di desa." seru Zuin antusias. Sayangnya Ketty tidak seantusias gadis itu. Ia tidak ada mood untuk mendengar cerita Zuin.

__ADS_1


"Zu," gumamnya menatap Zuin.


"Hm?"


"Kayaknya aku nggak bisa ngobrol sama kamu sekarang. Aku terlalu capek seharian ini, pengen langsung tidur. Gimana kalau kita cari waktu lain aja kalau mau ngobrol?" tawar Ketty. Zuin tertegun. Setahunya Ketty tidak biasanya seperti ini. Kenapa dengannya? Apa Ketty punya masalah?


"Kamu kenapa? Ada masalah?" tanyanya langsung. Ketty menggeleng dan lagi-lagi berusaha tersenyum.


"Nggak apa-apa kok. Cuman capek doang." balasnya. Sebenarnya Zuin masih tidak percaya, ia merasa hari ini memang ada yang aneh dengan Ketty. Tidak seperti biasanya. Tapi ia tidak akan memaksa Ketty buat cerita padanya kalau gadis itu sendiri tidak mau cerita.


"Ya sudah, kamu istirahat aja. Kita ngobrol besok aja. Kalau ada apa-apa langsung telpon aku yah." ucap Zuin. Dengan terpaksa Ketty mengangguk. Biar bagaimanpun Zuin adalah salah satu sahabat baik yang selalu menghabiskan waktu bersamanya selama beberapa tahun ini. Kalau Ketty terus-terusan menolak ketemu, Zuin akan curiga kenapa dia tiba-tiba berubah. Masalah Kyle yang menyukainya, Zuin sama sekali tidak tahu. Jadi Ketty tidak berhak menyalahkannya.


Dastin langsung pulang setelah semua pekerjaannya selesai. Ia ingat ketika dia meninggalkan Zuin di apartemennya tadi, gadis itu masih tertidur pulas. Bagaimana kalau sampai sekarang Zuin masih tidur? Kan Zuin belum makan dari siang. Dastin harus mengeceknya.


Namun saat laki-laki itu masuk ke kamarnya, gadis yang ingin dia lihat sejak tadi tak ada dalam kamar. Pandangan Dastin mencari-cari ke segala arah. Ke kamar mandi, balkon, dan bagian lain dalam kamar tersebut, tapi Zuin tidak ada di manapun.


"Kemana dia?" gumam Dastin pada dirinya sendiri. Detik itu juga ia mendengar bunyi pintu luar dibuka tanda ada orang yang masuk. Dastin cepat-cepat keluar. Mungkin itu Zuin.

__ADS_1


Dugaan Dastin benar. Ia melihat Zuin berjalan dari pintu depan sambil menunduk.


"Kau habis darimana?" Tanya Dastin ketika langkah Zuin hampir sampai didepannya sambil berkacak pinggang. Untung saja gadis itu kembali sebelum dirinya berubah panik.


Zuin menghentikan langkahnya. Sejak masuk tadi ia terus berjalan menunduk jadi tidak menyadari Dastin ada di ruangan itu. Gadis itu  mendongakkan kepalanya menatap Dastin lalu menyengir lebar. Selebar mungkin. Membuat Dastin yang berniat mau mengomelinya tidak jadi mengomel dan malah berubah gemas. Zuin memang selalu bisa membuat Dastin tidak berkutik, senyuman indah itu membuatnya tidak bisa menahan diri.


"Jangan tersenyum begitu." gumam Dastin menatap Zuin lekat-lekat.


Senyuman di wajah Zuin perlahan memudar. Ia membalas tatapan Dastin dengan ekspresi bingungnya.


"M..maksud kamu?" balas gadis itu bertanya.


"Karena aku tidak bisa menahan diri  tiap kali kau terlihat manis dimataku. Karena, kalau kau terlalu manis..." Dastin maju selangkah dan menunduk, mendekatkan wajahnya ditelinga Zuin.


"Aku bisa memakanmu..." bisik pria itu parau lalu menggigit pelan daun telinga Zuin, membuat gadis itu merasa geli dibagian situ.


Zuin langsung mundur beberapa langkah, menatap Dastin sebentar lalu cepat-cepat berlari masuk ke kamar dan menguncinya. Meninggalkan Dastin yang terus berdiri sambil menatap gadis yang hampir menghilang dari pandangannya itu dengan wajah senang karena berhasil menggoda Zuin. Ia bahkan jadi lupa dengan pertanyaannya tadi yang menanyakan Zuin dari dari mana saja.

__ADS_1


Dalam kamar, Zuin bersandar di pintu kamar sambil mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan. Astaga... Dastin kenapa jadi mesum sekali sekarang? senang sekali menggodanya sampai membuat dirinya malu begini. Pokoknya dia harus berhati-hati pada lelaki itu mulai sekarang. Tapi... berhati-hati bagaimana coba kalau Dastin memang sudah berhasil membuatnya tidak perawan lagi. Hufft... gadis itu jadi bingung harus bagaimana. Setelah itu, ia malah tertawa sendiri.


__ADS_2