
Setelah masuk diruangan kepala sekolah, Zuin dibawa oleh lelaki tua tersebut ke kelasnya. Kelas XII², lebih tepatnya kelas dari sih korban pembunuhan yang diam-diam ingin dia gali informasinya. Zuin ternyata sekelas dengan siswi bernama Maria itu.
Saat Zuin masuk dan memperkenalkan diri, para murid memperhatikannya lama. Zuin jadi merasa risih diperhatikan seperti itu. Tapi ia berusaha bersikap biasa saja, demi tugasnya. Ia berharap bisa mendapatkan banyak informasi mengenai kasus yang sedang diselidiki oleh Dastin.
"Kamu duduk dibangku kosong paling belakang sana." kata bu Dian, wali kelas di kelas tersebut. Tangannya menuju meja paling belakang. Saat Zuin berjalan ke bangku tersebut, masih ada saja yang terus memperhatikannya tapi tidak lama. Karena setelah itu ada yang datang dengan hebohnya. Jelaslah perhatian seisi kelas langsung berpindah.
"Kalian sudah dengar?" seru cewek berkacamata tebal dengan suara lantangnya yang heboh. Wali kelas mereka, bu Dian telah pergi selesai memperkenalkan Zuin. Pandangan semua penghuni kelas tersebut, termasuk Zuin fokus ke cewek berkacamata tebal tersebut.
"Ternyata Alika bunuh diri karena hamil. Aku dengar laki-laki yang menghamilinya kabur. Itu yang dia tulis dibuku harian terakhirnya." cerita siswi itu dengan antusias. Sementara Zuin terus mencuri-curi dengar. Iya yakin gadis yang dimaksudkan dalam cerita cewek berkacamata itu adalah gadis yang melompat dihadapan dirinya dan Dastin kemarin dulu. Siapa lagi coba. Desa ini terbilang kecil, pasti memang gadis itu.
"Zua," Zuin belum sadar ada yang memanggilnya. Ia tetap fokus mencuri dengar pembicaraan kumpulan murid didepan sana. Gadis itu belum terbiasa dengan nama barunya, jadinya begitu. Ia lupa kalau Zua adalah nama samarannya.
"Zua." kali ini siswi yang memanggil Zuin itu menyentuh bahunya, membuat Zuin terkesiap. Ia cepat-cepat menegakkan badannya dan menghadap kedepan. Ternyata Maria. Gadis itu bernapas lega. Dia kembali memasang senyum lebarnya ke Maria.
"Ini beberapa catatan milik aku. Aku meminjamkan padamu. Aku juga ketua kelas dikelas ini. Jadi kalau kamu butuh sesuatu, tanya padaku saja. Oh ya, istrihat nanti aku bisa menemani kamu liat-liat lingkungan sekolah." kata Maria panjang lebar. Gadis itu bersikap ramah dan bersahabat. Zuin sendiri langsung mengangguk setuju. Memang ditangannya ada peta sekolah yang diberikan oleh Dastin tadi, tapi untuk seseorang yang otaknya pas-pasan seperti dirinya, Zuin lebih senang mempelajari lingkungan sekolah secara langsung dibandingkan melihat peta. Kepalanya bisa pusing. Ia juga bisa gali-gali informasi dari Maria.
"Kalo gitu, aku balik ke bangkuku yah." Zuin mengangguk ramah.
__ADS_1
setelah Maria berbalik pergi, seseorang yang lain yang entah muncul darimana itu duduk disebelahnya. Murid perempuan itu cukup cantik, dengan hidung mancung dan kulit putih bersih namun cara berpakaiannya tidak selembut wajahnya. Seragamnya acak-acakan. Zuin bisa melihat noda jus berwarna kuning dikemejanya. Mungkin gadis itu pergi ke kantin dan tanpa sengaja menumpahkan sesuatu dikemejanya. Rambutnya juga dikuncir sembarangan. Dan... Pandangan Zuin beralih kedepan.
Ia tiba-tiba menyadari sesuatu. Tampaknya siswi perempuan yang duduk disampingnya ini tidak disukai oleh seisi kelas. Lihat saja, semua penghuni kelas itu sedang melihat ke arah gadis itu dengan bermacam-macam ekspresi. Jijik, merendahkan dan... Pokoknya Zuin tahu sekali apa arti tatapan semua orang dikelas ini pada murid perempuan itu. Pandangannya kembali fokus ke gadis disampingnya. Gadis itu terlihat biasa saja. Zuin jadi merasa salut padanya. Dalam keadaan disudutkan seperti sekarang ini, gadis itu masih bisa bersikap sangat tenang. Benar-benar patut di contoh.
"Lihat sih cewek sialan itu. Harusnya dia yang bertanggung jawab atas kematian Nia. Apalagi sekarang Alika ikutan bunuh diri. Jangan-jangan dia lagi yang menghasut cowok yang hamilin Alika buat nggak usah tanggung jawab." kata salah satu siswi didepan sana. Cara bicara dan tatapannya sangat merendahkan. Zuin yakin kalau dia yang berada di posisi gadis yang dikatain itu, dirinya sudah merobek-robek mulut tajam itu. Tapi... fokusnya jadi terbagi. Sepertinya dua gadis yang disebut siswi itu adalah murid dalam kasus yang diselidiki oleh Dastin. Zuin harus fokus mendengar.
Brakk!!
Zuin yang tengah sibuk berpikir kaget bukan main. Siapa yang tidak kaget coba kalau gadis disebelahnya tiba-tiba berdiri dan membanting sebuah kursi kosong dengan sangat keras. Seisi kelaspun sama kagetnya. Pandangan Zuin fokus ke semua murid yang terus merendahkan siswi yang belum dia ketahui namanya itu. Salah satu siswi didepan sana berdiri dan berjalan ke arah mereka lalu berhenti didepan gadis itu dengan wajah menantangnya.
"Kenapa? Lo nggak suka? Emang benerkan gara-gara lo Nia meninggal?" sembur cewek itu.
"Lo itu cuma cewek pembawa sial, harusnya lo keluar dari sekolah ini. Nggak cocok di sini, semua orang benci sama lo. Pembunuh."
Plakkk!
Sebuah tamparan keras langsung mengenai siswi sombong itu.
__ADS_1
"Santi!" teman-teman cewek itu memanggilnya Santi. Santi sendiri meringis kesakitan sambil memegangi pipinya yang sakit akibat tamparan keras itu. Ia menatap gadis dihadapannya dengan amarah menyala-nyala. Emosinya membuncah. Suasana kelas makin tegang. Zuin sendiri terus berpikir kenapa tidak ada satupun guru yang masuk. Ia takut nanti terjadi perkelahian di kelas ini.
"Berani-beraninya lo nampar gue, sialan!" maki Santi. Lalu tanpa hitungan detik gadis itu maju dan menjambak rambut siswi didepannya. Lalu terjadilah aksi saling jambak-jambakan di antara keduanya, hingga suasana kelas makin riuh. Banyak murid hanya berteriak-teriak menyoraki mereka. Yang lain bahkan merekam perkelahian itu untuk mengabadikan momen tersebut. Gila, kelas ini sungguh gila. Apa-apaan ini?
Zuin tidak habis pikir. Sebenarnya dia terus menahan diri agar tidak ikut campur, namun aksi kedua gadis yang berkelahi itu semakin menjadi-jadi. Bahaya kalau tidak ada yang menghentikan. Zuin menghembuskan nafas panjang. Dirinya memang harus turun tangan. Setidaknya berusaha dulu buat menghentikan perkelahian itu.
"Kalian berdua stop!" seru Zuin mendekati kedua gadis itu. Dengan berani dirinya masuk ditengah-tengah mereka, membuat keduanya berhenti dan menatapnya sejenak. Santi jelas terlihat tidak senang.
"Heh anak baru, lo nggak usah sok ikut campur masalah kita! Badan bau loh itu gak pantes deket-deket gue." tukas Santi menunjuk-nunjuk Zuin, bahkan sengaja menghinanya. Zuin yang mendengarnya mendengus kesal.
Apa katanya? Bau? Rupanya gadis itu belum tahu siapa dirinya. Berani sekali dia mengatainya bau. Dengan sekali sentak, Zuin ikut menjambak Santi. Ia jadi lupa niat awalnya adalah mau melerai mereka.
Gadis yang sebangku dengannya turut membantunya menarik rambut Santi. Tak lama kemudian, teman-teman Santi berdatangan membantunya. Membuat keadaan kelas makin ricuh. Para murid lelaki malah bersorak, tak ada yang terlihat ingin menghentikan perkelahian para siswi tersebut. Tontonan itu malah menjadi hiburan menarik bagi mereka.
"Apa-apaan ini?!"
Semuanya terhenti. Didepan pintu masuk kelas berdiri kepala sekolah bersama dua orang pria di sebelahnya. Ketika melihat kejadian tersebut, lelaki tua itu langsung berteriak marah dengan suara menggelegar. Membuat semua murid dalam kelas itu terdiam seketika.
__ADS_1
Zuin yang berdiri diantara mereka sibuk memegangi pipinya yang terluka sambil meringis kecil. Ketika ia menaikkan wajahnya dan menatap kedepan, pandangannya bertemu dengan Dastin. Lelaki itu berdiri bersebelahan dengan Gean disamping kepala sekolah. Dan... Ekspresinya terlihat.. marah? Zuin menelan ludahnya lalu cepat-cepat menunduk. Aduh... Kenapa Dastin bisa tiba-tiba muncul? Malah ada Gean lagi.