
"Cantik." Ketty menatap Zuin dengan wajah puas. Sahabatnya itu tampak sangat cantik dalam balutan gaun pengantin putih yang sangat pas dibadannya. Sudah lebih dari satu jam mereka berada di salah satu butik terkenal kota itu. Pemilik butik tersebut katanya adalah kenalannya mama Dastin.
Bahkan mereka tidak perlu memilih-milih gaun pengantin mana yang akan Zuin pakai karena saat kedua gadis itu tiba di butik tersebut, gaun pengantin milik Zuin memang sudah siap. Tentu saja gaun tersebut dipilih sendiri oleh Dastin. Mamanya memang membantu. Tapi hanya membantu sang putra mencarikan butik yang bagus. Sisanya, Dastin sendiri yang memilih gaun yang cocok buat Zuin.
Berbeda dengan Ketty yang terlihat senang dengan penampilan Zuin, gadis itu sendiri malah terlihat bingung. Otaknya masih kosong jadi tak mampu berpikir apa-apa.
"Ket, kita ke sini kan buat liburan. Kenapa malah coba baju pengantin sih?" tanya Zuin menatap sahabatnya itu. Ketty tersenyum. Entah Zuin ini terlalu polos, cuek atau bagaimana, Ketty merasa gemas. Kalau jadi Zuin, ia sudah curiga dari kemarin. Sayang sekali dia bukan gadis itu.
"Masa kamu nggak sadar-sadar juga sih Zu. Pikir deh kenapa kita semua datang ke sini. Papa kamu yang super sibuk itu, bahkan mertua kamu juga ikut ke sini, kamu pikir cuma mau liburan doang?"
Zuin mengernyitkan matanya, terlihat berpikir keras sambil menatap penampilannya di cermin. Lalu beberapa menit kemudian matanya sukses membulat lebar.
"Menikah?!" seru Zuin kuat. Ia menatap Ketty masih tidak percaya. Tapi kan tidak mungkin. Mana bisa dia menikah tanpa pengantin pria. Benarkan? Karena Dastin tidak ada di sini. Lagian dia sudah sah menjadi istri Dastin. Masalah resepsi pernikahan, harusnya mereka memikirkan bersama-sama. Zuin menggeleng-geleng kepala, tidak percaya dengan perkataannya sendiri.
Namun ketika ia mengangkat wajah dan menatap cermin lagi, tatapannya bertemu dengan sosok tak asing yang kini berdiri dibelakangnya dengan senyuman lebar.
Dastin?
__ADS_1
Zuin mengerjap-ngerjapkan matanya. Mungkin saja ia salah lihat. Namun ketika dia membuka mata lagi, sosok tinggi dan tampan itu masih ada dibelakangnya. Memakai setelan resmi yang sangat cocok disandingkan dengan penampilannya sekarang ini. Zuin tidak melihat Ketty lagi. Entah sejak kapan Ketty hilang dari ruangan itu. Zuin berbalik menghadap sosok yang setia berdiri dibelakangnya tersebut.
"Dastin?" raut wajah Zuin masih seperti tidak percaya. Bukannya suaminya itu lagi liburan sama timnya keluar negeri? Kenapa tiba-tiba ada di sini.
Ketika sadar, gadis itu memukul pelan kepalanya. Dasar bodoh. Bukankah sekarang dia juga sedang berada di luar negeri.
"Hai istri," Dastin menyapa sang istri dengan nada menggoda. Tak lupa mencolek pipi Zuin gemas. Ekspresi terkejut Zuin ketika melihatnya membuat Dastin merasa senang. Istrinya masih menatapnya tanpa bicara sepatah katapun.
"Kaget lihat aku di sini, hmm?" gumam pria itu. Tangannya terangkat mengusap-usap lembut pipi Zuin. Setelah mendapat kesadaran sepenuhnya, barulah raut wajah Zuin berubah kesal lalu memukul-mukul Dastin dengan sekuat tenaga.
"Senang ngerjain aku hm? Rasakan ini!" seru Zuin sambil terus memukuli Dastin melampiaskan seluruh kekesalannya.
"Dengar, kalo mau berantem nanti aja yah. Sekarang siapin hati kamu dulu. Sebentar lagi resepsi nikah kita di mulai." ucap Dastin membuat Zuin makin kesal lagi. Dasar suami sinting. Bisa-bisanya ia mengadakan pesta pernikahan tanpa bilang-bilang begini. Zuin bahkan belum menyiapkan hati dan mentalnya dengan baik. Astaga... Bisa tidak sih dia melarikan diri saja.
"Dastin, Zuin..." panggilan itu membuat pasangan suami istri tersebut sama-sama menatap ke ambang pintu. Nevan sudah berdiri lengkap dengan jasnya didepan sana. Ada Ketty dan Nako juga yang muncul dari belakang pria itu.
"Acaranya sebentar lagi di mulai. Keluarga kalian dan tamu sudah menunggu. Ayo pergi sekarang." kata Nevan menatap Zuin dan Dastin bergantian.
__ADS_1
Dastin mengangguk lalu meraih tangan Zuin keluar dari situ. Zuin pasrah saja. Tidak ada gunanya juga melarikan diri. Bisa-bisa Dastin menghukumnya lagi seperti malam itu.
\*\*\*
Ornamen dinding penuh bunga. Didominasi oleh warna pastel dengan kesan lembut. Dan terdengar suara alunan musik yang memainkan nada-nada yang romantis. Meja-meja tersusun rapi dengan beberapa tamu yang ada duduk di sana. Barry dan orangtua Dastin masing-masing memang mengundang beberapa kerabat dekat mereka. Tentu saja untuk menjadi saksi pernikahan anak tercinta mereka. Apalagi Barry ingin orang-orang tahu bahwa Zuin adalah putrinya. Tim Dastin juga ada. Namun hanya Gean dan Gilang yang tahu bahwa Dastin dan Zuinlah yang akan menikah. Yang lain hanya sekedar ikut karena diajak.
Dibagian samping terdapat meja panjang yang di atasnya telah tersaji berbagai hidangan yang di masak oleh koki terkenal.
Seperti itulah gambaran sebuah aula salah satu gedung hotel bintang lima saat ini. Tinggal beberapa menit lagi pesta pernikahan Dastin dan Zuin akan digelar di tempat itu. Hanya berkapasitas tiga pulu orang, membuat aula itu tidak sesak. Rata-rata tamu yang diundang sudah ada.
"Memang siapa yang menikah? Temanmu? Orang bule?" tanya Sari ke Gean dengan suara setengah berbisik. Pandangannya sesekali memandangi para tamu yang duduk di meja lain. Jelas sekali ini pernikahan orang kelas atas. Pasti temannya Gean bukan orang sembarangan.
"Oh ya, Dastin ke mana?" giliran Ayyara yang bertanya sambil matanya mencari-cari ke seluruh tempat. Ayyara masih ingat kejadian semalam. Apa mungkin Dastin sengaja mau menghindarinya? Apa dia harus minta maaf? Tapi kan tidak salah mengungkapkan perasaannya.
Ayyara tidak menyadari Gean sejak tadi terus mengamatinya. Pria itu penasaran bagaimana kagetnya Ayyara kalau tahu pesta yang mereka datangi adalah pernikahannya Dastin.
Lalu tak lama sesudah itu suara pembawa acara terdengar memenuhi aula itu. Lampu yang semula terang benderang berubah menjadi redup menenangkan, dan pintu aula dari samping mulai terbuka.
__ADS_1
"Kita sambut mempelai kita, Dastin Lemuel!"
Semua tamu berdiri. Hanya Ayyara yang tampak syok mendengar nama yang di sebut oleh sih pembawa acara. Lututnya kaku tak mampu berdiri. Dia salah dengar bukan? Tidak mungkin Dastin. Tapi, ketika melihat sih pengantin pria memasuki aula, Ayyara rasanya mau pingsan detik itu juga.