Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
79


__ADS_3

Kini puncak dada Zuin menjadi sasaran mainan Dastin. Satu dari bagian tubuh Zuin yang paling menggemaskan menurut pria itu. Sampai tanpa sadar saat memegangnya, Dastin meremasnya dengan kasar. Karena terlalu gemasnya. Di cubitnya dua put*ng tersebut, di gesek-gesek dengan jari kemudian salah satunya ia kul*m dan yang lain dibelai halus lalu di rem*s kasar.


Zuin yang merasa tidurnya terganggu  membuka perlahan kedua matanya. Ia belum sepenuhnya sadar, walau dari mulutnya mendesis enak. Zuin pun memeluk kepala Dastin yang dikiranya guling. Mata Zuin membola ketika melihat surai hitam di dadanya. Ia baru menyadari kalau yang dipeluknya bukan guling tapi suaminya. Astaga, mengganggu tidur tenangnya saja.


"D..Dastin," lirih Zuin karena Dastin terus bermain ditubuhnya. "Ahh... lepas dulu, Dastin."


Dastin tidak menghiraukan. Ia beralih tempat mencecap kenikmatan milik Zuin, yang sudah menjadi miliknya setelah ia masuki.


"Cu...kup... Ngghh..."


"Nikmati saja sayang." suara Dastin memberat dan serak.


Jari-jarinya bergerak menelusuri ****** mulus Zuin, perlahan menuju lubang ***** sampai lubang kenikmatannya. Dastin memasukkan jari tengahnya di sana, menggerakkan pelan berkali-kali, membuat Zuin mengerang kuat.


"Kau menyukainya, sayang?"


jempol Dastin pun tak tinggal diam, ikut bermain dengan klit*ris Zuin hingga gadis itu dibuat gelinjangan. Melihat cairan Zuin yang terus keluar, menambah semangat bagi Dastin untuk menambah gesekan dan koc*kannya. Kini tak hanya satu jari, tiga jari berada di dalam diri Zuin.


"Ohh... aahhh..."


"Bukankah ini nikmat Zuin? Kau menyukainya?" Zuin tidak menjawab, ia terlalu larut dalam kenikmatan. Dan Dastin tidak perlu jawaban Zuin karena dari ekspresi keenakan gadis itu, semuanya sudah jelas. Tentu saja pria itu semakin bersemangat.


Dastin melepaskan aktifitas jarinya.

__ADS_1


"Aku akan masuk sekarang." ia menggesekkan kepala kej*ntanannya ke kemal*an Zuin. Sebelum memasukkan dirinya dengan satu hentakan.


"Kau sempit, sayang. Membuat aku ketagihan dan selalu ingin memasukimu." bisik Dastin di telinga Zuin, sebelum ia gigit dan mulai bergerak menuju mundurkan pinggulnya.


"Ngghh...mmph.. ahhh..." desah*n kencang Zuin membuat Dastin menggila. Suara khas orang bercinta terdengar jelas dalam ruangan tersebut.


Cepat, keras, dan kasar. Mereka menggila. Dastin terus menggerakkan


pinggulnya, memompa Zuin tanpa henti. Keduanya sama-sama merintih karena ken*kmatan.


Zuin tak tahan lagi, ia akan mencapai puncaknya.


"Akkhh...! teriak Zuin keras. Dalam waktu bersamaan Dastin ikut berteriak, ia membenamkan miliknya sangat dalam dan ketika puncak keduanya datang bersamaan, Zuin merasakan cairan Dastin sangat banyak keluar didalamnya. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, keduanya bercinta dengan gairah yang menggebu-gebu.


Paginya di runmah Barry, pria itu memasang jas-nya dan menoleh pada Nevan yang berdiri menungguinya di dekat pintu. Ini hari pertamanya kembali mengambil alih perusahaannya. Ia sudah menghubungi Kyle kemarin dan mereka akan bertemu di kantor nanti.


"Bagaimana dengan kasus terakhir itu? Sudah kau bereskan?" Nevan mengangkat bahunya,


"Marlon memendam kemarahan besar kepada anda dan Kyle. Apalagi karena sudah menggilas habis seluruh perencanaan proyeknya." Barry tersenyum.


"Dia selalu marah kepada kami, sejak awal. Tetapi sampai sekarang dia tidak akan bisa berbuat apa-apa pada kami."


Nevan terus menatap atasannya itu. Nampaknya kalimat terakhir Barry salah. Karena pria itu mendapatkan laporan bahwa Marlon sengaja memerintahkan anak buahnya untuk menculik Zuin. Dan penculikan itu terjadi kemarin. Meski orang yang diculik salah, namun bukan berarti Zuin akan tetap aman. Orang licik seperti Marlon tidak akan pernah berhenti. Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti laki-laki jahat itu berhasil menculik Zuin.

__ADS_1


"Ada apa? Wajahmu terlihat tegang. Apa yang kau pikirkan?" tanya Barry saking seriusnya ekspresi Nevan yang membuatnya penasaran.


"Aku baru saja mendapat laporan," sahut . Zuin menggantung kalimatnya. Kening Barry berkerut menatap Nevan. Menunggu pria itu melanjutkan perkataannya.


"Kemarin Ketty diculik. Beruntung Dastin dan timnya menemukan keberadaan Ketty dengan cepat. Dan orang yang menculiknya adalah anak buah Marlon. Sekarang penculik itu telah tertangkap. Namun anak buah Marlon salah menculik. Mereka harusnya menculik Zuin bukan Ketty. Tapi pria itu salah mengenali Zuin. Yang paling penting di sini adalah, Marlon sudah tahu Zuin adalah putri kandungmu."


Barry tersentak. Raut wajah santainya berubah seketika. Tangannya terkepal kuat dan rahangnya mengeras. Marah, khawatir, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Sial. Coba saja menyakiti putri kesayangannya, walau harus membunuh sekalipun, Barry tidak takut. Tidak ada artinya juga dirinya hidup di dunia ini kalau sampai terjadi sesuatu kepada Zuin.


"Marlon sangat licik dan bertangan kotor, dia menggunakan banyak orang untuk mencapai tujuannya, kita tidak boleh meremehkannya dan harus selalu berhati-hati," Nevan menatap Barry dengan tatapan mata serius. Ia juga tidak ingin orang-orang terdekat mereka yang sama sekali tidak bersalah malah terluka.


"Apa Dastin tahu masalah ini?" tanya Barry kemudian. Nevan menggeleng. Dastin belum tahu motif sebenarnya penculik Ketty. Juga Nevan memastikan pria itu tidak kenal siapa Marlon.


"Ia hanya mengira penculik itu memang mengejar Ketty. Aku dengar sih penculik akan diinterogasi hari ini. Tapi tidak mungkin pria itu akan mengaku. Laki-laki itu adalah salah satu anak buah yang paling setia pada tuannya."  informasi tersebut Nevan dapatkan dari mata-mata mereka yang bekerja dikantor Marlon. Mereka tahu Marlon sangat licik, jadi dengan senjata mereka mengutus seseorang yang dapat di percaya untuk menjadi mata-mata.


"Apa yang dilakukan Dastin hari ini?"


"Sepertinya mereka akan mulai menyelidiki kasus pengembangan obat ilegal."


"Bagaimana dengan Zuin?"


"Dia ke kampus seperti biasa.


Barry berpikir sejenak. Biar bagaimanapun sebagai seorang ayah, ia merasa Zuin adalah prioritas utamanya. Karena Marlon sudah tahu tentang putrinya, Barry harus memperketat penjagaannya.

__ADS_1


"Bayar beberapa pengawal untuk melindungi Zuin mulai sekarang. Dan hubungi Dastin. Katakan aku ingin menemuinya segera, bersama Zuin." perintah Barry. Nada bicaranya tegas. Nevan mengangguk.


__ADS_2