Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
88


__ADS_3

Ternyata laboratorium yang di sebut-sebut Gean dan laki-laki bernama William tadi letaknya tidak jauh dari daerah kampus Zuin. Namun ada di sebuah lorong yang berbeda. Laboratorium tersebut dibangun di sebuah lahan yang luas. Banyak pepohonan di samping kanan kirinya dan cukup jauh dari perumahan. Mungkin laboratorium tersebut adalah satu-satunya bangunan dengan lahan paling luas di lorong itu. Bukan kawasan elit memang, namun cukup enak tinggal di daerah itu karena ada banyak pepohonan. Pasti suasananya rindang di siang hari. Terutama di malam hari ini seperti sekarang.


Selama perjalanan Zuin mengikuti Dastin dan tim pria itu diam-diam, mereka tidak ketahuan sama sekali. Semuanya mulus. Zuin sengaja bilang ke Bio untuk memarkirkan mobil agak jauh dari lokasi Dastin agar Dastin dan yang lain tidak curiga. Dastin sendiri belum terlihat turun dari mobil sejak sampai beberapa menit yang lalu.


Dari samping kiri, Zuin melihat ada sebuah mobil yang datang dan berhenti tak jauh dari mobil Dastin dan Gean. Lalu turun dua orang laki-laki yang tak Zuin kenal, Dastin dan yang lain ikut turun dari mobi lalu mereka saling menyapa. Cukup lama mereka berada di sana, berbincang-bincang dengan mata yang berulang kali memandang ke arah laboratorium didepan sana.


"Ayo turun." kata Zuin pada para pengawalnya kemudian membuka mobil dan berjalan mengendap-endap melewati tempat yang gelap lalu berhenti di semak-semak yang lebat yang berada tak jauh dari tempat Dastin dan yang lain berada. Pengawalnya mau tak mau melakukan hal yang sama.


Zuin menunduk dibalik semak-semak tersebut sambil sesekali kepalanya menyembul ke atas, mencuri dengar pembicaraan Dastin. Matanya sempat melihat Dastin memasukkan pistol ke dalam jaketnya. Sepertinya mereka memang siap bertempur malam ini. Bukannya takut, Zuin malah makin tertarik untuk menonton peristiwa besar apa yang akan terjadi nanti.


"Kalian sudah memeriksa keadaan di dalam?" itu pertanyaan Dastin pada kedua pria yang datang belakangan tadi.


"Dua orang berjaga didepan, dua lagi dibelakang. Kami belum melihat yang lain. Para pekerjanya sudah pulang semua." lapor salah satu pria berambut cepak.


"Di mana William?" tanya Dastin lagi. Sebelum dijawab, William akhirnya muncul dengan motor besarnya. Mereka sengaja mencari tempat yang gelap di sebuah lahan kosong bersebelahan dengan gedung lab itu agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dari situ juga mereka bisa sekalian memantau keadaan di laboratorium sebelum Dastin mengambil keputusan untuk bergerak.


"Kita masuk sekarang?" tanya William menatap Dastin dan yang lain bergantian. Ia sudah sangat siap. Ia merasa dirinya sudah terlalu lama menjadi mata-mata di perusahaan yang dengan sengaja mau berbuat jahat dan mengambil keuntungan dari banyak orang tersebut. Dan William tidak tahan lagi untuk mengacaukan rencana mereka. Kalau malam ini misi mereka berhasil, setidaknya rencana orang-orang jahat itu akan tertunda beberapa tahun untuk mengembangkan obat-obatan yang baru. Tapi sebelum berhasil, kejahatan mereka mungkin akan segera terungkap dan mereka pasti ditangkap.


Di sebelah Gean, Dastin tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya mengambil keputusan.

__ADS_1


"Aku, Rivo, dan William akan masuk. Kalian memantau dari sini. Kalian akan bergerak saat aku memberi perintah." kata Dastin menatap Gean dan yang lain bergantian. Mereka mengangguk.


"Gilang, kau ingat tugasmu bukan?"


Gilang mengangguk lalu mengeluarkan laptop dari tasnya.


"Ayo pergi." kata Dastin lagi. Kali ini pandangannya berpindah ke William dan Rivo. William mengambil pistol dari saku celana dan memeganginya sambil berjalan. Matanya melihat-lihat ke segala arah. Pria itu berjalan paling depan sebagai penuntun jalan. Sedang Rivo dan Dastin masing-masing membawa galon sedang berisi bensin. Mereka masuk lewat jalan tersembunyi yang ditunjuk oleh William.


Sementara itu dibalik semak-semak,


"Kalian ada ide bagaimana mengikuti Dastin ke sana tanpa ketahuan mereka?" tanya Zuin dengan dagu menunjuk-nunjuk ke tempat Gean dan yang lainnya yang tetap tinggal didepan sana. Kenapa mereka tidak masuk sekalian semua sih. Bikin Zuin kesusahan saja. Padahal ia ingin masuk ke area lab. Keempat pengawalnya hanya saling menatap tanpa ada yang menjawab pertanyaan sang majikan.


Sudah lebih dari sepuluh menit Dastin dan dua temannya tadi masuk, namun keadaan di lap masih tetap tenang. Tidak terjadi apa-apa. Gean, Ayyara dan Sari terlihat mondar-mandir di depan sana. Kedua lelaki yang tidak Zuin kenal berdiri tenang sedang Gilang terus fokus ke laptopnya, entah apa yang dia lakukan. Mungkin melihat pergerakan dalam lab dari benda itu. Seperti waktu Ketty diculik beberapa hari lalu.


"Belok kanan samping kiri ada orang." kata Gilang terus menatap ke laptop. Ia berbicara dengan Dastin pakai earpiece ditelinganya.


"Kami akan segera membakar. Atur beberapa orang di sana untuk memancing orang-orang itu keluar." kata Dastin di ujung sana sambil menumpahkan semua bensin di setiap lantai yang ia lewati. Niat mereka hanya membakar laboratorium itu, bukan membunuh. Jadi dia berharap tidak akan ada korban.


Gean langsung sigap dengan pistolnya ketika mendengar perkataan Dastin. Ia menatap dua laki-laki lain yang berdiri disitu. Mereka mengangguk bersamaan seolah mengerti apa maksud tatapan Gean lalu ketiganya mulai bergerak berlari pelan ke arah lab. Mereka masuk dari arah depan.

__ADS_1


"Ayo ke sana." seru Zuin langsung bergerak mengikuti Gean masuk ketika melihat ada kesempatan. Sari dan Ayyara fokus melihat pergerakan di laptop bersama Gilang. Jadi mereka sama sekali tidak menyadari Zuin dan para pengawalnya ikut masuk ke area lab.


"Nona," Bio menarik Zuin bersembunyi di sebuah pohon besar yang berjejer dalam halaman lab itu. Kali ini sekalipun Zuin marah, mereka tidak bisa membiarkan gadis itu mendekati lab. Bahaya. Mereka bisa terjebak di dalam nantinya.


Gean sempat berbalik sebentar karena merasakan ada gerakan yang mengikutinya dari belakang. Namun pria itu sama sekali tidak melihat Zuin dan pengawalnya. Gerakan Raka ketika menarik Zuin sangat cepat seperti orang yang sudah sangat terlatih.


"Siapa di sana?!" teriak salah satu orang yang berjaga didepan lab saat melihat ada pergerakan didepan.


Gean dan dua orang yang bersamanya langsung berlari berpencar sengaja memancing mereka keluar seperti kata Dastin. Tak lama kemudian api mulai berkobar dari dalam. Yang pertama dibakar Dastin adalah ruangan obat-obatan.


"Lihat, labnya mulai terbakar!" seru Zuin. Ia melihat api dari kecil, hingga semakin membesar dan menjadi sangat besar melahap gedung didepan mereka, sampai-sampai dirinya sendiri bisa merasakan panas di sekujur tubuhnya.


Zuin lalu memandang ke segala arah. Ada dua laki-laki yang keluar dari arah samping. Ah, itu Rivo dan William. Zuin mengernyit bingung. Mana Dastin? Kenapa tidak keluar dengan mereka? Apa Dastin terjebak?


"APA-APAAN INI?


"KEBAKARAN, TELPON BOS SEKARANG JUGA!" detik itu juga suasana jadi kacau. Beberapa pria lengkap dengan baju hitam-hitam berkumpul didepan sana. Di tangan mereka ada senjata tajam. Dan Zuin melihat orang-orang di sekitar daerah tersebut mulai berdatangan.


"Nona, ayo pergi dari sini." seru Bio tapi Zuin menggeleng. Ia harus melihat Dastin keluar dulu baru dia bisa tenang.

__ADS_1


__ADS_2