
Saat Zuin terbangun di pagi hari, ia mendapati dirinya berada di kamar. Gadis itu agak bingung. Seingatnya semalam dia sedang duduk di sofa menunggu Dastin bangun. Ah, Zuin mengingat-ingat lagi. Ternyata semalam ia tanpa sadar ikut tertidur. Mungkin Dastin yang mengantarnya balik ke kamar. Siapa lagi coba. Kan laki-laki itu sudah biasa menggendongnya berkali-kali. Jadi mudah saja bagi Dastin membawanya ke kamar.
Zuin turun dari kasur dan memilih keluar. Tidak seperti kemarin, hari ini orang-orang yang tinggal bersamanya di vila tersebut sedang berkumpul di ruangan tengah. Tampaknya mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius. Pasti tentang pekerjaan. Apalagi coba. Kan orang-orang itu datang ke sini karena pekerjaan.
Zuin melangkah perlahan dan duduk di ruang tv yang berada di ruangan yang sama dengan mereka namun berjarak kira-kira lima meter dari sofa. Pandangan gadis itu lurus ke TV tapi telinganya mencuri-curi dengar apa yang mereka bicarakan. Karena dirinya penasaran.
"Kami telah menemukan identitas gadis yang melompat di sungai kemarin sore." kata Gilang.
Mereka membahas gadis yang bunuh diri itu. Zuin makin mempertajam telinganya meski matanya terus menatap ke tv yang sedang menyiarkan berita bola. Dia sudah tidak seperti semalam yang lagi, yang akan berubah kaku dan takut saat mendengar pembahasan tentang gadis yang melompat didepan matanya itu. Semalam dirinya terlalu syok. Siapa coba yang tidak akan syok ketika seseorang tiba-tiba bunuh diri dihadapan mereka. Tapi Zuin adalah tipe gadis yang akan cepat melupakan hal-hal seperti itu dan cepat beradaptasi. Apalagi semalam terjadi ciuman panas antara dirinya dan Dastin karena masalah itu. Dastin sengaja menciumnya untuk membuatnya lupa pada kejadian di sungai. Sialnya, Zuin memang langsung melupakan kejadian tersebut, dan terbayang-bayang akan ciuman hot Dastin padanya.
Dari arah sofa, Dastin sedikit memiringkan kepalanya menatap Zuin. Ia dan yang lain memang sibuk membahas pekerjaan mereka tapi bukan berarti ia tidak melihat gadis itu yang masuk tadi. Dastin menyunggingkan bibirnya. Pria itu mengingat semalam ketika ia terbangun dari tidurnya dan malah Zuin yang tertidur. Dastin bahkan sempat mencuri ciuman dibibir Zuin lagi sebelum mengantar gadis itu kembali ke kamarnya. Tapi bukan ciuman panas penuh gairah seperti laki-laki itu mencium Zuin pertama kali. Ciuman kedua semalam penuh ketulusan yang membuktikan bahwa dia benar-benar menyayangi Zuin. Bukan hanya bermain-main atau tertarik sesaat. Dastin sadar ia sungguh-sungguh menyukai Zuin sebagai seorang wanita. Dan perasaan itu begitu tulus. Ini pertama kalinya ia mengakui kalau Zuin adalah perempuan pertama yang membuatnya tertarik. Dan dia berharap gadis itu juga akan menjadi yang terakhir.
"Nama gadis itu Velya. Ia berteman dekat dengan siswi yang meninggal di SMA 5. Siswi yang kasusnya sedang kita selidiki." suara Gilang terdengar sangat jelas ditelinga Zuin. Oh, ternyata begitu. Gadis itu manggut-manggut.
__ADS_1
Di tempatnya, Dastin kembali fokus.
"Bagaimana dengan penyelidikan kemarin, kalian berhasil menemui orangtua gadis itu?" tanya Dastin melirik Rivo dan Sari. Mereka membagi tugas kemarin, Rivo dan Sari bertugas menemui orangtua korban.
"Kami memang bertemu dengan orangtua korban, tapi tidak banyak informasi. Mereka sama sekali tidak tahu kemana saja gadis itu pergi dan siapa yang dia temui di malam sebelum dirinya terbunuh. Tapi kata orangtuanya, ada beberapa teman sekolah yang sempat ke rumah menjemputnya malam itu. Hanya saja mereka tidak tahu siapa saja teman-teman gadis itu. Mungkin kita bisa mengumpulkan lebih banyak informasi dari sahabat-sahabat dekatnya." Rivo menjelaskan panjang lebar. Setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya, ia menatap Gilang dan Ayyara bergantian. Mereka yang bertugas menyelidiki di sekolah korban.
"Sekolah tidak memberi ijin pada kami berbicara dengan teman-teman korban. Karena ini kasus pembunuhan dan sangat sensitif, pihak sekolah khawatir anak-anak akan terganggu dan malah menganggu mental mereka. Pihak sekolah hanya mengijinkan kita berbicara dengan wali kelas korban. Tapi wali kelas korban tidak tahu apa-apa. Kita harus memikirkan cara lain." kata Gilang. Ia masih kesal mengingat betapa sulitnya pihak sekolah untuk di ajak kerjasama kemarin.
"Kalau gadis yang bunuh diri di sungai dan gadis yang mati terbunuh itu bersahabat, ada kemungkinan kematian keduanya berhubungan." kali ini Gean yang angkat suara. Pikirannya sama dengan Dastin. Tapi mereka tidak bisa seenaknya asal menyimpulkan. Setidaknya harus di selidiki dulu kebenarannya.
"Aku ada ide!" seru Gilang. Semua memandangnya.
"Harus ada yang pura-pura menjadi murid SMA untuk mendekati teman-teman mereka." tambah Gilang menyampaikan idenya.
__ADS_1
Dastin dan yang lain ikut berpikir. Ide Gilang memang cukup bagus. Tapi umur mereka tidak cocok lagi. Pakai seragam SMA pun Dastin yakin mereka tetap tidak akan terlihat ABG sama sekali.
"Idemu itu cukup baik, tapi aku rasa di antara kita tidak ada yang cocok jadi anak SMA." kata Dastin. Gilang terkekeh. Benar. Ia juga sempat berpikir tadi.
"Bagaimana kalau aku saja?"
Seru Zuin semangat. Suaranya yang cukup kuat berhasil membuat semua orang yang tengah sibuk menyusun strategi tersebut menatapnya. Zuin masih fokus mendengar pembicaraan mereka sejak tadi. Dan ia merasa tertarik. Itu sebabnya ia sengaja mengajukan diri karena menurutnya dia yang paling cocok jadi anak SMA.
"Tidak bisa, aku tidak setuju." tolak Dastin langsung. Ia tidak mau melibatkan Zuin. Sungguh Dastin tidak mau terjadi sesuatu pada gadis itu.
Zuin berdiri dan berjalan mendekati mereka. Wajahnya tampak keberatan saat menatap Dastin. Harusnya laki-laki itu senang karena dia mau membantu mereka. Menurutnya dia yang paling cocok berpura-pura jadi anak sekolah di antara mereka. Kan dia belum terlalu lama lulus SMA.
"Kenapa? Aku bisa membantu kok. Daripada sendirian di vila ini." sembur Zuin, pandangannya fokus ke Dastin sambil berkacak pinggang. Dastin balas menatap gadis itu tajam. Sebelum lelaki itu bicara lagi, Rivo sudah lebih dulu bicara.
__ADS_1
"Aku pikir tidak ada salahnya Zuin mencoba." kata pria itu. Zuin mengangguk kuat. Ia senang ada Gean. Yang lain pun setuju-setuju saja. Hanya Dastin yang merasa keberatan. Demi keselamatan Zuin.
"Kau tenang saja, aku janji tidak akan mengacau." janji Zuin menatap Dastin. Dastin sendiri masih tidak setuju. Pandangannya fokus ke Zuin. Otaknya berpikir keras. Bukan masalah mengacau, masalahnya dia tidak mau Zuin kenapa-napa. Dastin harus berpikir berulang kali sebelum dia setuju.