Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
66


__ADS_3

Karena merasa kasihan pada Zuin yang tak mampu menghabiskan makanan tersebut, Dastin akhirnya membantu gadis itu. Padahal ia sendiri sudah kenyang. Tapi tidak apa-apa dia makan lagi sisa makanannya Zuin.


"Habis ini mau kemana?" tanya Zuin menyandarkan diri ke sandaran kursi sambil mengusap-usap perutnya yang terasa penuh karena kekenyangan. Setelah menelan makanan di sendok terakhirnya, Dastin menatap gadis itu. Merespon pertanyaan Zuin.


"Anterin kamu pulang, sesudah itu lanjut kerja." ujar Dastin santai. Zuin malah tidak setuju mendengar perkataan pria itu. Enak saja langsung pulang. Tadi kan kata Dastin bilang pria itu akan menemaninya belanja ke mall. Walau Zuin tahu tadi itu hanya karangan Dastin, tapi tetap saja dia akan menagihnya. Zuin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Pokoknya dia akan menguras uang pria itu.


"Aku belum mau pulang. Kamu lupa bilang apa tadi? Mau temenin aku me mall kan? Pokoknya kita harus ke mall titik. " ujar Zuin tak mau tahu. Dastin sendiri tidak merasa kaget lagi dengan perkataan gadis itu. Ia sudah menduga Zuin akan meminta hal itu, tapi sore ini dia masih punya beberapa pertemuan penting. Termasuk dengan ayahnya gadis itu. Ada beberapa pekerjaan yang perlu Dastin selesaikan dan butuh bantuan profesor Barry.


"Zuin dengerin aku, aku masih ada pertemuan penting sore ini. Kita cari waktu lain saja yah." ucap Dastin. Ia bisa lihat raut wajah Zuin berubah. Pria itu merasa tidak tega, tapi apa boleh buat, dia memang tidak bisa membatalkan rencananya sore nanti.


"Tadi kan katamu pekerjaan kamu sudah ditunda." Zuin masih ingat Dastin bilang begitu tadi.


"Aku hanya berbohong Zuin. Kamu tahu kan aku sengaja bilang begitu didepan laki-laki tadi. Karena aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan pria itu. Perasaanku bilang dia suka kamu." balas Dastin. Perasaannya tidak mungkin salah. Jelas sekali sih Kyle itu memang menyukai Zuin. Mata pria itu tiap kali menatap calon istrinya ini tidak bisa berbohong. Zuin sendiri hanya diam sambil terlihat berpikir. Memangnya iya Kyle menyukainya?


Tapi Zuin hanya berpendapat Kyle memperlakukannya dengan baik karena dirinya adalah anak dari sahabat pria itu. Masa sih, Kyle suka sama putri sahabatnya sendiri. Tapi... Kalau di ingat-ingat, Zuin memang menyadari ada beberapa kali tiap mereka bertemu, tatapan Kyle padanya sedikit berbeda. Namun waktu itu Zuin langsung membuang pikirannya jauh-jauh karena bisa saja dia yang salah. Semoga saja Kyle tidak menyukainya seperti yang dikatakan oleh Dastin. Gadis itu lalu merasakan bahunya dipegang. Ia mendongak ke Dastin.

__ADS_1


"Aku akan menebus jalan-jalan kita akhir pekan nanti, bagaimana? Aku janji kali ini tidak akan ada gangguan. Aku akan menemani kamu kemanapun seharian itu." gumam Dastin memberi kepastian sambil menatap mata Zuin lekat. Mau tak mau Zuin menganggukan kepala. Lagian, dia juga tidak mau mengganggu pekerjaan pria itu demi kesenangannya sendiri.


                                    ***


Sesuai janji Dastin, mereka melakukan apapun yang dilakukan orang-orang untuk bersantai di akhir pekan. Nonton, makan, jalan-jalan, dan belanja. Setiap detiknya terasa menyenangkan, mereka mengobrol tanpa henti, dan hari ini Zuin baru sadar ternyata dia dan Dastin kalau tidak sedang bertengkar, keduanya sangat cocok dalam pembicaraan apapun dan menyadari bahwa mereka punya banyak sekali kesamaan minat. Dastin yang super pintar menurut Zuin itu pun bisa mengimbanginya yang masih banyak sekali kekurangan.


Bersama Dastin seharian pun terasa begitu sekejap saking menyenangkannya. Tanpa sadar hari sudah beranjak malam. Ketika mereka mengendarai mobil hendak pulang, Zuin menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi penumpang, menatap Dastin dalam senyuman. Setelah di pikir-pikir, hari ini mereka berdua tidak saling berdebat sama sekali.


"Dastin," gumam gadis itu pelan.


Dastin menoleh sedikit dan kembali fokus ke jalan lagi.


"Apa yang kamu suka dari aku?" pertanyaan tersebut spontan membuat Dastin menoleh lagi. Kali ini pria itu memilih berhenti dan memarkir mobilnya dipinggir jalan sebentar. Jalanan mulai sepi. Hanya satu atau dua mobil yang lewat secara bergantian di jalanan itu.


"Kok berhenti?" tanya Zuin lagi dengan wajah bingungnya. Dastin menatap wajah gadis itu lekat-lekat. Tatapannya dalam dan membara. Hingga membuat Zuin salah tingkah. Ia tidak kuat kalau Dastin terus-terusan menatapnya begini. Jemarinya saling meremas, dan gadis itu menelan salivanya.

__ADS_1


"Cantik." gumam Dastin pelan. Tatapannya begitu dalam, sebelah tangannya terangkat menyapu pipi tembem Zuin sampai-sampai Zuin bergetar menahan rasa gugupnya. Ia jadi menyesali pertanyaannya tadi. Kalau tahu Dastin akan melakukan hal-hal yang membuatnya malu, dia tidak mungkin bertanya begitu.


"Semua tentangmu aku suka." gumam pria itu lagi dengan nada menggoda. Kali ini jemarinya menyapu permukaan bibir Zuin. Tangannya yang lain meremas jemari Zuin dengan sebelah tangannya, penuh kelembutan.


"Bagaimana ini, aku tidak tahan lagi sayang. Aku ingin menciummu."


Dada Zuin membuncah dipenuhi oleh perasaan berbunga-bunga yang pekat. Gawat! Dastin sudah berhasil  menerobos hatinya, membuatnya tidak bisa menahan lelaki itu. Zuin  sepertinya sudah jatuh cinta kepada Dastin. Beberapa waktu ini dia memang masih sempat ragu, tapi hari ini dirinya makin yakin. Lalu mata Zuin tertutup dengan sendirinya. Memberikan lampu hijau kepada Dastin. Gadis itu jadi lupa kalau mereka masih berada dalam mobil.


Tak lama setelah gadis itu menutup mata, ia kemudian merasakan bibir kenyal dan basah itu menempel dibibirnya. Memagutnya dengan lembut dan penuh perasaan. Ciuman itu berlangsung cukup lama, sampai bunyi klakson mobil dari belakang menyadarkan mereka. Zuin cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia malu menatap Dastin. Namun tingkah malu-malunya membuat Dastin malah makin merasa gemas.


"Lusa kosongkan jadwalmu." ucap Dastin bersiap-siap mengemudi lagi. Zuin menoleh menatap pria itu.


"Buat apa?"


"Kau akan tahu nanti." sahut Dastin sambil tersenyum tipis. Sudah waktunya status gadis itu berubah menjadi istrinya. Ia sudah menahan diri beberapa hari ini agar tidak terlalu terburu-buru, sayang pria itu kini merasa tidak sanggup lagi. Apalagi melihat ada laki-laki lain yang rupanya sedang mengejar Zuin juga. Mengingat itu, Dastin tidak mau berlama-lama lagi menikahi Zuin.

__ADS_1


__ADS_2