Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
32


__ADS_3

Setelah puas menikmati pemandangan indah desa itu, Dastin dan timnya beranjak dari situ menuju vila tempat mereka akan menginap nanti. Vilanya memang tak jauh dari situ. Mungkin jaraknya sekitar lima ratus meter tapi tetap harus ditempuh dengan mobil. Tidak mungkinkan mereka jalan kaki dan meninggalkan mobil mereka di tempat ini. Dastin sudah menghubungi sih pemilik vila. Ia sudah melihat-lihat gambar vila tersebut sebelum datang ke desa ini. Menurutnya, kondisi tempat itu baik dan berada di posisi yang nyaman, juga strategis.


Tak butuh waktu sampai lima menit, akhirnya mereka sampai di sebuah vila lantai dua dengan taman didepan kiri rumahnya. Disebelah kanan rumah terdapat garasi yang cukup besar, bisa muat sampai tiga mobil. Pintu masuk rumah berwarna kayu, selaras dengan dinding kayu vila tersebut.


Seorang perempuan tua keluar dari dalam rumah dan menyambut mereka dengan gembira. Mungkin itu pembantu yang mengurus vila ini. Karena setahu Dastin, pemilik aslinya tinggal di Kota.


"Pak Dastin Lemuel?" tanya perempuan tua itu menatap bergantian pada keempat pria didepannya. Zuin menyimpulkan perempuan itu sedang mencari tahu dimana yang bernama Dastin di antara mereka.


"Tuh, yang paling jelek bi yang bibi cari." tunjuk Zuin dengan wajah tanpa dosa. Yang lain menahan tawa mereka. Hanya Ayyara tentu saja yang tidak suka dengan kata-kata Zuin karena jelas sekali ia sedang mengajak Dastin, perempuan tua itulah yang merasa bingung. Dastin sendiri hanya menahan rasa jengkelnya pada Zuin. Sudahlah, lagipula ia sudah terbiasa dengan seluruh kelakuan Zuin yang sering sekali membuatnya kesal itu.


"Jelek? Tampan begini masa dibilang jelek non." perempuan tua itu berseru heran. Dimatanya, Dastin malah sangat tampan.


"Oh ya, perkenalkan nama saya Surma. Kalian bisa panggil saya bi Surma. Saya pembantu yang mengurus vila ini. Dan saya sudah mendengar dari majikan saya kalau pak Dastin sama tim bapak telah menyewa tempat ini. Eh maksud saya den Dastin. Panggil aden aja yah, keliatannya kalian semua masih muda. Jadi nggak enak manggil bapak. Pada ganteng-ganteng semua lagi." kata bi Surma panjang lebar dengan senyuman lebar yang merekah dibibirnya. Dastin balas tersenyum ramah. Baginya tidak ada masalah sama sekali kalau perempuan tua itu mau memanggilnya apa saja. Asal jangan anjing aja.


"Mari masuk den, silahkan." kata bi Surma lagi mempersilahkan mereka semua masuk ke dalam.

__ADS_1


Ternyata vila itu sangat luas. Dari luarnya saja yang kelihatan kecil. Didalamnya besar dan dari samping kiri rumah terdapat dinding kaca yang langsung mengarah ke kolam berenang air panas. Kalau keluar lewat belakang rumah, mereka langsung bisa melihat jajaran kebun teh yang dikelilingi dengan pemandangan yang begitu menawan. Letak vila itu terletak ditengah pegunungan, makanya suhunya juga begitu dingin.


Zuin sampai-sampail merasa tubuhnya menggigil karena kedinginan. Mana dia tidak bawa jaket tebal lagi. Padahal dia ingat Dastin sempat mengingatkannya tadi tapi dia cuek saja. Akhirnya sekarang dia sendiri yang tersiksa. Meski begitu, Zuin tetap menikmati pemandangan didepannya tersebut, jarang-jarang kan ia datang ke tempat begini. Ia merasa seperti sedang pergi liburan. Tangannya sibuk mengelus-elus bagian tubuhnya yang terasa dingin.


Tiba-tiba sesuatu menimpa tubuhnya dan menutupi kepalanya. Rasanya memang tidak sakit, tapi membuatnya kaget. Apa sih. Dongkolnya. Ia lalu mengambil benda yang hinggap di kepalanya tersebut. Jaket? Ia terus melihat jaket abu-abu ditangannya dan langsung tahu siapa pemiliknya. Gadis itu menengok ke belakang. Benar saja, Dastin sudah berdiri di sana dengan pakaian tangan panjang yang tipis. Karena jaketnya ada pada Zuin.


"Pakai itu. Lain kali kalau disuruh bawa jaket denger. Kau mau mati kedinginan di sini?" kata pria itu tidak ketus juga tidak lembut. Biasa saja. Zuin mencebik namun tidak melawan. Mau melawan apa coba kalau memang dia yang salah.


Dastin dan yang lainnya sudah masuk sejak tadi setelah berkeliling tempat itu. Ketika berada di dalam rumah, Dastin baru menyadari dirinya tidak melihat keberadaan Zuin. Tentu saja pria langsung menengok ke segala arah. Ia pikir Zuin sedang di toilet, ternyata kata Gean ia lihat gadis itu masih di kebun belakang rumah.


Setelah mendengar perkataan Gean, Dastin buru-buru berjalan ke arah dapur dan keluar. Ia mengingat Zuin tidak memakai jaket bahkan baju lengan panjang. Hanya kaos berlengan pendek. Semua pakaian yang dipakai gadis itu hari ini berbahan tipis. Dastin berdecak kesal mencari-cari keberadaan gadis itu. Ia kesal karena sudah tahu udara di sini dingin sekali, tapi gadis itu malah tetap keasyikan berada di luar sana.


"Kenapa masih di sini?" tanyanya kemudian. Pandangannya kini lurus kedepan, ikut menatap pemandangan yang indah didepan mereka.


"Seneng aja liat pemandangan di sini."   sahut Zuin. Dastin lalu memiringkan kepala menatapnya cukup lama sampai-sampai membuat gadis yang ditatapnya tersebut menjadi canggung.

__ADS_1


"K..kenapa? Memangnya aku salah?" sembur Zuin menutupi rasa gugupnya. Wajah Dastin sangat tampan, apalagi kalau dilihat dari jarak sedekat ini. Bagaimana dia tidak gugup coba. Lalu dia merasakan jemari lelaki itu meraih pergelangan tangannya dan menariknya pelan pergi dari situ.


"Mau kemana?" tanya Zuin.


"Masuk, kau belum makan dari siang."


Dastin ingat gadis itu belum mengisi perutnya dari tadi. Memang siang tadi mereka mampir sebentar di restoran untuk makan siang tapi Zuin tidak. Karena gadis itu tertidur pulas. Dastin sudah berusaha membangunkannya tapi Zuin menolak, tidak mau bangun. Akhirnya pria itu menyerah.


Zuin sendiri belum merasa lapar. Ia tidak berselera makan. Lagipula, memangnya ada makanan? Mereka kan baru sampai. Namun pertanyaan gadis itu tersampaikan juga. Ia melihat banyak menu makanan yang sudah tersedia di atas meja makan. Gadis itu menatap Sari yang berdiri tak jauh dari meja makan tersebut.


"Kak Sari, kau yang membuat semua makanan ini?" tanyanya. Sari menggeleng.


"Bi Surma yang buat. Kan dia udah dibayar full buat nyiapin makanan kita selama di sini." jelas Sari. Zuin mengangguk-angguk mengerti. Benar juga ada bi Surma.


"Ngomong-ngomong, bi Surma ke mana?" tanyanya lagi karena tidak melihat perempuan tua itu.

__ADS_1


"Udah pulang Zu." sahut Sari.


"Nih, cepat makan." Dastin menyodorkan piring ke tangan Zuin. Gadis itu mendesah panjang. Sebenarnya ia masih tidak berselera makan, tapi ia risih melihat Dastin yang memaksanya didepan yang lain. Jadi mau tak mau gadis itu mengambil piring yang disodorkan Dastin dan mengambil makanan. Daripada lelaki itu terus memaksanya.


__ADS_2