
Entah apa yang membuat Zuin terbangun dari tidurnya yang lelap, rasa sakit yang aneh di badannya, atau cahaya terang yang mendadak muncul entah dari mana. Zuin membuka matanya perlahan. Sekilas pandangannya terasa kabur, dan dia mencoba untuk memfokuskan dirinya.
Kamar itu, kamar dengan dinding yang bernuansa putih gading, membuatnya mengerutkan kening. Kamar siapa ini? Kenapa dia berada di sini? Kilasan-kilasan ingatan berkelebat dibenaknya. Semalam setelah puas meledek Dastin, dirinya merasa haus dan pergi ke dapur untuk mencari minum. Setelah itu, entah kenapa dia tiba-tiba merasa kepanasan dan sangat tersiksa. Kemudian Dastin datang. Lalu...
Dengan panik Zuin terduduk dari ranjang besar itu, dan selimutnya melorot hampir jatuh menutupi dadanya, melorot? Zuin menundukkan kepalanya, dan menyadari kalau dia telanjang bulat dibalik selimutnya, apa yang…. Gadis itu terdiam sebentar, kemudian teringat apa yang terjadi semalam. Ya ampun, gadis itu ingat sekarang. Dia dan Dastin semalam...
"Selamat pagi."
Suara maskulin itu terdengar dekat sekali dan Zuin menolehkan kepalanya kaget. Pemandangan di hadapannya membuat jantungnya bergejolak, Dastin ada di sana, di ranjang yang sama dengannya , mereka ada dalam selimut yang sama, Zuin menilik kepada selimut Dastin yang hampir saja melorot di pinggulnya, mereka sama-sama telanjang!
Zuin masih terperangah menatap pemandangan di depannya. Dastin berbaring disana sambil memandanginya, pria itu telanjang bulat di balik selimutnya, dan menatapnya dengan tatapan berhasrat yang memiliki. Dengan panik Zuin menarik selimutnya hampir untuk menutupi seluruh dadanya, tetapi gerakannya itu malahan membuat selimut Dastin melorot dan hampir memperlihatkan kejantanannya, dengan malu Zuin memalingkan kepalanya dan disambut dengan senyuman nakal Dastin.
__ADS_1
Zuin tidak tahu harus marah atau memperlakukan pria itu dengan cara bagaimana. Kalau mengingat kejadian semalam, dia juga tidak menolak pria itu. Semalam ia ingat, dirinya juga menikmati setiap sentuhan-sentuhan Dastin dibagian tubuhnya yang sensitif. Dibandingkan marah, Zuin jauh lebih malu sekarang.
Gadis itu kemudian menyadari rasa pedih di antara ke dua pahanya. Astaga! Dia sudah tidak perawan lagi. Apakah dia harus menangis? Tapi kenapa perasaannya malah tidak sedih sama sekali saat tahu keperawanannya di ambil oleh Dastin? Kau benar-benar sudah tidak waras Zuin. Kau gila! Umpat Zuin pada dirinya sendiri. Karena tidak tahu bagaimana caranya menghadapi Dastin, gadis itu langsung berdiri dengan selimut menutupi seluruh badannya yang masih telanjang, mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai, memakainya, lalu berlari keluar dengan terburu-buru tanpa melihat Dastin sedetikpun. Mudah-mudahan saja tidak ada yang melihatnya keluar dari kamar itu. Kalau tidak, gosip tentangnya yang bermalam dikamar Dastin akan tersebar.
Sementara itu Dastin hanya terkekeh melihat Zuin yang buru-buru kabur. Awalnya dia pikir gadis itu akan marah besar saat terbangun, tapi sepertinya Zuin malah malu dan memilih kabur.
"Dia malu." kekeh Dastin pada dirinya sendiri sambil senyum-senyum. Pandangannya berpindah ke bagian bawahnya yang masih berdiri tegak sejak tadi. Benda keras miliknya itu tegang lagi gara-gara Zuin.
"Wow…"
"Bagaimana pengalaman pertamamu?" tanya Gean. Ia dan Dastin sudah lama bersahabat, bahkan sebelum keduanya bekerja di BIN. Selama mengenal Dastin, Gean tidak pernah lihat pria itu berhubungan serius dengan wanita, apalagi tidur bersama. Dulu memang ada perempuan yang cukup dekat Dastin, tapi hanya sebatas dekat, tidak lebih dari itu. Dastin tidak pernah serius menjalin hubungan dengan lawan jenisnya apalagi setelah pria itu bekerja. Pekerjaan adalah kekasihnya. Tapi itu sebelum Dastin bertemu Zuin. Ketika pria itu bertemu Zuin, Gean bisa melihat perubahan besar dalam diri Dastin. Pria itu memperlakukan Zuin dengan berbeda. Jelas sekali itu, kalau tidak, mana mungkin Dastin mau membantu gadis yang semalam sangat tersiksa akibat obat perangsang. Dan Dastin melakukannya jelas sekali karena dirinya juga memang menginginkan Zuin.
__ADS_1
Setelah memakai baju, Dastin memilih duduk di sofa kamar. Gean tak memalingkan wajah dari pria itu. Menunggu sih ketua tim buka suara.
"Semalam adalah pengalaman yang paling menyenangkan. Aku tidak akan pernah melupakannya." ucap Dastin sambil mengingat kejadian semalam yang terjadi antara dirinya dan Zuin. Penyatuan mereka semalam sungguh membuat Dastin ingin terbang. Ingin melakukannya lagi dan lagi. Ia rasa dirinya tidak akan pernah puas walau lebih dari seratus kali mereka melakukannya, asalkan gadis itu harus Zuin.
"Dia tidak marah? Kalian melakukannya karena pengaruh obat yang diminumnya. Bagaimana kalau gadis itu marah kau merenggut kesuciannya dan dia tambah membencimu?" tanya Gean lagi. Itu juga yang dipikirkan Dastin tadi, namun melihat tampang Zuin tadi, entah kenapa ia merasa gadis itu tidak akan membencinya. Kalaupun nantinya Zuin marah, Dastin akan memikirkan cara agar gadis itu menerimanya perlahan-lahan. Dastin tidak tahu kenapa, tapi dia merasa dirinya makin tergila-gila pada Zuin.
"Bersiaplah. Kita akan segera kembali hari ini." kata Dastin mengalihkan pembicaraan.
\*\*\*
Sementara itu, ketika Zuin masuk ke kamar yang ia tiduri bersama Sari dan Ayyara, ia menyadari kedua wanita itu terus memandanginya. Berbeda dengan Sari yang menatapnya penuh keingintahuan di mana gadis itu tidur semalam, Ayyara menatap Zuin dengan penuh kecurigaan. Ia jadi curiga kalau Zuin yang meminum obat kuatnya yang dia berikan diam-diam untuk diminum oleh Dastin. Kalau apa yang Ayyara pikirkan memang benar, kebencian terhadap gadis itu makin bertambah. Apalagi membayangkan Dastin dan Zuin berada diatas ranjang yang sama dan melakukan adegan demi adegan itu…
__ADS_1
"Zu, kau tidur di mana semalam? Kenapa tidak balik ke kamar?" tanya Sari. Zuin berdeham memutar otaknya. Kira-kira apa alasan yang paling masuk akal? Tidak mungkin kan dia bilang dirinya tidur dengan Dastin.
"A..aku tidur di ruang tamu. Karena terlalu lama bicara ditelpon dengan papa sambil tidur-tiduran di sofa, aku malah tidak sadar ikut ketiduran. Ketika aku terbangun, sudah jam enam pagi. Hehe…" sahut Zuin memberi alasan. Sari mengangguk-angguk mengerti. Sedang, Ayyara, ia merasa Zuin berbohong. Wanita itu mendengus keras. Gadis sialan ini.. bagaimana caranya dia menyingkirkan gadis itu agar tidak muncul didepan Dastin lagi.