Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
67


__ADS_3

Zuin sedang duduk di dalam mobil, dalam perjalanan menuju sebuah gedung, sesudah dari butik langganan keluarga Dastin. Gadis itu merenung. Ini semakin lama semakin menakutkan, hari pernikahannya dengan Dastin akan dilakukan hari ini di kantor catatan sipil. Tanpa undangan, tanpa upacara, tanpa kue, dan tanpa satupun tamu.


Meski begitu, Dastin ingin Zuin memakai gaun pengantin agar terasa memang seperti pernikahan, meski tanpa pesta. Bukan berarti tidak akan ada pesta, tapi pesta pernikahan akan dilakukan nanti. Ketika waktunya pas untuk seluruh keluarga kedua belah pihak.


Hanya ada dua saksi nikah, Gean dan  Nevan. Zuin bahkan baru tahu pagi ini kalau dia akan segera menikah. Pantas saja sabtu kemaren Dastin sengaja menyuruhnya mengosongkan semua jadwalnya. Zuin memang tidak keberatan menikah dengan Dastin, hanya saja pria itu tidak bilang apa-apa kalau mereka akan melangsungkan pernikahan hari ini. Jelaslah dia kaget, kan dia tidak ada persiapan sama sekali.


Zuin bahkan baru tahu Dastin sudah mempersiapkan semuanya terutama menyangkut gaun pengantinnya. Karena selain hal itu, untuk masalah persiapan pesta seperti dekorasi, gedung, catering, dan lain-lain mereka tidak akan perlu mencemaskannya. Karena pesta pernikahan belum dibuat. Kalau mau, bisa saja Dastin membuat pesta yang meriah dan semewah mungkin, karena keluarganya juga memiliki jaringan perusahaan di bidang resor, perhotelan, dan restoran. Lelaki itu tinggal menjentikkan jarinya dan sebuah pesta yang megah pasti akan disiapkan dengan mudah.


Tetapi karena konsep hari ini hanya pernikahan secara hukum yang diadakan di kantor catatan sipil, Dastin harus menahan niatnya menyelenggarakan pesta besar dan memamerkan kecantikan istrinya ke orang-orang.


"Zuin, kau tidak apa-apa? Wajahmu tampak pucat." tanya Gean. Pria yang sibuk menyetir itu sesekali melirik Zuin. Tampaknya gadis itu sedang gugup. Gean saja kaget ketika Dastin dengan tiba-tibanya meminta dirinya menjadi saksi pernikahan pria itu dan Zuin hari ini. Dastin sendiri sudah lebih dulu ke kantor catatan sipil. Gean disuruh Dastin menemani Zuin ke butik untuk mengenakan gaun pengantin, sesudah itu mengantarnya ke kantor catatan sipil. Sekalian jadi saksi keduanya resmi menikah.


Zuin berusaha tersenyum. Ia sudah tegang sejak tadi. Dan ini semua karena Dastin yang tidak memberinya persiapan sama sekali. Mau mengamuk tapi percuma.


"Tidak apa-apa. Aku hanya gugup." ucap Zuin lalu menarik nafasnya dalam-dalam. Gean tersenyum. Memang keliatan dari wajah gadis itu. Kalau dia yang diposisi Zuin sekarang, dirinya juga pasti akan segugup gadis itu.

__ADS_1


"Rileks, kita akan segera sampai." Gean berusaha menenangkan. Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai mereka memasuki sebuah gedung tempat tujuan mereka.


Dan entah muncul darimana, Dastin sudah berdiri didepan Zuin ketika gadis itu turun dari mobil. Disebelahnya berdiri Nevan. Dastin  tampak gagah dengan jas resminya. Sangat cocok berdiri disebelah Zuin yang memakai gaun pengantin. Beberapa orang disekitar situ bahkan terpesona melihat pasangan tersebut.


Berbeda dengan Dastin yang cuek dan tidak peduli, Zuin malah menunduk malu-malu. Banyak mata melirik mereka. Jelaslah dia merasa malu. Gadis itu lebih malu lagi saat mendapati Dastin tengah menatapnya dengan begitu dalam.


"Ayo masuk." gumam Dastin meraih jemari Zuin. Gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya membiarkan Dastin membimbingnya ke dalam. Gean dan Nevan berjalan dibelakang mereka. Keduanya saling berpandangan sambil bertukar senyum.


Bagi Nevan sendiri, ia senang melihat Zuin yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri itu bisa menikah dengan laki-laki seperti Dastin. Menurutnya, pria seperti Dastin ini sangat jarang. Nevan sudah beberapa kali bekerja sama dengan pria itu, jadi ia termasuk sangat kenal Dastin adalah laki-laki yang seperti apa. Nevan percaya Zuin akan bahagia bersama pria itu.


Habis dari kantor catatan sipil, Zuin dan Dastin langsung pulang ke apartemen Dastin. Mereka berpisah dengan Gean dan Nevan didepan gedung. Dua pria itu akan kembali bertugas.


                                   ***


"Hufftt... Akhirnya sampai rumah juga." ucap Zuin menghembuskan nafas panjang sambil melepaskan sepatunya. Sepanjang perjalanan pulang tadi, jalanan sangat macet. Mereka baru sampai apartemen Dastin kira-kira hampir pukul tujuh malam. Dan seluruh badan Zuin juga Dastin sudah terasa lengket. Gaun pengantin yang dipakai gadis itu untungnya tidak berat dan simpel, jadi Zuin masih santai-santai saja mengenakan gaun itu sampai pulang.

__ADS_1


"Aku mau langsung mandi." ucap Zuin pada Dastin yang sedang duduk bersandar di sofa. Menghilangkan rasa lelahnya seharian ini.


Dastin mengangguk, matanya setengah tertutup saking capeknya. Zuin pun beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak lama kemudian, gadis itu keluar lagi dengan mengenakan baju tidur.


"Kau mau makan lagi nggak? Biar aku masak." tawar Dastin melirik Zuin sambil melepaskan jasnya. Ia sudah sadar sepenuhnya setelah tertidur beberapa menit tadi. Walau kelelahan, Dastin sadar sepenuhnya ia tidak boleh ketiduran sampai pagi. Besok dia akan sibuk sampai malam, itu sebabnya dirinya tidak boleh melewatkan malam ini. Tidak akan dia biarkan Zuin lolos dari genggamannya.


Meski tawaran Dastin terdengar menggiurkan, tapi Zuin tetap menggeleng. Mereka sudah makan tadi, dan dia masih kenyang. Dastin mengangguk. Pria itu juga masih kenyang. Kalau begitu sekarang dia akan mandi juga, sebelum melakukan ritual pasangan baru.


"Kalau begitu aku akan mandi. Kamu tidak diijinkan tidur dulu." kata Dastin sekaligus memperingatkan. Zuin hanya mengangguk tanpa memikirkan apa arti dibalik perkataan Dastin. Gadis itu tidak berpikir sampai sejauh itu karena dirinya memang belum kepikiran sampai ke sana.


"Oh ya, siapkan pakaian tidurku!" seru Dastin dari balik pintu kamar. Zuin langsung melongo. Apa-apaa... Lalu gadis itu menghembuskan nafas panjang. Benar juga. Sekarangkan dia dan Dastin sudah berstatus suami istri. Jadi wajar bagi Dastin memintanya menyiapkan pakaian pria itu. Zuin harus mulai membiasakan diri mulai sekarang.


Gadis itu ikut beranjak ke kamar, menyiapkan baju tidur Dastin. Ketika Zuin sibuk memilah-milah beberapa pakaian tidur di lemari Dastin, pria itu sudah keluar dari kamar mandi, setengah telanjang dada dan dengan rambut basah yang kini berdiri dibelakang Zuin.


Zuin langsung terperanjat hampir menjatuhkan pakaian Dastin yang sedang dipegangnya.

__ADS_1


__ADS_2