Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
82


__ADS_3

"ARRHGHH!"


suara teriakan itu sangat kencang menggelegar di seluruh lantai atas. Dastin dan Nevan yang telah mencapai pintu kamar Zuin saling berpandangan dengan heran. Mereka bengong sebentar. Setelah sadar kalau itu adalah suara Zuin, tanpa aba-aba Dastin langsung mendorong pintu kamar tersebut dengan sekuat tenaga. Laki-laki itu tiba-tiba menjadi panik, dalam pikirannya sekarang hanya ada Zuin.


Demi Tuhan, Dastin tidak tahu apa yang akan terjadi padanya kalau sampai sesuatu yang buruk menimpa Zuin. Ia tidak bisa. Zuin sudah membuatnya jatuh cinta setengah mati sampai-sampai ia bisa gila kalau kehilangan gadis itu.


"ZUIN!"


teriak Dastin panik. Matanya mencari-cari ke seluruh ruangan bernuansa pink itu namun tidak mendapati gadis yang ia cari. Nevan membantunya mencari di balkon kamar. Beberapa pembantu yang sempat mendengar teriakan anak majikan mereka pun ikut berbondong-bondong memasuki kamar tersebut. Tapi Zuin belum ketemu-ketemu juga.


Dastin mengusap wajahnya kasar. Dimana kamu sayang. Gumamnya dalam hati. Matanya terus mencari-cari. Satu-satunya tempat yang tidak terpikir oleh mereka adalah kamar mandi. Ketika pikiran Dastin dan Nevan sudah terbang kemana-mana, gadis yang mereka cari-cari tersebut berjalan keluar dari dalam kamar mandi sambil bersiul-siul girang.


Tentu saja pandangan semua orang fokus padanya. Terutama Dastin. Laki-laki itu melihat seluruh penampilan Zuin yang tampak baik-baik saja. Tak ada masalah sama sekali. Lalu, kenapa dia berteriak tadi? Apa Dastin salah dengar? Tidak, tidak mungkin. Karena Nevan dan para pembantu juga turut mendengar. Buktinya banyak. Didepan sana langkah Zuin berhenti ketika menyadari ada banyak orang dalam kamarnya.


"Dastin? Sejak kapan kamu sampai? Kok nggak bilang-bilang? Hai kak Nevan." seru Zuin menatap Dastin lalu menyapa Nevan dengan senyuman lebarnya. Ia tidak sadar semua orang didepan sana sejak tadi sedang tegang mencari-cari keberadaannya yang ternyata berada di dalam kamar mandi.


Nevan tersenyum tipis ke Zuin lalu melirik Dastin sekilas. Sepertinya pria itu benar-benar marah. Wajahnya merah padam dan tak ada senyuman sama sekali. Menyadari hal itu, Nevan memerintahkan kepada seluruh pembantu tersebut untuk keluar.


"Kalian semua keluarlah." katanya pada para pembantu. Setelah para pembantu itu keluar, Nevan ikut pamit pergi dan menutup pintu. Para pembantu masih setia berdiri di luar tak jauh dari pintu kamar Zuin. Pasti ingin mendengar pertengkaran suami istri tersebut. Namun Nevan mengusir mereka. Apa yang bagus coba dari menguping pembicaraan orang. Apalagi majikan mereka sendiri.


Sementara itu di dalam, Zuin menatap Dastin bingung. Pria itu terus menatapnya dengan ekspresi... Marah? Kenapa? Memangnya apa salahnya? Ia tidak merasa dirinya melakukan sesuatu yang membuat Dastin marah. Zuin malah sudah sangat patuh akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Kenapa teriak?" tanya Dastin datar.


Zuin mengingat-ingat. Ah benar. Tadi dirinya berteriak karena ada cecak yang jatoh di lantai kamar mandi. Waktu melihat binatang itu, Zuin lantas berteriak karena merasa geli. Normal bukan?


"Tadi ada cecak jatoh." sahut Zuin santai.


Dastin menutup matanya dalam-dalam, mengusap wajahnya kasar dan menghembuskan nafas kasar.


"Kenapa harus teriak kayak tadi? Kamu pikir ini hutan? Teriak-teriak tidak tahu diri seperti itu." kata Dastin ketus saking dongkolnya. Dirinya terlalu khawatir akan terjadi sesuatu pada Zuin, itu sebabnya ia tidak bisa menahan kekesalannya ketika melihat Zuin malah menatapnya dengan wajah polos tanpa tahu apa yang sedang ia rasakan tadi.


Senyuman di wajah Zuin menghilang seketika. Ia menatap Dastin bingung sekaligus kesal. Laki-laki itu kenapa sih? Ada masalah? Kok marah-marah tidak jelas begini? Memangnya apa salahnya?


"Kok marah-marah? Terserah aku dong mau teriak-teriak, kamar-kamar aku juga. Kalau nggak senang pergi saja sana!" balasnya tak kalah ketus. Ia tidak terima perkataan Dastin tadi karena merasa dirinya tidak ada salah apa-apa tapi suaminya malah memarahinya.


"Jangan mancing aku Zuin." katanya masih berusaha menahan diri.


"Siapa yang mancing, kan situ yang mancing duluan, marah-marah nggak jelas yee..." balas Zuin sambil bersedekap dada dengan dagu terangkat seolah menantang Dastin. Nadanya tetap ketus seperti tadi namun entah kenapa rasa kesal Dastin tiba-tiba reda diganti dengan tawa kecil karena merasa lucu. Gaya Zuin yang berdiri menantang didepannya kelihatan lucu. Lalu Dastin tidak tahan lagi untuk mencubit pelan pipi istrinya.


"Kok jadi kamu yang marah sih sayang." ucap Dastin gemas. Zuin malah membuang muka. tidak mau menatapnya.


"Ya udah, kalo gitu aku minta maaf." tambahnya. Zuin kembali menatapnya.

__ADS_1


"Lagian, datang-datang langsung marah-marah. Orang nggak salah apa-apa juga." celetuknya masih kesal.


"Iya-iya maaf. Habisnya teriakan kamu tadi bikin aku panik. Aku pikir kamu di culik." tutur Dastin yang sukses membuat mata Zuin melebar. Rumah papanya ini sangat banyak pengawalnya. Mereka ada di mana-mana. Bahkan ada yang berjaga-jaga di depan kamar Zuin, bagaimana caranya penculik bisa masuk coba? Dastin saja yang terlalu khawatir.


"Nggak ada yang berani culik aku Dastinku sayang, orang di mana-mana ada pengawalnya papa." katanya sambil berjalan pelan dan naik ke atas ranjangnya.


Dastin mengangguk setuju. Rumah papanya Zuin ini memang sangat aman. Hanya orang nekat yang berani menerobos masuk, kalau dia mau mati tentu saja. Pria itu ikut duduk di ranjang besar milik sang istri. Tiba-tiba ia terpikir sebuah ide.


"Sayang,"


"Mm?" Zuin kini fokus dengan ponselnya.


"Gimana kalau kita tinggal di sini saja untuk sementara? Sampai semuanya aman dan kasus yang aku tanganin selesai. Mau nggak?" Zuin mengangkat wajahnya. Tentu saja dia tertarik dengan tawaran Dastin. Itu yang mau dia bilang beberapa waktu lalu tapi dirinya masih ragu. Ia pikir Dastin akan menolaknya. Namun ternyata pria itu yang menawarinya lebih dulu. Tentu saja Zuin tidak akan membiarkan kesempatan ini begitu saja. Siapa juga yang akan menolak tinggal di rumah yang sudah bertahun-tahun ini ia tinggali, bersama papanya.


Dastin sendiri mengambil keputusan itu karena menurutnya Zuin jauh lebih aman tinggal di rumah ini. Dirinya kerja tiap hari dan selalu pulang malam, bahkan terkadang sudah tengah malam Dastin baru pulang. Tentu saja dia tidak mau Zuin tinggal sendirian di apartemen mereka menunggunya. Kalau di rumah ini, selain ada papanya, ada banyak pembantu dan pengawal yang berjaga. Dastin juga bisa tenang bekerja di luar seharian tanpa memikirkan keselamatan istrinya.


"Pasti maulah. Ini kan rumah aku sendiri, masa aku nolak." jawab Zuin senang.


"Tapi ada syaratnya."


kening Zuin terangkat. Matanya terus fokus ke Dastin. Tangan Dastin terangkat menggenggam jemari Zuin.

__ADS_1


"Aku pengen kamu lahirin anak buat aku." dan kalimat itu sukses membuat pipi Zuin merona.


__ADS_2