
Dastin bergegas ke rumah Barry ketika mendengar Zuin ada di sana. Yah. Ia menelpon Zuin karena tidak mendapati gadis itu ada di cafe temannya. Padahal Zuin sudah bilang akan pergi ke cafe dekat kampus tempat temannya bernama Nako itu bekerja.
Zuin sudah bercerita tentang Nako pada Dastin beberapa waktu lalu. Kenapa pria itu jadi sahabat baik Zuin dan apa saja yang dikerjakan oleh Nako. Awal-awal Dastin tidak terlalu kepo, namun menyadari Zuin yang terus menyebut nama pria itu dalam ceritanya, dan Zuin yang sering sekali bertemu dengan sih Nako di waktu-waktu kosongnya, Dastin tentu saja jadi penasaran dan bertanya.
Dan setelah tahu bagaimana Nako bisa dekat dan menjadi salah satu sahabat Zuin, Dastin bisa menerimanya. Tapi yang tidak pria itu terima adalah kalau Zuin ikutan pergi ke night club saat Nako sedang bekerja di sana malam hari. Jadi ia melarang Zuin pergi ke tempat seperti itu kalau tidak ada dirinya. Ia akan memberi ijin sesekali, dengan syarat dia juga ikut. Dastin tahu tempat seperti apa itu, jadi dia tidak mau Zuin diperalat oleh laki-laki tidak bertanggung jawab yang ingin memanfaatkan gadisnya. Apalagi Zuin cantik, banyak mata yang pasti akan terpikat pada kecantikan istrinya.
Karena tidak melihat keberadaan Zuin di cafe tersebut, Dastin menghubungi gadis itu. Ternyata Zuin sedang di rumah papanya. Katanya tadi papa gadis itu datang ke kampus dan membawanya pulang ke rumah mereka. Dastin pun keluar dari cafe tersebut, masuk ke mobil dan segera bergegas ke rumah profesor Barry. Bukan hanya untuk menjemput Zuin, ia memang ingin bertemu papa istrinya itu.
Pagi tadi Dastin baru mendapat kabar tentang alasan sebenarnya dibalik penculikan Ketty. Ia mendengar penjahat itu salah menculik. Laki-laki itu pikir Ketty adalah Zuin, ternyata salah. Jadi, yang diincar sebenarnya adalah Zuin. Gadis yang harusnya diculik adalah istrinya, bukan Ketty. Dan fakta tersebut membuat Dastin emosi. Dia harus membicarakan hal ini dengan Barry, karena ia tahu, orang pertama dibalik penculikan tersebut adalah musuh bisnis Barry. Ia sudah menyelidikinya.
Gerbang rumah Barry langsung terbuka ketika mobil Dastin sampai didepan rumah besar tersebut. Itu karena Nevan memang sudah menyampaikan pada salah satu pengawal yang berjaga di rumah tersebut untuk membukakan gerbang ketika Dastin datang.
Pandangan Dastin berkeliling ke segala arah. Rumah itu sebenarnya tak kalah luas dari rumah orangtuanya, hanya halaman yang membedakan. Halaman di rumah orangtuanya terbilang sangat luas. Itulah yang membedakan kedua rumah tersebut. Namun bangunannya sama-sama mewah.
"Dastin," Dastin menoleh ke arah panggilan setelah berhasil memarkir mobilnya di garasi rumah itu. Nevan berdiri tak jauh di sana. Dastin keluar dari mobil lalu berjalan mendekati Nevan.
"Lewat sini." ucap Nevan kemudian berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah besar tersebut.
Beberapa pelayan di dalam membungkuk hormat ke mereka. Namun dibanding orang-orang yang memakai seragam khas pelayan tersebut, Dastin melihat jumlah pengawal lebih banyak. Dia bisa mengerti karena profesor dan pebisnis terkenal seperti Barry pasti punya banyak musuh yang mengincar. Jadi wajar pria itu memperkerjakan banyak pengawal untuk perlindungan diri.
Pandangan Dastin menjelajah ke setiap sudut ruangan yang mereka lewati. Ketika sampai di ruang duduk, ia melihat papa Zuin tengah duduk di sofa sambil membaca buku. Tapi...
__ADS_1
Di mana istrinya?
Dastin terus menatap ke sekeliling ruangan mencari-cari, namun dirinya tidak menemukan keberadaan Zuin.
"Zuin ketiduran di kamarnya. Duduklah. Kau bisa menemui istrimu setelah ini." kata Barry ketika melihat Dastin telah berada di ruangan itu. Sekali melihat ekspresi Dastin, ia langsung tahu kalau lelaki itu pasti sedang mencari Zuin.
Dastin tersenyum tipis. Ternyata ia tidak bisa menyembunyikan keingintahuannya terhadap keberadaan Zuin pada Barry. Pria itu lalu duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan mertuanya. Nevan sendiri duduk di kursi yang lain.
"Bagaimana perkembangan kasus yang kau tangani?" Barry meletakkan buku yang dibacanya tadi di atas meja lalu menatap Dastin.
"Kami akan memulai penyelidikan tertutup besok. Beberapa mata-mata kami akan beraksi malam ini." jawab Dastin. Barry mengangguk-angguk. Gayanya benar-benar terlihat seperti seorang pemikir keras. Bagi Dastin, kasus yang sedang dia, dan timnya tangani saat ini memang penting. Namun ada yang jauh lebih penting dari semua itu.
Saat ini keselamatan Zuin adalah prioritas utama Dastin. Dan pria itu tahu Barry pasti memikirkan hal yang sama dengannya. Tak ada satu pun orangtua di dunia ini yang akan membiarkan anaknya berada dalam bahaya. Kalaupun ada, mereka tidak pantas di sebut sebagai orang tua.
"Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Barry lagi karena merasa Dastin ingin menyampaikan sesuatu padanya. Sebenarnya dia juga ingin membicarakan tentang Zuin pada pria itu, tapi dia akan memberikan Dastin kesempatan untuk bicara lebih dulu.
Dastin menarik nafas. Kemudian kembali berbicara.
"Ini tentang Zuin." gumamnya.
Barry mengernyitkan kening. Ternyata mereka ingin membicarakan wanita yang sama. Barry terus diam menunggu Dastin melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Kemarin sahabatnya diculik. Kau pasti kenal Ketty," Barry mengangguk.
Dastin melanjutkan.
"Penculik itu sudah tertangkap. Dan kami mendapatkan keterangan di balik penculikan tersebut."
"Mereka salah culik. Mereka pikir Ketty adalah Zuin." sambung Barry sesekali melirik ke arah Nevan yang duduk tak jauh dari pintu keluar.
"Kau sudah tahu?" Dastin mengangkat kepalanya bertatapan langsung dengan Barry. Pria itu mengangguk.
"Itu adalah salah satu alasan aku ingin bertemu denganmu hari ini." ujar Barry. "Dalang dibalik penculikan itu adalah Marlon. Dia pria licik yang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apapun yang dia mau. Kita harus selalu berhati-hati terhadapnya." lanjutnya.
Dastin mengangguk setuju. Ia juga sudah sempat menyelidiki tentang Marlon. Pria itu pernah beberapa kali masuk penjara namun masih bisa bangkit lagi setelah dibebaskan. Artinya, mereka tidak boleh memandang remeh Marlon. Kali ini Dastin sungguh-sungguh ingin membuat laki-laki jahanam itu mendekam di penjara selama mungkin agar tidak lagi mengusik kehidupan Zuin dan ayahnya.
"Kau tenang saja. Ada banyak anak buahku yang menjaga Zuin. Tiap menit, bahkan setiap detik aku akan memastikan mata mereka tidak pernah terlepas dari putriku sedikitpun. Zuin biar aku yang urus. Kau fokus saja dengan kasus yang kau urus. Itu tidak kalah penting." kata Barry panjang lebar. Mau tak mau Dastin mengangguk.
"Kalau begitu bisakah aku menemui Zuin sekarang?" tanyanya kemudian. Pandangannya beralih ke Nevan. Seolah mengatakan pada pria itu untuk mengantarnya ke kamar Zuin.
"Kalian menginap saja di sini malam ini. Zuin sudah lama tidak pulang ke rumahnya ini, ia pasti masih ingin tinggal." kata Barry. Dia sendiri masih tidak rela membiarkan putrinya dibawa pergi secepat itu. Apalagi mereka baru bertemu setelah berpisah beberapa bulan ini.
Dastin terlihat berpikir sebentar kemudian mengangguk. Setelah itu Nevan membawanya naik ke lantai dua, tempat kamar Zuin berada.
__ADS_1