
Malam ini Zuin menawarkan pada Ketty untuk menginap di apartemen Dastin saja. Karena ia tahu Ketty pasti masih trauma dengan kejadian penculikan tadi. Ia juga tak mau kejadian yang sama terjadi lagi ketika Ketty berada sendiri di apartemennya. Namun Ketty menolak tawaran Zuin dan meminta diantarkan ke rumah orang tuanya saja. Ketty bilang dia merindukan mamanya, jadi Dastin dan Zuin mengantar gadis itu ke rumah orangtuanya. Setidaknya gadis itu tidak tinggal sendirian, ada yang menemani dan menjaganya.
"Hufftt..." Zuin menghembuskan nafas panjang sambil bersandar di kepala tempat tidur. Mereka akhirnya sampai di apartemen Dastin sekitar pukul sembilan malam. Zuin merasa lelah seharian ini akibat penculikan Ketty yang terjadi tiba-tiba. Meski Zuin sudah bisa bernafas lega karena Ketty berhasil diselamatkan, namun ia penasaran apa motif dari sih penculik, menculik Ketty.
Setahu Zuin Ketty tidak pernah punya musuh atau menyinggung orang lain. Berbeda dengannya yang punya cukup banyak musuh. Zuin terus berpikir keras sampai seseorang nongol dari pintu kamar mandi.
"Lagi mikirin apa?" tanya Dastin yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil menyeka rambutnya dengan handuk. Dastin sengaja keluar tanpa handuk dililitkan di pinggangnya. Dulu juga kebiasaannya memang begitu. Lagipula ia tidak perlu malu, karena Zuin adalah istrinya. Badannya juga bagus, idaman para wanita. Jadi tidak ada salahnya ia pamer didepan sang istri. Sejak ia menikahi Zuin, seluruh tubuhnya milik gadis itu, begitupun sebaliknya.
Zuin menoleh ke samping, matanya melotot lebar seketika saat menyadari Dastin sama sekali tak mengenakan sehelai pakaian pun di tubuhnya. Refleks gadis itu menutup matanya karena malu.
"Apa-apaan..." seru gadis itu. Wajahnya merona.
Dastin malah terkekeh melihat tingkah malu-malu Zuin. Pria itu lalu naik ke ranjang dan duduk di sebelah sang istri, merengkuh bahu Zuin hingga menempel di dada bidangnya, kemudian berbisik pelan ditelinganya.
"Kenapa merem, kamu malu? Kan udah pernah liat." bisik Dastin serak setengah menggoda. Perkataannya malah membuat Zuin makin malu sekaligus gugup. Ia memang pernah melihat tubuh tel*njang Dastin, tapi tetap saja ia masih malu. Apalagi ketika matanya melihat benda keramat Dastin yang keras dan besar. Seolah siap untuk memasukinya lagi. Memikirkan itu Zuin menelan ludahnya. Ia masih tidak habis pikir bagaimana benda sebesar itu bisa muat ke daerah intinya.
__ADS_1
"Buka mata kamu," gumam Dastin sambil mengelus-elus lengan Zuin. Hari ini dirinya sudah sangat lelah dengan pekerjaan. Tapi masalah ranjang, tidak pernah ada kata lelah dalam kampus Dastin. Dia bisa bermain berjam-jam dengan perempuan yang dia cintai. Namun tentu saja ia akan mempertimbangkan keadaan sang istri dulu. Kalau memang Zuin masih kuat dan bisa melayaninya malam ini, mereka akan melakukannya. Kalau gadis itu banyak alasan, Dastin akan terus menggoda sampai sang istri tidak berani menolaknya lagi. Intinya, Dastin memang berniat memasuki Zuin lagi malam ini, mengingat sudah dua hari ia puasa.
"Sayang, boleh?" tanya Dastin ketika Zuin membuka matanya perlahan. Gadis itu menatap ke bawah, ke bagian antara paha Dastin. Ia bisa melihat bukti gairah pria itu yang menegang dan sudah berdiri tegak . Namun sebelum gadis itu mengangguk setuju, telpon Dastin berbunyi.
Dastin menggeram kesal. Dulu ia tidak pernah keberatan ada yang menghubunginya malam-malam begini. Tapi sekarang, tentu saja pria itu sangat amat merasa keberatan. Karena panggilan itu malah mengganggu waktu berduaannya dengan Zuin. Padahal baru saja ia mau enak-anak.
"Angkat telpon tuh." kata Zuin sambil menahan tawa. Ia senang melihat wajah kesal Dastin. Apalagi ketika pria itu mengangkat telpon dengan nada ketusnya.
Zuin tidak tahu persis dengan siapa Dastin berbicara. Tapi setelah itu pria itu berdiri, membuka lemari dan memakai pakaian santainya kemudian beranjak ke bagian meja tempat laptopnya berada, menghidupkan benda itu dan mulai mengerjakan sesuatu di sana.
"Ada yang harus aku kerjakan, jadi malam ini kamu bebas." ujar Dastin sambil mengusap-usap pipi Zuin dengan ibu jarinya. Zuin tersenyum sekalian mengangguk. Setelah itu Dastin menyuruhnya tidur lebih dulu sebelum kembali memeriksa pekerjaannya.
\*\*\*
Hampir dua jam Dastin berkutat dengan pekerjaannya didepan laptop. Pria itu akhirnya bisa bernafas lega karena apa yang dia kerjakan sejak tadi bisa selesai juga. Pria itu menguap lebar-lebar lalu merenggangkan badannya yang kaku akibat berkutat cukup lama di depan laptopnya.
__ADS_1
Ketika menoleh ke ranjang, ia tersenyum menatap Zuin yang telah terlelap dalam tidurnya. Dastin lalu bangkit dan naik ke tempat tidur. Matanya segar lagi menatap sang istri yang amat cantik dimatanya.
Dastin naik dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Zuin. Mata hitamnya tak lepas dari istrinya. Seperti tidak ada rasa bosan dalam dirinya, memandang wajah imut tersebut. Tiap kali Dastin melihat Zuin, ia merasa tenang dan nyaman.
Zuin menggeliat dalam tidurnya, hingga membuat Dastin menggeram. Bagaimana tidak? Pria itu baru menyadari kalau Zuin tidak mengenakan apa-apa dalam selimut. Tubuh gadis itu polos. Ya ampun, sejak kapan Zuin membuka bajunya? Apa istrinya sengaja mau menggodanya. Ketika Zuin menggeliatkan tubuhnya, selimut yang menutupi tubuh polosnya tersingkap dan menyajikan secara gratis pada Dastin, dua gunung yang kencang dengan pucuk yang mengacung tegak. Dastin mengingat rasanya, betapa lembut dan kenyalnya dua bukit itu.
Geraman keluar kembali dari mulut Dastin. Ia terjaga, kantuknya hilang seketika. Sesuatu antara kedua pahanya mengeras kembali. Dan hal ini tidak bisa dibiarkan atau kepalanya akan pening. Ia butuh kepuasan.
Dastin melepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan, menyingkap selimut dan membuangnya ke lantai, kemudian ia menindih tubuh Zuin. Kemudian mengecup beberapa kali bibir tipis gadis itu. Merah muda alami dan memiliki rasa manis yang tidak bisa Dastin lewatkan begitu saja.
Setelah puas *******, menggigit, serta bermain-main dengan bibir yang telah menjadi candunya, Dastin menyerukkan kepalanya di perpotongan antara leher dan bahu Zuin. Menghirup dalam-dalam aroma yang disukainya. Ia sudah menyimpan baik-baik aroma itu dalam otaknya. Aroma yang akan membuatnya merasakan kerinduan ketika mereka berjauhan.
Dastin lalu mengecup leher jenjang Zuin, dan memberi kissmark di sana.
"Mmpphh..." dalam tidurnya Zuin mendes*h. Dan Dastin makin tertantang melakukan yang lebih dari itu.
__ADS_1