Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
91


__ADS_3

Dastin mendorong Zuin terbaring di ranjangnya yang berseprai abu-abu. Dastin mengangkat kedua tangan Zuin, meskipun Zuin masih sedikit melawan. Sambil meletakkan kedua tangan Zuin ke atas kepalanya, dan bergerak menindih Zuin. Dan Zuin bisa merasakan benda keras milik Dastin yang kini menempel diperutnya.


"Kau sudah sangat basah sayang," Dastin melepaskan tangan Zuin dan mengecup bibirnya penuh gairah, jemarinya menyentuh kembali payudara Zuin, membuat seluruh tubuh Zuin menggelenyar,


"D...Dastin..." tubuh Zuin bergetar karena gairah,


"Betul sayang, ucapkan namaku," Dastin bergeser turun dan menunduk, lalu mengulum puncak pay*dara Dastin dalam bibirnya yang panas. Zuin mengerang setengah meronta,


"Mmph... Ahhh...." erangan itu membuat Dastin ingin menyerah kepada Zuin. Tubuhnya sendiri sudah sangat bergairah sampai terasa nyeri, Tetapi ia tahu betapa pentingnya mencumbu Zuin sebelum bercinta dengannya. Setelah bercinta nanti, ia pasti ingin mencicipi Zuin, lagi dan lagi dan dia ingin isterinya terus menginginkannya dengan hasrat yang sama besarnya.


Dastin menelusurkan tangannya ke bawah dan mengangkat pinggul Zuin. Zuin melingkarkan kedua kakinya di tubuh Dastin, mendekap Dastin ke tubuhnya, membuka diri,


"Belum, sayang," ketika Zuin membuka bibirnya untuk memprotes, Dastin menciumnya. Karena bibir Zuin telah terbuka, ciuman itu berlangsung dengan sangat sensual. Dastin menggoda Zuin dengan belaian dan jil*tan lidahnya dan kemudian mencicipi bibir Zuin dengan sedikit lebih dalam. Kedua tangan Zuin mencengkeram rambut Dastin, untuk sejenak Zuin tampak ragu, tetapi kemudian lidahnya membalas, membelai bibir Dastin dengan malu-malu dan hati-hati.


Zuin mengerang putus asa, put*ngnya mengencang dan mendamba. Mendambakan bibir Dastin yang panas dan lidahnya yang menggoda. Dan kali ini Dastin mengabulkan permintaannya yang itu, tidak mau membuat tersiksa lama-lama. Lelaki itu menundukkan kepalanya lagi, lalu mengisap put*ng Zuin dengan penuh gairah, memuja pay*dara Zuin bergantian, membuat tubuh Zuin menggeliat dan melengkungkan punggungnya.


Jemari Dastin bergerak dan menuju pusat gairah Zuin, tempat di mana rasa panas itu terus muncul ketika pucuk dadanya dihisap dengan penuh gairah oleh Dastin. Jemari itu melucuti jins Zuin dan menyusup ke balik celana dal*mnya, lalu menyentuh kewanitaannya. Dengan ahlinya Dastin menggerakkan jarinya, menelusuri dan menemukan titik paling sensitif di tubuh Zuin.


Jemari Dastin mengusapnya pelan dan tubuh Zuin seakan disetrum oleh listrik, dia mengigit bibirnya dan mengerang. Mata Dastin mengamati setiap reaksi Zuin dengan penuh gairah. Jemarinya menggoda lagi, kali ini menggesek titik sensitif Zuin dan kemudian melakukan usapan memutar.

__ADS_1


"Ahh..."


Erangan Zuin makin kencang, membuat mata Dastin berkabut penuh gairah. Lelaki itu menunduk ke telinga Zuin dan berbisik parau,


"Aku akan memuaskanmu," lalu dicumbunya telinga Zuin membuat gadis itu menggeliat penuh gairah. Dan kemudian dengan cekatan Dastin menel*njangi Zuin, membuat Zuin terbaring tanpa busana di atas ranjang itu.Tampak siap dan menggairahkan.


Dastin tak tahan lagi, kepalanya pening oleh gairah. Dan dengan begitu ahli Dastin kembali mencumbu Zuin, bibirnya ada di mana-mana, meninggalkan jejak panas dan basah di seluruh tubuh Zuin, dan...


Zuin menjerit ketika bibir yang panas itu menyentuh kewanitaannya. Lelaki itu mencumbu kewanitaannya tanpa ampun, memujanya. Menggunakan bibir dan lidahnya untuk menggoda Zuin. L*dah Dastin mengusap titik paling sensitif di kewanitaan Zuin dan kemudian lelaki itu mengh*sapnya, membuat Zuin memekik atas sensasi yang dirasakannya. Ketika Dastin memutuskan bahwa Zuin sudah sangat basah dan siap untuknya, lelaki itu melepaskan pakaiannya hingga tel*njang di depan Zuin.


Berapa kalipun Zuin menatap Dastin yang tanpa busana seperti itu pipinya akan merona, Dastin selalu tampak sangat....jantan.... Bahkan walau benda benda keras yang berada di antara paha Dastin itu sudah berulang kali memasukinya, ia masih saja berpikir apakah benda sebesar itu akan muat di dalamnya.


"Aku akan segera masuk, sayang. Bersiaplah karena malam ini akan lebih panjang dari malam-malam sebelumnya. " bisik Dastin parau lalu mengecup bibir Zuin sekilas. Zuin menelan ludah. Ia sudah pasrah.


Ketika Dastin menempatkan diri di antara kedua pahanya, Zuin membuka dirinya untuk Dastin, lelaki itu setengah menindihnya. Zuin bisa merasakan kejantanannya yang besar dan keras menggesek kewanitaannya, membuatnya menggeliat oleh sensasi nikmat itu.


Dastin menatap Zuin lembut, tapi ada api di sana, api yang penuh gairah, nafasnya sedikit terengah, sementara pinggulnya bergerak lembut.


"Kau selalu nikmat, Zuin." Dastin berbisik parau, lalu lelaki itu bergerak memasuki kewanitaan Zuin. Milik Zuin tetap terasa sangat sempit sehingga Dastin harus mendesakkan dirinya berkali-kali dengan kewalahan. Zuin benar-benar masih terasa seperti perawan. Sampai kemudian dengan menggertakkan giginya, Dastin menekankan dirinya dengan kuat, membuat Zuin merasakan rasa nyeri di kewanitaannya.

__ADS_1


"Aww... P..pelan, pelan..." Zuin


menjerit kecil.


"Kau sangat sempit sayang..." Dastin membenamkan dirinya dalam-dalam di diri Zuin, menyatu sepenuhnya, lalu diam sesaat. Kemudian kembali bergerak.


Dastin menggerakkan pinggulnya, membuat Zuin mengernyit. Tubuhnya menerima tubuh Dastin di dalamnya, membungkusnya dalam kehangatan yang rapat dan panas. Dastin terus memompanya. Semula pelan, lalu dengan ritme yang makin cepat, sesuai dengan gairah mereka yang makin cepat dan napas mereka yang makin tersengal,


"Oh ya ampun, kau rapat sekali Zuin.."


Dastin berbisik parau penuh gairah, ketika mereka sudah hampir mencapai puncak. Pinggul Zuin bergerak mengikuti Dastin membiarkan lelaki itu membawanya ke puncak kenikmatan yang begitu luar biasa. Sensasi gerakan tubuh Dastin pada penyatuan tubuh mereka luar biasa nikmatnya. Zuin akhirnya memejamkan mata ketika dia mencapai puncak itu, meledakkan dirinya dalam kenikmatan yang tak bisa dia ungkapkan, membuatnya melayang dan meleleh sekaligus. Dan samar dia mendengar Dastin mengerang, lelaki itu meledak di dalam tubuhnya dan memeluknya erat-erat.


Setelahnya mereka berbaring berpelukan, dipengaruhi oleh sensasi org*sme yang luar biasa dasyat. Dastin memeluk Zuin erat-erat, jemarinya menelusuri punggung Zuin yang telanjang, merapatkan tubuh perempuan itu ke dalam lindungan dada bidangnya.


Zuin menenggelamkan kepalanya ke dalam dada Dastin, menikmati debaran jantung mereka yang makin lama makin tenang. Org*sme membuatnya mengantuk, sebelum jatuh ke dalam tidurnya, Dastin kembali memasukinya, tidak membiarkan dirinya beristirahat sedikitpun.


"Ahh..."


kali ini Dastin makin ganas. Gerakannya makin liar jauh dari malam-malam sebelumnya hingga Zuin mencapai puncaknya berkali-kali sampai kewalahan. Ancaman Dastin tadi memang benar. Sepertinya dia tidak bisa berjalan lagi besok. Pria itu benar-benar menghukumnya tanpa ampun.

__ADS_1


"D..Dastin.. ampun.. ampun..ahhh..." tubuh Zuin menggelinjang hebat. Ia mengerang panjang mendapatkan pelepasannya untuk yang kesekian kalinya.


__ADS_2