Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
53


__ADS_3

Gean terus mengamati Zuin. Dia sempat memeriksa gadis itu tadi. Dan sebagai dokter, Gean cukup tahu apa yang terjadi pada gadis itu. Pria itu lalu melirik Dastin dengan ekspresi tak terbaca. Tentu saja Gean punya jawaban yang pasti pada ketuanya itu.


"Aku tidak yakin. Mungkin kau bisa mencoba mencuci muka dan rambutnya. Tapi sepertinya obat yang dia minum sangat keras, efeknya tidak akan hilang dengan cepat. Kalau dosis yang ada dalam kandungan obat itu memang sangat tinggi, efeknya bisa sampai semalaman. Dan tidak akan hilang begitu saja walau dia mandi. Hanya bisa hilang kalau kalian..." Gean menggantung ucapannya lalu menatap Dastin. Dastin sendiri tahu apa maksud dari perkataan Gean.


Lelaki itu menutup matanya dalam-dalam. Sialan. Sebenarnya darimana Zuin mengambil minuman yang sudah di campur barang haram tersebut? Siapa yang berani-beraninya memasukkan bubuk itu? Tidak mungkin Zuin mencampur untuk dirinya sendiri bukan? Itu tidak masuk akal. Pasti ada yang memang sengaja menaruh obat perangsang itu entah untuk siapa. Kebetulan saja Zuin yang kena sial karena harus menjadi korban.


Dastin merasakan Gean memukul bahunya pelan. Pria itu mendongak menatap Gean. Tangannya tak lupa menahan tangan Zuin yang masih asyik membelai perutnya agar tidak gadis itu tidak bergerak lebih jauh. Zuin sendiri heran kenapa dengan dirinya. Kenapa dia jadi suka menyentuh lawan jenisnya seperti ini? Tapi tubuhnya tidak bisa menolak gairahnya yang kian memuncak. Zuin lalu menempelkan dibelakang kepala Dastin dan mulai mengendus-endus leher pria itu. Sesekali Dastin menggeliat tapi ditahannya.


"Aku akan memberikan kalian ruang berdua. Aku bisa tidur di sofa malam ini. Kau juga bisa mengambil keputusanmu sendiri." ucap Gean sambil mengedipkan matanya ke Dastin.


"Ohya, jangan khawatir. Aku pandai menyimpan rahasia." tambahnya lagi sebelum benar-benar menghilang dari ruangan itu.


Dastin menghembuskan nafas panjang. Sungguh ia merasa sangat dilema. Ditatapnya Zuin yang terus bergerak-gerak dibelakangnya lalu menghentikan gerakan gadis itu dan mengangkatnya menuju kamar mandi. Pria itu mengarahkan kepala Zuin ke wastafel kamar mandi berencana ingin membantu membasuh wajah gadis itu sekalian mencuci rambutnya.


Tapi sebelum berhasil, Zuin langsung   melompat ke badannya, memeluknya kuat-kuat dengan kaki melingkar di pinggang pria itu. Dastin jadi kesulitan. Zuin kembali menggesek-gesek tubuhnya di antara pahaDastin hingga pria itu mengerang frustasi. Oh tidak, pria itu merasakan miliknya mengeras. Zuin tidak berhenti-berhenti menggodanya.


Dastin terdiam mematung. Tangannya menahan badan Zuin. Gerakkan Zuin sungguh membuat Dastin makin tersiksa. Pria itu tidak bisa menahan diri lagi. Dastin benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi. Apapun yang akan dia lakukan pada Zuin malam ini, dia berjanji akan bertanggung jawab nanti. Baiklah. Lagipula gairah pria itu sudah memuncak. Zuin membutuhkan bantuannya, dan dirinya sendiri ingin sekali memiliki gadis itu.


Dastin kembali melangkah keluar kamar mandi dan berhenti di atas ranjang, membaringkan Zuin yang masih menggeliat di atas kasur tersebut, Gadis itu menatap Dastin dengan mata berkabut.

__ADS_1


"Aku sakit….tubuhku… panas…tolong..." Dastin tersenyum. Hanya ada satu cara untuk menyembuhkan Zuin dari kesakitannya. Dan gadis itu membutuhkan Dastin untuk itu.


Pria itu mencondongkan tubuhnya dan menyapu lembut bibir Zuin, mendapati mata Zuin membelalak kaget. Dastin tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Padahal saat gadis itu yang lebih dulu menggodanya tadi. Sekarang, ketika dicium, gadis itu malah kaget. Tapi sungguh luar biasa, ekspresi Zuin perpaduan antara kepolosan dan gairah yang kuat sungguh-sungguh menggodanya.


"Kau ingin aku membantumu kan?" bisik Dastin lembut. Zuin menatap pria itu, atau setidaknya mencoba menatap dengan matanya yang sulit fokus,


"Sebenarnya... a...apa yang terjadi padaku?"


Dastin mengulurkan jemarinya, dan menyapukannya di pipi Zuin, membuat tubuh gadis itu bergetar.


"Ada yang mencampurkan obat di minumanmu..."


"Obat…? Apakah aku diracuni?"


Zuin butuh waktu sesaat untuk mencerna, sampai kemudian menyadari arti kata-kata Dastin. Pantas saja tubuhnya terasa aneh sekali seperti ini. Ia beringsut ke pinggir tempat tidur, ingin menghindari Dastin, tapi obat sialan itu membuatnya merasa sangat kesakitan dan gelisah. Ia ingin sekali mendapatkan sentuhan pria itu.


"Kau ingin aku membantu menyembuhkan rasa sakitmu?" tanya Dastin. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Pria itu sudah sangat siap malam ini. Ia siap membantu Zuin dan memuaskan dirinya sendiri. Karena Zuin tidak menjawab juga, Dastin menganggap gadis itu sudah setuju.


"Aku akan mulai..." sambil berbicara, tangan Dastin yang bebas mulai turun ke dada Zuin, Zuin mengerang ketika merasakan jemari Dastin diarea sensitifnya.

__ADS_1


"Kau membutuhkan pelampiasan dengan segera bukan?" tangan Dastin lalu bergerak turun ke pusat gairah Zuin.


"Mmph..." Zuin mengerang kuat dan mencengkeram lengan Dastin. Ia merasakan sesuatu yang aneh namun membuatnya seperti mau terbang. Baru pertama kali seseorang menyentuhnya dibagian itu.


"Katakan kalau kau ingin aku berhenti." suara Dastin terdengar sedikit parau,


"Aku ingin membantumu. Aku juga menginginkannya. Tapi kalau kau tidak siap, aku akan berhenti." ucap Dastin lembut. Tak ada jawaban dari Zuin. Membuat Dastin kembali mengerakkan jemarinya.


Zuin kembali mengerang ketika denyutan itu meningkat seiring dengan sentuhan Dastin. Otaknya ingin memberontak atas apa yang dilakukan pria itu dengan jari-jarinya, tapi tubuhnya tak kuasa menolaknya. Zuin membutuhkan jemari Dastin itu…. Ia membutuhkan…


"Ahh..." Zuin memekik pelan ketika Dastin mendorong tubuhnya ke ranjang dan menindihnya. Entah sejak kapan tubuh keduanya sudah tak terbalut sehelai benang pun. Dan Zuin bisa merasakan milik Dastin mulai memasuki bagian intinya perlahan-lahan. Dastin memperlakukan gadis itu dengan sangat lembut karena ini adalah pertama kalinya bagi keduanya.


"Tahan sebentar..." erang Dastin.


"Aahhh..." pekik Zuin kuat. Airmatanya terjatuh karena merasakan kesakitan akibat milik Dastin yang besar berhasil memasukinya, setelah beberapa kali gagal tentunya. Dastin berhasil merobek penghalang yang menandai bahwa Zuin masih perawan tadi. Kini tidak lagi. Zuin mencengkeram bahu Dastin kuat-kuat. Rasa sakit itu perlahan menghilang, diganti dengan rasa aneh yang membuatnya melayang tinggi. Dastin terus bergerak didalamnya dalam tempo sedang, suara des*han demi des*han keduanya memenuhi kamar itu.


Di saat semua orang sudah tidur, Dastin dan Zuin malah sibuk olahraga diatas ranjang besar itu. Dan ketika puncak itu akan datang, Dastin makin mempercepat temponya.


Tidak butuh waktu lama ketika akhirnya keduanya mencapai pelepasan mereka.

__ADS_1


Dastin memejamkan mata ketika ken*kmatan itu meledak dan membanjiri tubuhnya dengan rasa panas yang tak tertahankan. Zuin sendiri menggelinj*ng hebat. Merasakan sisa-sisa kenkmtan hasil percintaannya dengan Dastin. Ia kemudian merasakan Dastin mengecup lembut dahinya.


"Aku akan mendaftarkan pernikahan kita setelah pulang nanti. Ayahmu menginginkan ini juga. Resepsinya akan kita lakukan setelah pekerjaan ayahmu selesai." gumam pria itu. Zuin sendiri tidak sempat fokus mendengar perkataan lelaki itu karena setelah itu ia malah langsung ketiduran.


__ADS_2