
"Selesai!"
"Hufft..." Zuin bernafas lega. Akhirnya kekacauan besar yang dia buat secara tidak sengaja itu selesai juga. Keduanya terduduk di lantai kamar mandi sambil mengatur nafas yang masih sedikit terengah-engah. Dastin duduk disamping Zuin dengan pakaian basah kuyup. Handuk yang Zuin gunakan juga sudah basah sejak tadi.
"Bagaimana dengan lantai kamarmu?" tanya Zuin memiringkan kepalanya ke pria disampingnya.
Sementara Dastin langsung melemparkan tatapan kesalnya pada gadis itu. Tangannya terangkat menyentil gemas dahi Zuin.
"Aww.." pekik Zuin agak kesakitan. Ia mendelik tajam ke Dastin.
"Lihat kekacauan yang sudah kau buat!" sembur Dastin. Zuin tidak jadi marah-marah dan malah menyengir lebar. Memang dia yang salah. Jadi hari ini biarkan saja lelaki itu memarahinya semaunya. Kalau seandainya kekacauan ini terjadi dalam kamarnya, jelas dia juga akan marah besar.
Mata Dastin turun ke handuk basah yang dikenakan Zuin, yang entah sadar atau tidak bagian atas handuk itu sudah melorot sedikit kebawah. Payudara gadis itu terpampang jelas dalam pandangan pria itu ketika dia menunduk ke bawah. Dastin menelan ludah lalu cepat-cepat membuang muka ke arah lain. Jantungnya berdebar-debar keras. Ia harus mengendalikan hormon laki-lakinya. Sial. Gadis yang dianggap masih anak-anak ini ternyata punya body yang lumayan juga. Sanggup membuat pikirannya lari kemana-mana. Zuin sendiri menatap laki-laki itu heran. Lalu dilihatnya Dastin berdiri tanpa menatapnya sedikitpun.
"Mandilah, a..aku akan mengeringkan kamar dengan pengering lantai otomatis." kata pria itu kemudian cepat-cepat keluar dari kamar mandi. Meninggalkan Zuin yang keheranan. Aneh sekali. Kenapa pria itu tiba-tiba jadi gagap begitu. Ia masih tidak menyadari sama sekali kalau handuknya sudah melorot kebawa dan terlihat jelas oleh Dastin tadi. Itulah yang menjadi alasan perubahan dari seorang Dastin tadi.
***
__ADS_1
Diapartemennya, mata Ketty tidak berpaling sedikitpun dari kartu apartemen yang diberikan Kyle tadi siang. Hatinya sangat bimbang menimbang-nimbang. Di satu sisi, ia tidak bisa melupakan pria itu. Di sisi lain, kalau seandainya dia mau bersama Kyle, dia harus bisa memuaskan laki-laki itu dan menyerahkan keperawanannya.
Bukannya Ketty takut. Walaupun masih perawan Ketty sama sekali tidak takut menyerahkan dirinya ke pria itu. Ia hanya takut tidak bisa memuaskan Kyle. Berulang kali ada penolakan dalam batinnya, namun berulang kali pula Ketty terus mendambakan pria itu. Padahal baru sekali ia melihatnya, tapi keinginannya sangat kuat untuk bisa memiliki pria itu.
Bagaimana? Bagaimana caranya membuat Kyle puas? Kalau di film-film dewasa yang dia tonton, banyak laki-laki yang akan puas kalau wanitanya bertingkah liar diatas ranjang. Tapi Ketty tidak tahu bagaimana caranya menjadi liar, sedangkan dirinya saja masih perawan. Tidak ada pengalaman sama sekali.
"Baiklah. Aku harus belajar keras beberapa hari ini." ucap Ketty pada dirinya sendiri. Akhirnya ia mengambil keputusan tetap untuk mendatangi Kyle. Tapi tidak malam ini. Dia harus belajar dulu cara-cara memuaskan pria. Ketty lalu mulai membuka google dan mencari banyak referensi di sana.
Sementara diapartemen Dastin, pria itu masih mencoba bersabar menunggu Zuin selesai bersiap. Ia heran apa saja yang dilakukan gadis itu di dalam sana. Padahal ini sudah hampir sejam tapi Zuin belum keluar-keluar juga. Ketika Dastin mengetuk pintu kamarnya dan menanyakan gadis itu sudah siap atau belum, Zuin bilang hampir siap. Tapi mana dia? Sudah hampir tiga puluh menit Dastin menunggu setelah Zuin bilang hampir siap tadi, namun gadis itu tidak keluar-keluar juga. Ya ampun, ada-ada saja yang Zuin lakukan untuk menguji kesabaran seorang Dastin.
Laki-laki itu melirik jam tangannya. Menghembuskan nafas lelah kemudian berdiri lagi, berhenti didepan pintu kamarnya dan mengetuk dengan cukup keras, mulai merasa tidak sabar.
"Kenapa menatapku begitu? Aku tahu aku memang cantik, tapi kalau kamu yang menatapku, takutnya aku akan mengalami kesialan tujuh turunan." ketus Zuin. Dastin mendengus keras.
"Sekali lagi, kau mengatakan sesuatu yang membuatku kesal, aku pastikan kau tidak akan melihat papamu hari ini." ancaman lelaki itu berhasil membungkam mulut Zuin. Gadis itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Dastin tertawa saat melihat perubahan gadis itu, kemudian menyentil dahinya pelan.
"Bagus, kalau patuh begitukan manis keliatannya." gumam Dastin lalu berbalik ke arah ruang tengah. Mengambil beberapa map yang ada di sana.
__ADS_1
"Ayo." ucapnya yang kini berjalan ke pintu keluar. Zuin berlari kecil dari belakang. Mereka berjalan berdampingan turun dari lift dan lanjut ke parkiran mobil gedung itu.
"Masuk." suruh Dastin membukakan pintu mobil buat Zuin lalu berputar ke sisi kanan dan naik ke kursi sopir.
Mobil Dastin lalu melaju meninggalkan gedung apartemen itu. Selama perjalanan mereka tidak banyak bicara. Bukannya Zuin tidak ada yang ingin dia katakan, tapi gadis itu masih terlalu malas untuk bicara. Pandangannya fokus melihat-lihat ke jalanan.
Zuin tidak tahu kemana mereka akan pergi. Ditempat mana ayahnya berada. Tapi ia sadar mobil yang dikendarai Dastin ini melaju keluar kota. Entah di mana persisnya ia tidak tahu, tapi tidak begitu jauh dari Ibu Kota. Hanya sekitar satu jam mereka sampai.
Dastin memarkir mobilnya di sebuah gedung kecil yang tampak tidak terlalu terurus. Ayahnya tinggal di sini? Dia masih tidak begitu percaya sampai akhirnya Nevan keluar dari dalam gedung itu. Zuin cepat-cepat melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.
"Kak Nevan!" serunya berlari kecil ke arah pengacara ayahnya tersebut. Nevan tersenyum. Dastin ikut turun dan berjalan dari belakang Zuin.
"Mana papa?" tanya Zuin dengan wajah berseri-seri. Pandangannya berpindah-pindah ke segala arah berharap papanya akan muncul dari bagian manapun yang dilihatnya. Sayangnya lelaki yang dia harapkan muncul didepannya itu tidak nongol-nongol juga. Ia kembali menatap Nevan.
"Di dalam, ayo kuantar." ucap Nevan kemudian berbalik ke dalam. Zuin berbalik sebentar melirik Dastin.
"Kenapa?" tanya Dastin melihat Zuin yang menatapnya cukup lama itu. Gadis itu menyamakan posisinya dengan lelaki itu dan mereka berjalan bersama kedalam.
__ADS_1
"Kenapa papa tinggal ditempat tidak terurus begini?" tanyanya penasaran.
"Tanyakan saja sendiri, setelah kalian bertemu." jawab Dastin malas menjelaskan. Zuin mencebik. Laki-laki nyebelin, umpatnya dalam hati.