
Setelah mengantar Zuin ke sekolah, Dastin masih merasa tidak tenang. Ia tahu mungkin dirinya yang terlalu berlebihan. Namun dia tetap saja merasa khawatir dengan gadis itu. Khawatir pada semua yang akan dilakukan Zuin nanti. Karena itu Dastin memutuskan menemui kepala sekolah dan meminta pria tua itu mengatur pekerjaan sementara untuknya dan Gean di sekolah tersebut. Para staf sekolah hanya pernah melihat Gilang dan Ayyara, kedua pria itu sama sekali tidak mereka kenal.
Selain Dastin bisa mengawasi Zuin, mereka juga bisa ikut menyelidiki hal-hal yang perlu diselidiki di sekolah tersebut, berkaitan dengan kematian sih korban pembunuhan.
Untung saja kepala sekolah bisa mengerti situasi mereka dan mau bekerja sama tanpa sepengetahuan para staf dan pengajar lain di sekolah tersebut.
Seperti Zuin yang berpura-pura menjadi anak SMA, Dastin dan Gean mulai hari ini pun akan bersandiwara. Dastin akan bekerja dibagian operator, sedang Gean di lab sekolah. Mereka berdua saja sudah cukup. Yang lain telah Dastin atur pekerjaan mereka masing-masing.
Kepala sekolah berinisiatif mengajak dua pria itu jalan-jalan untuk melihat-lihat lingkungan sekolah. Namun ketika mereka berjalan di koridor, Terdengar suasana yang begitu riuh dan kacau dari sebuah kelas. Tentu saja mereka penasaran ada apa. Lalu kepala sekolah tersebut mempercepat langkahnya ke arah kelas yang terdengar ribut. Matanya melotot kaget melihat kekacauan tersebut. Para siswi dikelas itu berkerumun ditengah dan terlihat saling jambak-jambakan. Yang lebih parahnya lagi, para siswa laki-laki bukannya menghentikan mereka, malah bersorak senang menyemangati perkelahian itu dengan semangat. Ya Tuhan, apa-apaan ini? Tentu saja kepala sekolah marah besar melihat kejadian memalukan tersebut. Sangat memalukan.
"Apa-apaan ini?! teriak kepala sekolah dengan suara menggelegar. Gean dan Dastin yang berdiri didepannya ikut takjub dengan tontonan tersebut. Dastin sendiri yang awalnya tidak peduli dengan perkelahian itu, mengernyitkan dahinya. Ia seperti melihat seseorang yang dia kenal di antara para siswi itu. Pandangannya terus fokus kedepan sana. Semoga saja dia yang salah lihat. Namun semakin lama wajah siswi yang dilihatnya itu semakin jelas. Dan ketika siswi itu mengangkat wajah, Dastin langsung mengenalinya.
Pria itu menutup matanya dalam-dalam. Benarkan dugaannya. Bahkan belum sehari ia meninggalkan Zuin, gadis itu lagi-lagi terlibat masalah. Ya ampun, apa yang dilakukan gadis itu? Dia ikut-ikutan berkelahi? Di hari pertamanya masuk sekolah? Dastin menggeram kesal. Ingin sekali dia menarik Zuin pergi sekarang juga dari kelas itu namun ditahannya. Dia berusaha keras untuk menahan diri. Mereka masih punya misi yang belum diselesaikan.
__ADS_1
Dastin akhirnya memutuskan diam saja tapi matanya terus mengamati gerak-gerik Zuin. Sejak tadi gadis itu memegangi bagian yang luka di wajahnya. Juga meringis kecil. Rambutnya acak-acakan tapi Zuin sama sekali tidak berniat mengaturnya. Dastin berdecak kesal. Gadis bodoh. Umpatnya dalam hati. Ia tahu Zuin sudah melihatnya karena mata mereka tanpa sengaja saling bertemu tadi. Tapi gadis itu langsung membuang muka kearah lain, sengaja menghindari tatapan Dastin.
"Kalian semua, ikut saya!" kepala sekolah lalu memberi perintah. Sebelum itu dia menyuruh Dastin dan Gean untuk melihat-lihat lingkungan sekolah sendiri, karena pria itu akan mengurus para murid yang berkelahi tersebut.
Zuin sempat berhenti sesaat didepan pintu, menatap Dastin dan Gean bergantian sebelum akhirnya mengikuti yang lain menuju ruangan kepala sekolah.
"Kita belum bisa membawanya pulang. Tunggu saja." gumam Gean pelan menatap kesampingnya. Tentu saja Gean bisa lihat raut khawatir di wajah Dastin. Dibanding marah ke Zuin, menurut Gean ekspresi Dastin lebih ke rasa khawatir terhadap gadis itu. Entahlah. Itu hanya pendapatnya. Benar atau tidak, Dastin sendirilah yang tahu.
"Bagaimana, kau akan menunggu Zuin di sini, atau kita lanjut melihat-lihat sekolah?" tanya Gean kemudian. Dastin tidak menjawab. Pikirannya masih fokus ke Zuin.
"Kau lihat luka diwajahnya tadi?" Dastin balik bertanya. Tentu saja Gean tahu siapa yang dimaksud Dastin dalam pertanyaannya. Pria itu mengangguk.
"Apakah tidak apa-apa kalau tidak langsung diobati?" tanya Dastin lagi. Kali ini Gean berpikir sebentar. Ia menatap Dastin cukup lama.
__ADS_1
"Kau tidak perlu khawatir. Aku melihatnya tadi. Gadis itu hanya mengalami lebam ringan dan ada satu goresan kecil diwajahnya. Tapi tidak serius. Setelah diobati beberapa hari, goresan itu akan hilang tidak berbekas. Aku bisa memastikannya." kata Gean panjang lebar. Ia tertawa kecil. Sepertinya Dastin benar-benar peduli pada Zuin. Pikirannya sudah penuh dengan gadis itu. Gean masih sulit percaya melihat Dastin yang seperti ini. Padahal dulu, pria itu sama sekali tidak pernah peduli pada perempuan manapun. Yang Dastin pedulikan dulu hanyalah kerja, kerja dan kerja. Siang malam pria itu selalu fokus pada pekerjaannya. Tapi akhir-akhir ini fokusnya terbagi, semenjak kehadiran Zuin. Meski begitu, Dastin masih bisa bekerja secara profesional seperti biasanya. Jadi, Gean rasa walau fokusnya terbagi dua, pekerjaan mereka tidak akan terlalu berdampak.
***
Sudah dua jam berlalu semenjak perkelahian di sekolah tadi. Kepala sekolah memberikan hukuman ringan pada kelas Zuin. Mereka semua diperintahkan untuk mencabut rumput liar dibelakang sekolah. Sebenarnya bisa saja Zuin tidak melaksanakan hukuman tersebut, para murid dikelasnya pasti akan berpikir kalau dirinya sombong. Jadi dia memilih ikut bekerja saja.
Dan saat ini, gadis itu sedang berdiri dihadapan Dastin yang terus menatapnya sambil bersedekap dada. Mereka berdua berada dikamar Dastin dan Gean. Tapi hanya ada mereka berdua. Gean memberi keduanya ruang untuk bicara berdua. Terus, kenapa harus bicara didalam kamar? Karena diluar, para bawahannya sedang berkumpul memeriksa kasus. Tidak mungkin juga Dastin menegur Zuin didepan mereka. Di belakang vila cuacanya terlalu dingin, jadi yang paling pas adalah kamar itu.
"Jelaskan, kenapa berkelahi? Bukannya kau berjanji padaku tidak akan berbuat kacau?" pria itu mulai bicara. Zuin menatap pria itu lama sambil memutar otaknya. Apa dia jawab jujur saja atau tidak? Kalau dia jujur, bagaimana kalau Dastin membatalkan rencana dirinya yang pura-pura jadi anak SMA? Padahal lagi seru-serunya. Zuin menarik nafas panjang, siap-siap menjawab Dastin.
"Jangan coba-coba membohongiku dengan mengarang cerita. Kau tahu aku tidak bisa ditipu oleh gadis nakal sepertimu kan?" kata Dastin lagi memberi peringatan sebelum Zuin angkat bicara. Dastin sudah merasa curiga pada gadis itu karena melihat gerak-geriknya yang aneh. Pria itu mendengus pelan. Coba saja kalau berani menipunya.
Ekspresi Zuin berubah. Sepertinya memang sulit membohongi seorang Dastin. Sudahlah. Kalau begitu dia jawab jujur saja. Lagipula bukan dia juga kan yang memulai kekacauan tadi. Salahkan sih perempuan yang berani mengatainya bau.
__ADS_1