Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
68


__ADS_3

Ini bukan pertama kalinya Zuin melihat Dastin bertelanjang dada. Pernah beberapa kali ia tanpa sengaja melihat laki-laki itu keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang terlilit dipinggangnya. Tapi bukan itu saja yang dipikirkan Zuin, sepertinya dia ingat dirinya bukan hanya pernah lihat Dastin bertelanjang dada. Ia juga pernah lihat yang lebih dari itu pada malam ketika dirinya mabuk karena obat. Seperti...


Pandangan Zuin turun kebawa. Ke bagian antara paha Dastin yang terbungkus dengan handuk putih. Gadis itu menelan ludahnya dan cepat-cepat membuang muka ke arah lain. Apa yang kau lakukan Zuin? ia berkata pada dirinya sendiri.


"Zuin?" panggil Dastin heran melihat Zuin yang membeku. Situasi yang terjadi sekarang ini memang tidak masuk dalam rencana Dastin. Jadi lelaki itu malah kebingungan melihat Zuin yang tiba-tiba membuang muka tidak mau menatapnya. Ia tidak sadar kalau tubuhnyalah yang membuat respon Zuin seperti itu. Zuin mengerjap-ngerjap dan memberikan baju tidur tersebut kepada Dastin.


"P..pakai baju dulu s..sana." kata Zuin dengan sedikit tersendat-sendat.


Dastin menerima baju yang Zuin berikan. Menatap pakaian itu sejenak, kemudian beralih menatap Zuin lagi. Dastin sadar sekarang. Zuin pasti malu padanya. Tapi gadis itu terlihat sangat manis. Hari lainnya juga manis, tapi hari ini lebih manis dan Dastin tidak bisa lagi menahan diri. Ia ingin mencicipinya. Dastin memilih menjatuhkan pakaian tidurnya, kemudian mendekati Zuin dan mencium bibirnya.


Bibir Zuin manis, seperti biasa. Ia lalu mendorong tubuh Zuin ke ranjang, sementara bibirnya turun menuju leher Zuin dan menggigitnya pelan. Zuin sedikit terkesiap kaget, tapi tidak mengatakan apa-apa. Dastin sebenarnya ingin menunggu reaksi Zuin, kalau-kalau gadis itu ingin protes, dia akan berhenti. Dan melakukannya lagi kalau gadis itu sudah benar-benar siap. Namun karena Zuin diam saja, berarti gadis itu tidak menolak. Dastin pun makin semangat untuk melanjutkan.


Malam ketika mereka melakukan **** pertama kalinya, keadaan Zuin antara sadar dan tidak sadar karena pengaruh obat. Mungkin gadis itu tidak mengingat dengan jelas setiap sentuhan-sentuhan Dastin. Pria itu juga tidak melakukannya dengan leluasa mengingat malam itu adalah pertama kalinya bagi mereka berdua. Tapi malam ini, Dastin akan membuat Zuin mengingat dengan jelas bagaimana dirinya memberikan kenikmatan yang tiada taranya pada gadis itu.


Mulut Dastin berpindah ke telinga Zuin dan mengecupnya singkat.


"Dastin..." erang Zuin pelan, menyentuh rambut Dastin yang basah.


Zuin hanya menyentuh rambutnya, tapi seluruh tubuh Dastin langsung panas. Ia jadi agresif. Yang tadinya hanya mengecup seputaran leher dan telinganya, jadi menj*lat dan menggigit sampai ke dadanya.

__ADS_1


"Dastin," panggil Zuin lagi. Ia kaget saat merasakan sentuhan mulut Dastin di *********** dari luar kaos. Tangannya memegangi bahu pria itu. Dastin mendongak, menatapnya dan bertanya.


"Kenapa sayang?" bisiknya sejenak, menahan diri untuk sekedar mendengar Zuin.


"Kau tidak capek? Bagaimana kalau besok saja?" pinta Zuin. Ia sudah sangat malu dengan posisi mereka sekarang ini.


"Tidak bisa. Aku tidak bisa lagi menahan diri Zuin. Dan besok aku akan sibuk kerja. Aku ingin malam ini." Dastin kemudian menarik kaos Zuin melewati kepalanya. Dan Zuin hanya bisa pasrah.


Kulit Zuin sangat mulus, ada bekas merah akibat gigitan Dastin. Namun, Zuin kelihatan makin seksi. Dan Dastin makin panas. Pria itu melepaskan yang tersisa dari tubuh Zuin dengan lembut, membuat Zuin menahan nafasnya tersiksa. Setiap gerakan Dastin terasa begitu lama dan menggoda, membuat Zuin ingin mengerang lirih.


Setelah berhasil melepaskan semuanya, Dastin berhenti sejenak. Menatap keseluruhan tubuh polos Zuin yang berhasil ia telanjangi. Tubuh itu hanya miliknya seorang. Hanya dia yang boleh menyentuhnya. Begitu juga tubuhnya yang akan dia berikan hanya untuk Zuin. Dia bersumpah, Zuin akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya.


"Jangan ditutup." Dastin menahan  tangan Zuin yang ingin menutupi bagian payudara dan kewanitaannya. Gadis itu menggigit bibirnya lirih. Ya ampun, dia sudah sangat malu. Dirinya telanjang, dan Dastin betah sekali berlama-lama melihat tubuh polosnya tersebut. Bagaimana dia tidak malu coba.


"Buka matamu. Lihat aku. Kau juga harus belajar mengenaliku Zuin." gumam pria itu.


Zuin membuka matanya perlahan. Jantungnya berdebar-debar keras. Apalagi melihat benda keras dan besar milik Dastin itu sudah berdiri tegak didepannya.


"Aku akan mengajarimu bagaimana cara menyentuh milikku ini, tapi nanti. Sekarang aku akan membuatmu merasakan sentuhanku."

__ADS_1


mata Dastin sudah menggelap karena dipenuhi gairah. Tetapi Zuin tetap dapat melihat pancaran penuh kasih di sana. Ia tersenyum, mengelus wajah Dastin lembut, membuat pria itu mengeluarkan suara seolah menggeram.


"Aku mencintaimu sayang,"


dengan ketiga kata itu, Dastin langsung menyerang Zuin. Ia kembali mengecup area tubuh Zuin yang jarang terekspos. Dada, perut hingga paha bagian dalam, meninggalkan banyak bekas gigitan dan kemerahan. Zuin menjerit terkejut ketika Dastin tiba-tiba merunduk, menjil*ti pusat tubuhnya tanpa peringatan.


"Dastin!" lirih Zuin, kemudian tak mampu bersuara lagi.


Desah nafasnya yang keras tak beraturan dan suara lidah Dastin  yang bertemu daging menjadi satu-satunya suara yang terdengar.


"Ahhh..." Zuin mengerang tertahan. Meremas ujung bantalnya sebagai pelampiasannya dan merasakan otot-ototnya mengejang. Ada rasa hangat yang tak asing dibawah sana. Samar-samar ia mengingat rasa itu ketika Dastin mengambil keperawannya.


"Dastin..." lirih Zuin lemah dengan desah nafas tak beraturan.


"J..jangan disitu lagi..." pintanya tidak tahan lagi dengan serangan Dastin yang bertubi-tubi, membuatnya menggelinjang terus-terusan.


Dastin menatap Zuin. Tadi, cuma bagian-bagian bekas gigitannya yang memerah. Sekarang seluruh tubuh Zuin memerah. Tatapan matanya yang nampak sayu dan berkabut membuat Dastin hampir gila. Pria itu merambat naik kembali, bermain-main lagi dibagian perut dan dada Zuin.


Tangan Zuin mengelus punggungnya dengan lembut. Kemudian naik ke rambutnya, mengelus rambut yang masih setengah basah tersebut dengan penuh sensual. Dastin sungguh menggila karena gadis itu. Tak mau membuang-buang waktu lagi, Dastin melebarkan kaki Zuin. Kemudian dengan hati-hati memasukkan miliknya. Membiarkan Zuin menikmati bukti gairahnya.

__ADS_1


"Ahh..."


pekikan Zuin terdengar begitu kejantanannya Dastin melesak masuk menembus tubuhnya. Pria itu membesar. Zuin tidak yakin karena waktu pertama kali mereka melakukannya dia hanya setengah sadar. Kali ini pun rasanya masih agak ngilu. Ia bisa mendengar erangan Dastin, serak tapi seksi. Pria itu terus menindihnya dengan hati-hati. Membiarkan Zuin terbiasa dulu, sebelum nanti dia akan bergerak dengan lebih kasar.


__ADS_2