Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
96


__ADS_3

"Zuin, ke sini sayang." seru nyonya Rika saat melihat Zuin yang muncul di ruang tamu rumah Barry bersama Ketty, seorang pria tampan berpenampilan kasual, dan dua lagi laki-laki dan perempuan yang berpakaian serba hitam-hitam. Rika langsung berpendapat mereka itu adalah pengawalan menantunya. Ia juga ingat wajah sih pengawal perempuan yang berdiri agak belakang di sana. Ia pernah melihatnya ketika menemui Zuin di kampus gadis itu.


Langkah Zuin terhenti. Wajahnya tampak kebingungan melihat keberadaan mertuanya di tempat itu. Ada papanya Dastin juga yang duduk berhadapan dengan papanya. Kalau ia tidak salah ingat, ini pertama kalinya papanya bertemu dengan mertuanya. Tidak mungkin juga kan mereka akan bertemu tanpa dia. Eh, mungkin saja. Buktinya sekarang. Gadis itu merutuki pikirannya yang aneh.


Tapi, kenapa mertuanya datang ke rumahnya di saat Dastin tidak ada? Apa yang mereka bicarakan? ia mengamati tuan Lemuel sejenak, papa Dastin itu mungkin terlihat jauh lebih tua dari papanya, namun pria tua itu tak kalah berkarisma. Mungkin Dastin akan seperti papanya di waktu tua nanti. Zuin terkikik sendiri ketika memikirkan Dastin nanti yang menjadi tua seperti papanya. Tapi kalau dia tua, kira-kira akan seperti siapa ya? Dia tidak pernah melihat mamanya. Apa mungkin seperti papanya?


"Zu," bisik Ketty di telinga Zuin karena melihat sahabatnya itu malah melamun. Mata Zuin mengerjap-ngerjap,


"Hm?" gadis itu melirik Ketty. Ketty sendiri menunjuk ke arah depan dengan dagunya membuat Zuin kembali sadar ada orang lain didepan sana. Ia berjalan mendekat di ikuti Nako dan Ketty. Kedua sahabatnya itu memilih duduk di dekat Nevan, sedang Zuin duduk bersebelahan dengan nyonya Rika, ibu mertuanya. Wanita tua itu tersenyum lebar padanya, Zuin ikut tersenyum. Senang sekali rasanya memiliki mertua yang baik dan ramah seperti mamanya Dastin ini. Zuin merasa cocok.


"Kamu sudah berkemas sayang?" tanya Rika menatap Zuin.


Berkemas?


Wajah Zuin berubah bingung. Pandangannya beralih menatap papanya, meminta jawaban.

__ADS_1


"Kita akan ke Melbourne. Kau suka jalan-jalan ke luar negeri bukan?" kata Barry menatap sang putri.


Tentu saja mendengar kalimat yang keluar dari mulut papanya Zuin langsung jadi semangat. Ia memang telah mendengar dari Nako dan Ketty kalau mereka akan pergi liburan, tapi mereka tidak bilang liburannya akan keluar negeri. Yeah! walau Dastin tidak mengajaknya liburan bersama, ia tetap akan tetap pergi juga bersama yang lain. Tunggu, Zuin menatap papanya dan mertuanya bergantian.


"Kita? Kau, papa dan mama juga ikut?" ia menunjuk papanya lalu mertuanya. Barry berubah dongkol seketika. Putrinya ini benar-benar, papa Dastin sampai terheran-heran mendengar cara Zuin memanggilnya. Memang ia sudah mendengar dari Dastin hubungan ayah dan anak itu seperti apa. Tapi tetap saja pria itu merasa heran. Sementara Barry sendiri tersenyum merasa tidak enak.


"Putriku memang seperti itu. Karena kita berdua terlalu akrab, dia lebih senang memanggil namaku." ucap Barry menjelaskan lalu menatap sang putri gondok. Dasar tidak tahu tempat. Setidaknya panggil dia papa juga dihadapan mertuanya. Kan tidak enak pada mereka.


"Tidak apa-apa, Dastin sudah banyak cerita tentang hubungan kalian yang sang dekat." balas tuan Lemuel, istrinya ikut mengangguk. Dastin bahkan sudah cerita Zuin itu tipe yang seperti apa.


"Anak nakal, cepat berkemas sana." kata Barry menatap Zuin sedang Zuin malah memeletkan lidahnya sebelum pergi dari situ sambil menarik Ketty dan Nako ikut bersamanya.


"Kak Nevan mau ikut aku berkemas juga?" tanya Zuin tanpa pikir panjang. Nevan tersenyum tipis sambil menggeleng. Dia sudah selesai berkemas dari pagi. Kopernya sudah siap.


"Ya sudah." kata Zuin lagi lalu bergegas ke atas meninggalkan Nevan dan orang-orang dewasa yang kembali berbincang-bincang itu.

__ADS_1


                                   ***


Entah berapa jam waktu yang mereka tempuh hingga akhirnya pesawat yang mereka naiki akhirnya mendarat di Melbourne International Airport. Mungkin sekitar enam jam mereka berada di dalam pesawat. Itu pun karena pesawat yang mereka naik adalah pesawat pribadi milik keluarga Dastin jadi tidak perlu transit-transit segala.


Zuin memandangi sekeliling kerumunan orang-orang yang berlalu lalang di bandara tersebut. Masing-masing dengan kesibukan mereka. Ada anak-anak yang berlari-larian, sekelompok anak muda asyik berbincang dan beberapa orang berbicara di telpon. Ada juga yang hanya duduk menunggu jemputan atau sekadar melamun.


Oh ya, ngomong-ngomong soal jemputan, Zuin baru saja mau bertanya pada Nevan yang berdiri tak jauh darinya tapi tiba-tiba datang tiga mobil mewah yang berhenti didepan mereka. Salah satu sopir yang turun lebih dulu membungkuk hormat ke tuan Lemuel dan istrinya. Zuin, Ketty dan Nako saling berpandangan.


"Aku penasaran berapa banyak kekayaan keluarga Dastin." bisik Ketty ditelinga Zuin. Nako turut mengiyakan, walau Zuin perempuan, ia tiba-tiba merasa iri pada sahabatnya tersebut karena memiliki mertua sehebat itu.


"Pak Barry, silahkan naik." kata tuan Lemuel. Barry tersenyum lalu mengangguk. Zuin, Nako dan Ketty semobil, Barry dan Nevan di mobil berbeda, terakhir Tuan Lemuel dan nyonya Rika di mobil paling belakang. Setelah semuanya masuk, dan koper-koper mereka selesai di masukkan ke bagasi oleh sopir, mobil itu melaju meninggalkan bandara, pergi ke hotel tempat mereka semua akan menginap nanti. Hari ini sudah sangat melelahkan jadi semuanya butuh istirahat.


Selama perjalanan Zuin sangat menikmati setiap jalan yang mereka lewati. Hah, entah Dastin dan timnya berlibur ke mana ia tidak peduli. Yang penting sekarang dia juga sedang jalan-jalan keluar negeri. Bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya lagi.  Dastin pasti itu kalau tahu dia liburan dengan orangtua pria itu. Hihihi. Zuin terkikik sendiri memikirkan ekspresi Dastin kalau tahu. Memangnya cuma pria itu yang bisa berlibur?


Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa Dastinlah merencanakan keberangkatan mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2