
"Sudah keluar!"
Nevan langsung memandang Barry. Tentu saja ia tahu apa maksud atasannya tersebut. Wajar saja kalau pria itu langsung tahu. Karena sudah kurang lebih empat bulan ini ia terus bersama dengan atasannya tersebut di tempat tersembunyi itu.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Nevan antusias. Namun profesor Barry tidak berkata apa-apa. Laki-laki itu terus fokus dengan alat-alat penelitiannya. Wajahnya berubah sangat serius. Nevan yang melihatnya tambah penasaran.
"Nevan,"
"Iya?
"Ambilkan tabletku." dengan cekatan Nevan berbalik ke arah meja yang lain lalu kembali lagi dengan tablet putih milik Barry di tangannya. Pria itu menyodorkannya ke Barry dan melihat sang atasan menulis panjang di tablet tersebut. Setelah itu Barry mengamankan semua hasil penelitian yang dia lakukan selama beberapa bulan ini kemudian melirik Nevan yang sejak tadi berdiri di dekat situ.
"Panggil Dastin untuk melapor ke ketua BIN. Katakan aku ingin mengadakan pertemuan dengan mereka secepat mungkin." perintah Barry dengan suaranya yang penuh wibawa.
"Baik." balas Nevan kemudian berbalik pergi. Ia masih penasaran sebenarnya hasil seperti apa yang keluar sampai-sampai wajah profesor Barry seserius itu.
Ketika Nevan keluar untuk menelpon Dastin, pria itu tidak mengangkat panggilannya. Ia menelpon beberapa kali namun hasilnya nihil. Tetap tidak diangkat oleh Dastin. Pria itu lalu memutuskan menghubungi Gean namun masih saja tidak bisa bicara dengan dengan Dastin. Karena Gean tidak sedang bersama Dastin. Katanya Dastin pulang sebentar ke apartemennya. Untuk makan siang bersama Zuin.
__ADS_1
"Bagaimana? Jika mereka menanyakan hari, katakan aku akan bertemu dengan mereka besok. Lebih cepat lebih baik." ujar Barry saat melihat Nevan telah berada dalam ruangan itu lagi.
"Dastin tidak bisa dihubungi. Tapi aku menelpon Gean, katanya Dastin pulang sebentar ke apartemennya untuk makan siang dengan Zuin." balas Nevan. Barry berdecak pelan.
"Kalau begitu telpon putriku sekarang juga. Pakai ponselku saja."
***
Di tempat lain, ketika Dastin memasuki apartemennya, didapatinya pemandangan indah terpampang jelas di depannya. Zuin, gadis itu tertidur di kursi santai dengan sebuah komik terbuka di pangkuannya, sebelah lengannya lunglai di sandaran kursi dan kepalanya miring setengah tertunduk.
Dastin tidak dapat menahan keinginan untuk mengawasi lebih dekat. Dengan langkah pelan tak bersuara, seperti singa mengintai mangsa, didekatinya istrinya. Padahal Zuin baru saja berbicara ditelpon dengannya beberapa menit yang lalu. Gadis itu berjanji tidak akan tidur sampai pria itu datang bersama makanan yang ia pesan. Tapi ketika Dastin sampai, gadis yang sangat ia sayang itu malah asyik ketiduran.
Dastin mencondongkan dirinya sedekat mungkin, hasratnya mendorongnya untuk lebih mendekati sang istri.
Ah, betapa cantiknya, wajahnya polos tanpa polesan apapun, tapi kulitnya begitu lembut, seperti bayi dengan semu kemerahan yang membuatnya tergoda untuk menyentuhnya, menyusurkan jemarinya di semu kemerah-merahan itu. Dan bibirnya, bibir itu, begitu ranum, basah bagai kelopak mawar yang baru mekar, tanpa polesan lipstik sedikitpun, tetapi tetap begitu indah.
Mata Dastin menyusuri seluruh keindahan di depannya lalu tersenyum. Ia masih tidak percaya ia akan tergila-gila pada gadis yang awal-awal bertemu di anggapnya masih anak-anak. Dastin jadi bingung sendiri sejak kapan dirinya mulai menyukai Zuin sampai akhirnya tergila-gila pada gadis itu. Pria itu terus menatap Zuin penuh cinta, lalu dibungkukkannya tubuhnya melingkupi gadis itu, kemudian bibirnya menyentuh bibir lembut gadis itu dengan halus, bermaksud membangunkan Zuin.
__ADS_1
"Hei, bangun sayang. Aku membawa makanan kesukaan kamu." bisik Dastin pelan habis mengecup singkat bibir Zuin. Tangannya tak tinggal diam mengelus-elus kepala istrinya. Ciuman itu berhasil membangunkan Zuin. Mata gadis itu membuka perlahan. Matanya bertemu dengan mata indah milik Dastin. Laki-laki itu tersenyum lembut padanya.
"Ayo bangun, makan dulu." gumam Dastin pelan, lalu mengangkat tubuh Zuin tanpa peringatan. Membuat kantuk Zuin langsung hilang seketika. Jelaslah gadis itu kesal dan refleks memukul-mukul pelan dada Dastin.
"Dastin ih, turunin nggak?" omel Zuin dongkol. Lagi asyik-asyiknya tidur juga. Sementara Dastin malah tersenyum. Ia sama sekali tidak merasa kesulitan dengan tubuh Zuin yang menempel ditubuhnya dengan kaki melingkari pinggang lelaki itu. Pria itu terus berjalan ke arah dapur namun Zuin yang terus bergoyang-goyang di atas perutnya membuat bagian bawahnya keras.
"Sayang, jangan goyang-goyang gitu dong. Punyaku keras nih. Kan habis ini aku harus balik kerja lagi, masa kamu tega mancing-mancing di waktu sibuk aku sih." ujar Dastin. Bukan berniat menggoda. Tapi hasratnya memang sudah bangkit lagi karena Zuin terlalu menawan, sayangnya ia tidak punya banyak waktu. Dastin harus sekuat tenaga menahannya dulu.
"Kamu tuh yang pikirannya mesum terus." celetuk Zuin.
"Tapi kamu suka kan kalau senjataku masuk di dalam kamu?" balas Dastin sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda gadis itu. Zuin bahkan sudah tidak dapat berkata-kata lagi. Kenyataannya memang seperti itu.
Ketika sampai didepan meja makan, Dastin menurunkan Zuin perlahan-lahan. Tepat setelah gadis itu duduk, ponselnya berbunyi. Zuin mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya untuk melihat siapa yang menelponnya. Dastin ikut menunggu ingin tahu kira-kira siapa yang menelpon istrinya. ID sih pemanggil yang tertulis di ponsel Zuin adalah "musuh bebuyutan". Dastin hanya terkekeh pelan sambil menggeleng-geleng. Zuin memang ahlinya membuat onar, juga ahli membuat orang tercengang dengan kelakuan-kelakuannya yang aneh.
"Yoo... Ada musuh yang baru menelpon setelah sekian lama. Memangnya kau sudah puas menelantarkan aku?" kata Zuin setelah mengangkat telpon tersebut, terkesan menyindir. Ia bisa mendengar gelak tawa sih penelpon diseberang.
"Bagaimana kabarmu akan nakal?"
__ADS_1
"Cih.." Zuin berdecih. Dastin yang awalnya penasaran dengan sih penelpon, akhirnya bisa menebak siapa orang tersebut. Musuh bebuyutan itu adalah sebutan untuk ayah kandung Zuin sendiri. Cara Zuin mengobrol di telpon membuat Dastin langsung mengetahui siapa orang tersebut.
"Bocah nakal, maafkan musuhmu yang jahat ini ya. Tapi bisakah kau memberikan ponselmu sebentar ke Dastin? Ada hal serius yang serius yang perlu musuhmu ini bicarakan dengannya." kata Barry lagi dari seberang. Zuin yang mendengar perubahan suara ayahnya buru-buru memberikan ponsel itu ke Dastin.