
Zuin terbangun dari mimpi buruknya. Seluruh badannya berkeringat dingin hingga atasan baju tidurnya basah. Gadis itu terengah-engah karena rasa syok yang dia alami dalam mimpinya. Ia terduduk dengan pikiran penuh akan mimpi buruk yang barusan dialami.
Mimpi apa itu? Kenapa dia bermimpi seperti itu? Astaga, Zuin merasa tidak tenang dan ketakutan karena mimpinya. Ia jadi terbayang-bayang papanya akan meninggal seperti di dalam mimpi. Tidak, dia tidak mau.
"Sayang, kamu kenapa?"
tangan kekar Dastin melingkari pinggang Zuin dari belakang. Pria itu ikut terbangun ketika menyadari Zuin bangun tiba-tiba tadi. Gadis itu bahkan berteriak. Bagaimana Dastin tidak ikut terbangun coba. Saat memeluk Zuin, ia bisa merasakan pakaian sang istri basah. Dastin mengernyit heran. Tidak mungkin Zuin ngompolkan karena yang basah adalah atasannya. Apalagi gadis itu sudah sebesar ini. Memalukan sekali kalau sampai ngompol.
Dastin lalu membuat Zuin berbalik menghadapnya. Pandangan fokus ke jam dinding sebentar. Sekarang masih menunjukkan pukul dua dini hari. Sepertinya Zuin bermimpi buruk.
"Kamu mimpi?" gumam Dastin pelan sambil mengusap-usap lembut pipi Zuin. Sementara Zuin tidak menjawab. Pikirannya masih dipenuhi dengan mimpi buruk tadi. Dastin melihat keseluruhan penampilan Zuin. Rambutnya acak-acakan khas orang baru bangun tidur dan cukup basah karena keringat. Tapi atasannya jauh lebih basah.
Dastin menghela nafas kemudian turun dari kasur, melangkah mendekati lemari pakaian Zuin, mengambil sehelai pakaian dari sana dan kembali ke kasur. Zuin masih dalam posisi yang sama. Sadar akan keberadaan Dastin, tapi pikirannya ada di tempat lain.
Dastin lalu melepas atasan Zuin dan membantunya mengganti baju dengan yang baru saja ia ambil dari lemari gadis itu. Walau tak senada dengan celananya Dastin tidak peduli. Yang penting Zuin tidak tidur dengan baju basah. Kemudian sebelah tangannya memegangi wajah Zuin dan tangannya yang lain mengelus-elus rambutnya. Ia tahu istrinya pasti bermimpi buruk, jadi ia tidak akan bertanya lagi. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah menenangkan gadis itu.
"Nggak usah dipikirin. Itu hanya mimpi. Tidur lagi ya," gumamnya lembut. Kini Zuin menatapnya.
"T..tapi... Aku mimpi papa...papa..." suara Zuin terdengar khawatir. Ia takut mimpinya menjadi kenyataan. Ia takut papanya akan dibunuh seperti yang ada dalam mimpinya. Ia sangat takut kehilangan papanya.
"Sssttt..." telunjuk Dastin ia tempelkan ke bibir Zuin.
__ADS_1
"Nggak akan. Aku udah bilangkan itu cuman mimpi. Papa kamu nggak bakal kenapa-napa." Dastin terus menenangkan Zuin kemudian membaringkan gadis itu. Dirinya ikut berbaring sambil memeluk sang istri. Mengelus-elus lembut lengan Zuin dalam pelukannya sambil terus menenangkannya.
"Tidurlah." gumamnya mengecup lembut dahi Zuin. Dastin baru tertidur setelah memastikan Zuin kembali terlelap.
***
Pagi-pagi sekali Zuin sudah bangun bahkan membantu bi Ratna mengatur piring buat sarapan. Kegiatan yang jarang sekali ia lakukan. Bukan jarang, tidak pernah malah. Bi Ratna sendiri jadi tidak enak melihat putri sang majikan dengan senang hati menawarkan diri untuk membantunya.
Bagi sebagian orang, Zuin itu kasar, tidak ada lembut-lembutnya sama sekali dan suka berbuat seenaknya. Tapi dimata bi Ratna, Zuin adalah majikan yang baik. Sifatnya saja yang cuek, kelihatan tidak peduli dan sombong. Tapi sebenarnya bi Ratna tahu Zuin memiliki sifat yang baik. Sama seperti papanya. Dari gadis itu kecil, bi Ratna sudah bekerja di rumah itu, jadi bagaimana bisa dia tidak tahu sifat Zuin. Namun baru kali ini pertama kalinya Zuin menawarkan diri untuk membantunya mengatur meja makan. Makanya bi Ratna jadi keheranan dibuatnya.
Tapi bi Ratna tiba-tiba mengingat kalau ada laki-laki tampan yang katanya sudah menikah dengan anak majikannya tersebut di rumah ini. Ia sudah melihatnya semalam. Pria itu memang sangat tampan. Bi Ratna ingin bertanya kapan Zuin menikah tapi belum ada kesempatan. Mungkin Zuin ingin menunjukkan diri didepan suaminya itu. Bi Ratna mengangguk-angguk sambil tersenyum penuh arti.
"Non, " Zuin yang sibuk mengatur-atur piring melirik sebentar ke bi Ratna.
"Bibi tahu kenapa non Zuin tiba-tiba rajin gini. Mau nunjukin ke suami non Zuin yang gantengkan?" goda bi Ratna sambil mengedip-ngedipkan mata.
Bukannya malu, Zuin malah terkekeh.
"Nggaklah bi. Ngapain juga. Lagian Dastin tahunya aku tuh malas kerja. Kalo tiba-tiba aku rajin gini, yang ada dia malah ketawain aku." balasnya. Kalaupun dia mau buat Dastin terkesan padanya, dia akan melakukan sesuatu yang lain. Bukan sengaja rajin-rajin kayak begini. Itu bukan gayanya.
"Yo, lihat siapa ini?"
__ADS_1
Zuin dan bi Ratna sama-sama melihat ke arah datangnya suara. Bi Ratna yang tadinya bersikap santai bicara dengan Zuin, kini berubah drastis. Wanita tua itu memang terbiasa santai ketika berbicara dengan Zuin, tapi berbeda dengan ayahnya gadis itu. Bi Ratna akan bersikap sangat hormat pada Barry.
Barry sendiri hanya fokus ke sang putri sambil terus bertepuk-tepuk tangan dengan gaya meledeknya. Ini pertama kalinya ia melihat Zuin bangun sepagi ini bahkan membantu bi Ratna.
"Apa kau pembantu baru di sini? Atau hanya seseorang yang mirip dengan putriku?" ucap Barry terus meledek Zuin. Biasanya Zuin akan membalas perkataan papanya dan mereka akan berakhir dengan berdebat. Namun gadis itu hanya tersenyum lebar bahkan menggeser kursi di kepala meja dan membantu papanya duduk.
Barry tertegun menatap sang putri. Ada apa dengan putrinya? Tidak biasanya dia seperti ini. Bukannya Barry tidak suka Zuin bersikap lembut begini. Hanya saja, itu tidak biasa.
"Papa mau makan apa? Sandwich, roti panggang?" tawar Zuin namun langsung menaruh sepotong sandwich di piring papanya.
"Makan sandwich aja." katanya dengan senyuman lebar.
Barry terus menatap sang putri. Benar. Ada yang aneh dengan Zuin. Biasanya juga gadis itu jarang memanggilnya dengan sebutan papa.
Tak lama sesudah itu Dastin muncul di ruang makan tersebut dengan pakaian rapinya. Lelaki itu duduk disamping Zuin. Kedatangannya membuat fokus Barry terbagi.
"Pagi," sapanya memandang Zuin dan Barry bergantian dengan senyuman tipis. Ia masih bingung memanggil ayah mertuanya dengan sebutan apa. Jarak umur mereka tidak begitu jauh. Mungkin tujuh atau delapan tahun. Namun karena dia menikah dengan putri Barry, tentu saja statusnya berubah menjadi menantu pria itu. Namun kalau memanggilnya papa, sepertinya dia akan merasa sangat kaku.
"Panggil Barry saja. Kau tidak perlu terlalu kaku denganku." kata Barry seolah tahu isi pikiran Dastin.
"Baiklah, Barry." ujar Dastin berusaha bersikap santai. Ia memang harus membiasakan diri bicara santai dengan mertua. Mengingat Barry adalah laki-laki lain yang disayangi oleh istrinya selain dia.
__ADS_1
"Ayo makan." kata Barry kemudian. Dastin melirik Zuin. Ia merasa lega karena gadis itu sudah kembali seperti biasa. Dengan begitu dia bisa berangkat kerja dengan tenang.
Di sisi lain, Barry diam-diam mengamati putrinya lagi. Dia masih penasaran kenapa Zuin tiba-tiba bersikap manis begitu. Lalu ia menghilangkan rasa penasarannya tersebut. Mungkin sang putri lagi senang saja jadinya begitu sikapnya.