
"Kemana mereka?"
pandangan Zuin mencari ke seluruh isi restoran namun ia tidak melihat Ketty maupun Kyle. Hanya ada ke empat pengawal yang setia menemaninya sejak tadi. Zuin jadi bingung lalu memutuskan menghubungi Ketty.
Mengingat cerita Ketty yang pernah menyukai Kyle, bisa saja kan sahabatnya itu pergi bersama lelaki itu. Kyle tidak menyukai Ketty. Zuin tidak boleh membiarkan Ketty jatuh untuk laki-laki seperti itu lagi. Ketty pantas mendapatkan seorang laki-laki yang jauh lebih baik dari Kyle, yang benar-benar tulus mencintainya.
Ketika telponnya tersambung dengan Ketty, Zuin akhirnya bisa bernafas lega karena Ketty ternyata tidak pergi dengan Kyle. Ketty bilang dia sudah balik ke kampus. Jadi Zuin ikut balik ke kampus saja.
Dalam perjalanan, secara kebetulan ia melihat Gean. Zuin menghentikan langkahnya.
"Kenapa Gean ada di sini?" tanyanya lebih ke dirinya sendiri. Ke empat pengawal yang setia mengikutinya ikut menghentikan langkah mereka. Sama-sama menatap ke pria yang sedang dilihati oleh Zuin sekarang.
"Pasti ada Dastin juga." kali ini Zuin terlihat antusias. Matanya mencari-cari Dastin di sekitar tempat Gean berada. Anehnya, gadis itu sama sekali tidak melihat keberadaan suaminya. Apa mereka tidak bersama? Lalu dengan langkah perlahan gadis itu berjalan mendekat ke tempat Gean. Mungkin saja Dastin ada di sekitar situ tapi di tempat yang tersembunyi jadi dia tidak lihat. Jadi dia mendekat ke sana.
"Nona, kau ke mana?" tanya salah satu dari pengawalnya. Namanya Bio. Zuin sudah hafal nama mereka tadi.
"Ssstt... Diem. Aku pengen ngikutin pria itu." kata Zuin sambil menempelkan telunjuk ke bibirnya.
"Bukannya nona mau balik ke kampus?" kali ini giliran Wina yang bertanya. Sih pengawal wanita yang jago berkelahi. Badannya keras dan tampak jauh lebih kuat dibanding Zuin yang sangat feminim. Dari penampilan saja mereka sudah sangat berbeda.
"Ini jauh lebih penting. Kalian tunggu di sini sebentar." ujar Zuin dengan suara sengaja dipelankan. Mereka sudah hampir mencapai tempat Gean berada. Pria itu duduk di kursi payung dekat taman bermain di daerah tersebut sambil menelpon.
__ADS_1
Zuin yakin sekali Gean pasti sedang berbicara dengan Dastin ditelpon tersebut jadi dia berjalan mengendap-endap dan berhenti dan bersembunyi di balik tong sampah besar dekat tempat Gean menelpon.
Ke empat pengawalnya hanya melihat dari jauh kelakuan kekanakkan majikan mereka. Mau bagaimana lagi, mereka hanya pengawal, tidak bisa berbuat apa-apa selain melindungi sang majikan dari bahaya.
"Aku sudah menghubungi beberapa kenalanku di wilayah ini. Kita bergerak jam berapa? Ok. Aku akan memberitahunya jam tujuh malam ini."
kening Zuin berkerut. Ia tidak mengerti arti pembicaraan itu tapi dia tahu itu pasti berhubungan dengan pekerjaan mereka. Dan Zuin tentu saja merasa tertarik dengan hal-hal yang berbau misteri begini. Gadis itu mempertajam telinganya lagi mencuri dengar pembicaraan Gean.
"Apa? Aku sedang menunggu Wiliam. Dastin, aku sangat berharap kita benar-benar berhasil dengan misi kita kali ini. Lab itu harus terbakar habis. Baiklah. Setelah bertemu William, aku akan segera ke sana secepatnya." lalu pembicaraan penting itu berakhir.
Gean sama sekali belum menyadari ada Zuin yang mendengar pembicaraannya dengan Dastin. Dan kalimat terakhirnya sebelum menutup telpon membuat Zuin kebingungan sekaligus heran.
Membakar lab?
\*\*\*
"Apa katamu? Kamu mau mengikuti Dastin dan timnya diam-diam?" Ketty menatap Zuin dengan wajah tidak percaya. Zuin sudah balik ke kampus dan cerita semua pembicaraan yang ia dengar tadi dari Gean dan sih William William itu. Menurut Zuin aksi tim Dastin malam ini akan sangat seru, jadi dia tidak boleh kehilangan kesempatan baik ini.
Dastin dan timnya memang akan membakar sebuah laboratorium. Tapi itu tidak termasuk kejahatan karena tadi Zuin menangkap dari pembicaraan Gean kalau laboratorium itu bermasalah. Entah masalah apa itu Zuin tidak peduli. Ia hanya tertarik untuk datang dan menonton diam-diam cara Dastin dan beraksi. Pasti menyenangkan.
Berbeda dengan Zuin yang antusias, Ketty malah takut dan merasa ngeri.
__ADS_1
"Zuin, aku sarankan kamu jangan pergi. Bagaimana kalau ada apa-apa? Dastin pasti tidak ingin kamu ada di sana juga. Itu terlalu berbahaya Zu." ujar Ketty menyarankan. Ia pikir setelah Zuin menikah dengan Dastin, sahabatnya itu akan mengurangi rasa senangnya dalam mencari-cari masalah. Tapi sepertinya sifat Zuin yang satu ini tidak pernah hilang begitu saja.
Lihat saja, alih-alih mendengarkan saran Ketty, Zuin malah menantikan bagaimana ia akan melihat kejadian nanti malam.
"Kamu yakin nggak mau ikut?" tanya Zuin pada Ketty. Ketty langsung menggeleng, menolak ajakan Zuin. Ia tidak mau cari mati. Apalagi ia baru mengalami peristiwa penculikan beberapa hari lalu.
"Kalau begitu aku akan mengajak mereka." Zuin menunjuk para pengawal setianya di luar sana.
"Zuin, aku takut kamu kenapa-napa nanti." ungkap Ketty khawatir.
"Jangan khawatir Ketty, nggak bakal ada apa-apa kok." balas Zuin tetap bersikeras. Ketty hanya menarik nafas pasrah. Kalau Zuin sudah berkeinginan tinggi begini, ayah gadis itu pun tidak bisa membujuknya.
Sorenya pulang kampus, Zuin langsung menyuruh Ketty pulang. Sedang dia tidak langsung pulang. Gadis itu membawa para pengawalnya ke mall sambil menunggu Dastin dan timnya keluar dari markas mereka dan bermaksud mengikuti mereka diam-diam. Lebih dari sejam mereka dalam mall tersebut. Ketika jam menunjukkan hampir pukul tujuh malam, Zuin membawa ke empat pengawalnya menunggu di parkiran dekat mobil Dastin terparkir. Ia sudah tahu Dastin dan timnya ada di markas karena mobil Dastin ada di sana. Dan benar saja, tak lama setelah itu sosok Dastin terlihat dari jarak kira-kira lima puluh meter. Pria itu berjalan bersama Gilang dan yang lain.
"Cepet nunduk!" perintah Zuin pada para pengawalnya. Ia takut ketahuan kalau mereka mengikuti Dastin.
"Nona, kalau ketahuan gimana? Gimana kalau kita semua dipecat?" tanya Wina. Ia takut mereka malah di pecat kalau ketahuan mengikuti keinginan Zuin yang berbahaya itu.
"Tenang aja. Selama ada aku, kalian nggak bakal dipecat." balas Zuin. Matanya sesekali mendongak ke atas. Dastin sudah naik ke mobil. Sebelumnya pria itu mengambil botol aqua yang disodorkan Ayyara.
"Cih, cewek gatel." Zuin tidak suka melihat kelakuan Ayyara yang sok cari perhatian ke suaminya. Dastin juga, pake ambil segala.
__ADS_1
"Ayo ikut mereka. Jangan sampai ketahuan." perintahnya ketika dua mobil didepan sana bergerak keluar parkiran.