
Dalam tidurnya Zuin bermimpi. Dia ada di sebuah taman hiburan yang sangat ramai. Penuh dengan pedagang dan para orangtua yang menggandeng anak-anak mereka. Suara musik dari berbagai stan permainan dan suara-suara manusia terdengar bercampur menjadi satu, riuh rendah di telinganya.
"Zuin, jangan kesitu," suara seorang wanita terdengar memperingatkan. Zuin mengernyit. Siapa wanita itu? Ia belum pernah melihatnya namun terasa akrab. Apakah itu ibunya? Ibunya masih hidup? Dia menolehkan kepalanya dan mendapati wanita itu berdiri di belakangnya, wajah mereka mirip, jadi Zuin yakin itu pasti ibunya. Ibunya benar-benar masih hidup. Hidup dan tampak muda, sepertinya.
Dengan bingung Zuin mengamati sekeliling, dan menyadari kalau bukan dia yang dipanggil wanita itu, di sana berdiri seorang anak, mungkin enam tahun, berisi dan memiliki wajah yang lucu, itu adalah dirinya yang masih berumur enam tahun!
"Jangan bermain terlalu jauh Zuin, mama nggak mau kamu tersesat, di sini sangat ramai," wanita itubmenggandeng tangan kecil Zuin, lalu membawanya ke sebuah kursi kosong yang terletak di pinggir taman.
"Duduk di sini dulu, mama akan beliin kamu es krim," kata wanita itu sambil menunjuk stan es krim dengan antrian pembeli yang panjang, yang terletak kurang dari seratus meter dari tempat mereka.
"Jangan kemana-mana dan jangan berbicara dengan orang asing, kalau ada apa-apa teriak saja, mama pasti akan mendengarnya."
"Zuin kecil mengangguk tapi matanya memandang sekeliling dengan penuh semangat. Zuin tetap mengamati dari kejauhan, kenangan ini masih terpatri samar-samar dibenaknya, kenangan saat pertama kali dia di ajak ke taman hiburan.
Tiba-tiba Zuin kecil melangkah turun dari kursi, dan mulai berjalan menjauh. Zuin yang melihat Zuin kecil tersebut langsung panik.
Hey... Kembalilah, kau bisa tersesat!Dengan gugup Zuin menoleh ke arah wanita yang sedang antri di stan es krim, dia ingin berteriak tapi entah kenapa suaranya tidak keluar, setelah beberapa kali usaha yang sia-sia, akhirnya Zuin memutuskan untuk mengikuti Zuin kecil.
Zuin kecil terus berjalan sambil mengamati sekelilingnya dengan penuh rasa tertarik, tidak menyadari bahwa dia makin tersesat menembus keramaian. Dengan susah payah Zuin berusaha mengikuti sampai kemudian mereka berdua sampai di pinggiran taman, berlokasi dibagian belakang stan yang sepi. Zuin pucat pasi ketika sadar, pemandangan yang ada di depan mereka sungguh mengejutkan, di sana ada sosok lelaki tinggi dengan pakaian rapi, sedikit acak-acakan karena baru saja berkelahi, rambutnya yang sedikit lebih panjang daripada seharusnya, menutupi sisi wajahnya, lelaki itu berdarah di bahunya, darahnya merembes menembus kemeja putihnya.
Tangan lelaki itu memegang pisau yang penuh darah... Dan di depannya, di depannya tergeletak sosok lelaki lain memakai jas, dengan perut terluka parah oleh tusukan pisau. Zuin berusaha melihat wajah lelaki tersebut. Tapi tidak berhasil, pria yang terkapar di lantai itu tertutupi oleh lelaki tinggi tersebut.
Lelaki yang berdiri didepan mayat itu menoleh dan melihat Zuin kecil sedang terpaku menatapnya. Seperti wanita tadi, lelaki itu sepertinya juga tidak menyadari kehadiran Zuin besar, dan entah bagaimana Zuin seolah-olah terpaku, hanya bisa melihat, tidak bisa berbuat apa-apa.
"Halo nak," sapa lelaki itu sambil tersenyum mempesona.
__ADS_1
"Apakah kau tersesat?" tanpa peduli lelaki itu melipat pisau penuh darah di tangannya dan memasukkannya ke saku. Zuin kecil mengerutkan keningnya.
"Aku bersama mama tadi... Apakah kau membunuhnya?" tanyanya dengan suara kekanak-kanakan seolah tidak kenal siapa pria yang sedang terkapar tak bernyawa di lantai. Lelaki itu melirik mayat di kakinya, lalu mengangkat bahunya tak peduli.
"Dia pantas mati, dia sudah mengkhianatiku, jadi aku membunuhnya dengan pisau ini, manusia seperti itu tidak pantas hidup." Zuin kecil menatap lelaki itu tanpa takut.
"Kau tidak lapor polisi?" tanyanya polos. Lelaki itu langsung tertawa.
"Polisi? Apa yang bisa dilakukan polisi di sini? Aku sudah cukup beruntung tidak ada yang melihat kejadian ini, sampai kau datang," ekspresinya berubah kejam. Lalu lelaki itu mendekati Zuin kecil.
Lari!! Ayo lari!! Zuin berusaha berteriak, memperingatkan Zuin kecil, tetapi suaranya tidak bisa keluar, kakinya seolah-olah terpaku. Lelaki itu lalu berjongkok di depan Zuin kecil.
"Aku minta maaf kau berada di tempat yang salah nak, tapi sepertinya aku harus menyingkirkanmu juga." Zuin kecil sama sekali tidak memperhatikan ucapan laki-laki itu, tatapannya terarah pada darah di bahunya.
"Apa?" lelaki itu mengerutkan keningnya, lalu melirik ke bahunya yang penuh darah, "Oh...Ini hanya luka kecil, akan kututup dengan jaket," sambungnya sambil melirik jaket cokelatnya yang tergeletak di tanah.Tanpa di duga Zuin kecil mengeluarkan plester luka yang selalu dibawa-bawanya dari sakunya.
"Bisa diobati dengan ini? papa selalu menutup lukaku yang berdarah dengan ini.
"Lelaki itu tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Tentu saja bisa, terima kasih," sambil masih tersenyum dia mengambil handyplast itu dari tangan Zuin kecil dan memasukkannya ke saku, "Siapa namamu nak?"
"Zuin, jawab Zuin polos. Dengan pelan lelaki itu berdiri, mengambil jaketnya dari tanah dan memakainya, lalu mengulurkan tangannya kepada Zuin kecil.
"Zuin... dan kau bilang sedang bersama mamamu tadi? Sungguh suatu kebetulan karena aku kemari dan bisa melihatmu," lelaki itu mengamati Zuin dengan teliti, tampak puas dengan apa yang ditemukannya.
__ADS_1
"Hmm...sepertinya kau tersesat, ayo, aku akan mengantarkanmu ke bagian informasi supaya nenekmu bisa menemukanmu."
Zuin menarik napas lega karena lelaki itu sepertinya sudah mengurungkan niatnya untuk menyingkirkan Zuin kecil seperti yang dikatakannya tadi. Tangan Zuin kecil menerima uluran lelaki itu, dan mereka bergandengan menuju ke area yang lebih ramai. Buru-buru Zuin mengikuti mereka berdua.
Mereka sampai ke bagian informasi dan lelaki itu menyerahkan Zuin kecil ke petugas yang berjaga di sana, sebelum pergi dia berjongkok lagi di depan Zuin kecil.
"Kau tidak akan mengatakan apapun yang kau lihat tadi kepada orang lain kan?" tanyanya sambil tersenyum. Zuin kecil menganggukkan kepalanya. Lelaki itu memajukan kelingkingnya.
"Janji?" Zuin kecil tersenyum, senyum polos anak-anak dan menautkan kelingkingnya di jari lelaki itu.
"Janji."
dengan senyumnya yang sedikit berbahaya, lelaki itu berdiri dan melambaikan tangan.
"Kalau begitu selamat tinggal Zuin." gumamnya sambil melangkah menjauh. Tiba-tiba lelaki itu berhenti dan memutar tubuhnya, berhadapan langsung dengan Zuin. Zuin langsung pucat pasi, lelaki tampan itu menatap langsung ke arahnya! Apakah dia menyadari kehadirannya ???
Tatapan mata Zuin menelusuri lelaki itu. Kali ini wajah lelaki itu benar-benar jelas. Dan sebuah kesadaran menyentaknya, rambut hitam ...mata cokelat itu... Semuanya tampak lebih muda, tetapi Zuin mengenalinya.
"Kyle....?" gumamnya ragu. Lelaki itu tersenyum, senyum puas yang sedikit keji dan menakutkan, senyum yang tidak mungkin ditampilkan Kyle yang begitu hangat padanya.
"Bukan sayang, panggil aku Raka. Sayang sekali kau tidak melihat bagaimana cara ayahmu mati tadi." kata pria itu kemudian tertawa jahat.
Mata Zuin melotot sempurna. Papanya mati? Lalu secepat mungkin Zuin berlari ke tempat di mana mayat tadi berada. Mayat tersebut masih ada. Dan... Zuin terus berjalan mendekat hingga wajah lelaki yang terkapar tak bernyawa tersebut makin jelas. Ketika menyadari wajah pria itu sama persis dengan papanya, tidak, itu memang papanya. Zuin langsung berlari ke sang papa dan berteriak panik.
"PAPA!" detik itu juga ia terbangun dari mimpi buruknya.
__ADS_1