Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
59


__ADS_3

"Kau mau menikah?" Nako terus-terusan menatap Zuin dengan pandangan tidak percaya. Apa dia salah dengar? Memangnya gadis itu   punya pacar? Seingat Nako Zuin belum pernah pacaran. Tapi hari ini gadis itu tiba-tiba mengajaknya bertemu dan bilang mau nikah. Artinya dia punya pacar dong.


"Aku belum bilang setuju. Itu sebabnya aku mengajakmu bertemu untuk meminta pendapatmu." balas Zuin lalu mendekatkan kepalanya ke arah Nako.


"Menurutmu, aku harus jawab iya atau tidak?" tanyanya kemudian. Jelaslah Nako makin bingung. Ia tidak tahu seperti apa sosok pria yang akan Zuin nikahi, bagaimana dia harus memberi pendapat coba. Kalau mau bertanya pendapat, sepertinya Zuin salah orang. Kenapa tidak tanya ke Ketty saja? Kan mereka selalu bersama.


"Aku tidak kenal pria yang ingin kau nikahi Zuin, kenapa kau tidak bertanya pada Ketty saja? Lagipula kalau kau mau menikah, yang paling penting adalah keputusanmu sendiri, bukan mendengar keputusan orang lain."


mendengar nama Ketty di sebut, Zuin langsung menghembuskan nafas panjang. Maunya juga begitu. Tapi Ketty sedang menghindarinya sekarang. Satu-satunya teman yang dekat dengannya sekali Ketty hanyalah Nako, jadi dia bertanya ke pria itu. Tapi Nako benar juga. Menikah adalah keputusannya sendiri.


"Ketty sibuk, aku tidak punya wak..."


Ucapan Zuin tiba-tiba terhenti karena nada dering hpnya berbunyi. Ada yang memanggil. Ia menatap ke layar ponselnya dan melihat nama Dastin tertera di sana. Zuin mengerutkan kening. Kenapa pria itu menelponnya? Memangnya tidak puas apa mereka bertemu di rumah tiap hari. Apalagi selama dua hari berturut-turut ini Dastin selalu meminta jawabannya tentang pernikahan mereka. Zuin kan mau jual mahal dulu sebelum menjawab.


"Kau tidak angkat?" tanya Nako karena sejak tadi Zuin hanya menatap  ponselnya tanpa berniat mengangkat. Bahkan sih penelpon sudah dua kali menelpon. Untuk kedua kalinya panggilan itu terputus, tapi tak lama kemudian berbunyi lagi, mau tak mau Zuin akhirnya mengangkatnya.


"Kau di mana?" Dastin langsung bertanya dari seberang ketika Zuin menyentuh layar hijau dengan jarinya."


"Di tempat kerja temanku. Kenapa?" sahut Zuin.


"Kirimkan alamatnya. Aku akan menjemputmu sekarang juga." setelah itu sambungan terputus. Membuat Zuin langsung mengutuk Dastin karena seenaknya memutuskan sambungan.

__ADS_1


"Cih, dasar aneh." umpat gadis itu terus memandangi ponselnya. Walau merasa dongkol pada Dastin, gadis itu tetap mengirimkan alamat tempatnya berada.


"Siapa?" Zuin sampai lupa ia sedang bersama Nako sekarang. Gadis itu menaikkan wajah menatap ke depan.


"Laki-laki yang ingin menikahiku." sahut Zuin santai sambil menyeruput jus alpukat miliknya. Nako sendiri jadi penasaran pria seperti apa yang akan dinikahi gadis itu. Ternyata memang benar Zuin mau menikah.


"Apa aku mengenal pria itu? Pria yang  akan menikah denganmu nanti." tanya Nako lagi.


"Kau masih ingat laki-laki yang memborgolku di club malam waktu itu? Pria berparas tampan namun terkadang menyebalkan itu."


Nako mencoba mengingat-ingat. Ah ya, dia ingat. Waktu itu club tempatnya bekerja dibuat heboh oleh aksi tembak-tembakan mereka. Dan pria yang memborgol Zuin sepertinya ketua kelompok itu. Bukankah mereka polisi? Nako mengira-ngira karena mereka membawa borgol. Zuin dan Ketty belum cerita tentang pekerjaan Dastin dan timnya yang sebenarnya. Waktu itu juga Nako pikir Zuin tidak akan bertemu lagi dengan laki-laki itu, apalagi menjalin hubungan. Namun tak disangka mereka malah akan menikah sekarang.


Ternyata banyak yang telah Nako lewatkan selama ini. Nako tidak tahu sudah berapa banyak yang ia lewati dengan kehidupan Zuin dan Ketty. Apalagi Ketty. Dia belum pernah bertemu Ketty hampir sebulan ini. Tidak tahu bagaimana kabar gadis itu sekarang. Dibandingkan Ketty, Nako memang paling banyak bertemu dengan Zuin. Pria itu menatap Zuin dan kembali bertanya lagi.


namun sebelum Zuin menjawabnya, suara bising dari luar mengganggu pembicaraan keduanya.


Tin... Tiiinn...


Suara klakson mobil dari luar cafe tersebut berhasil mengalihkan perhatian Zuin dan Nako. Bahkan beberapa pelanggan yang didalamnya. Zuin sampai lupa menjawab pertanyaan terakhir Nako.


Mata Zuin menyipit melihat laki-laki yang duduk dalam bangku sopir, yang kini menatap ke arahnya dengan sorot mata yang seolah menyuruhnya cepat keluar dari tempat itu. Dalam sekejap mata, Zuin langsung mengenal siapa pria itu.

__ADS_1


"Apa dia manusia? Padahal belum sampai sepuluh menit aku mengiriminya alamat cafe ini." ujar Zuin terheran-heran. Nako ikut-ikutan mengangguk. Ia merasa Zuin memang belum lama berbicara dengan pria ditelpon tadi dan kini pria itu sudah muncul di sini. Atau mungkin saja pria itu memang berada di sekitar sini saat menelpon Zuin tadi. Itu sih yang paling masuk akal menurut Nako.


Sementara dari luar sana Dastin kembali membunyikan klakson mobilnya dengan mata tertuju pada Zuin. Zuin berdecak pelan merasa malu karena dilihatin orang. Gadis itu akhirnya berdiri. Sebelum keluar, ia menatap Nako sebentar. Pembicaraan mereka memang belum selesai tadi, tapi ia akan mencari waktu nanti buat ngobrol dengan Nako lagi.


"Ko, nanti kita ngobrol lagi yah. Singa jantan itu tidak akan berhenti sampai aku keluar." ujar Zuin ke pria didepannya itu. Nako tertawa mendengar perkataan Zuin kemudian mengangguk. Lagipula mereka memang masih ada banyak waktu buat ngobrol bareng. Ia akan bertanya-tanya nanti.


Setelah pamit, Zuin berlari kecil ke mobil Dastin. Gadis itu melambai-lambai pada Nako dari dalam mobil, sampai mobil itu benar-benar menghilang dari area Cafe.


"Siapa pria tadi?" tanya Dastin dengan pandangan fokus kedepan karena sedang menyetir. Ia bisa melihat Zuin akrab dengan laki-laki di cafe tadi. Dia pikir tadi Zuin bertemu dengan Ketty, sahabat perempuannya. Tapi ternyata laki-laki. Mereka kelihatan dekat lagi. Tapi wajah pria itu tampak tidak asing. Apa dia pernah melihatnya sebelumnya?


"Temanku. Namanya Nako." sahut Zuin.


"Kalian dekat?"


"Mm, Nako satu-satunya teman laki-laki yang paling dekat denganku."


kali ini ucapan Zuin menarik perhatian Dastin. Pria itu melirik gadis itu sebentar lalu fokus kedepan lagi. Ia tidak begitu suka mendengar gadis itu bilang dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Ia merasa cemburu, tapi juga tidak bisa seenaknya melarang-larang Zuin bertemu dengan teman laki-lakinya itu.


"Oh ya, kenapa kau menjemputku? Kau tidak kerja? Kita mau kemana?" tanya Zuin beruntun. Seingatnya sekarang adalah hari kerja pria itu.


"Ke rumahku. Aku ingin membawamu menemui orangtuaku."

__ADS_1


"HAH?!"


mata Zuin melotot sempurna. Kaget? Tentu saja. Dia kan belum mempersiapkan diri. Astaga, Dastin apa-apaan. Bagaimana bisa dia bertemu orang tua pria itu dengan gaya begini.


__ADS_2