Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
85


__ADS_3

Habis makan, Dastin bergegas ke markas dan Barry ke kantor. Sementara Zuin ke kampus seperti biasanya. Yang berbeda adalah, kali ini gadis itu ke kampus dengan empat orang pengawal. Dastin dan papanya bersikeras Zuin harus mau mereka mengawalnya kemanapun dia pergi. Jadinya Zuin tidak bisa apa-apa. Dia memang benci diikuti seperti ini, tapi mengingat akhir-akhir ini banyak kejahatan yang memantau keluarganya, Zuin pasrah saja. Lagian itu demi keselamatannya juga.


Mungkin orang-orang di kampus akan merasa aneh dan lebay kalau melihat dirinya membawa pengawal, tapi mau bagaimana lagi.


Agar ke empat pengawalnya tidak keliatan terlalu mencolok, Zuin menyuruh mereka mengenakan pakaian santai, menurutnya itu jauh lebih baik daripada pakaian hitam-hitam. Kalau tidak ada yang memperhatikan, pengawal-pengawal itu akan terlihat seperti teman sebayanya. Mereka juga masih tergolong muda. Mungkin di pertengahan dua puluan. Satu wanita, sisanya laki-laki. Mungkin papanya sengaja mencari pengawal yang perbedaan umur mereka tidak jauh darinya agar Zuin merasa lebih nyaman dan bebas memerintah.


Di tempat lain, Dastin dan timnya terus mencari waktu yang tepat untuk menjalankan aksi mereka membakar laboratorium tempat para kelompok penjahat yang sengaja mengembangkan obat terlarang tersebut diam-diam. Dastin sangat menginginkan misi itu selesai dengan cepat, tapi ia tahu itu butuh waktu. Mereka perlu menyusun strategi yang sempurna untuk melawan musuh yang kuat.


"Bagaimana kondisi laboratorium itu?" tanya Dastin pada seseorang di telpon. Orang tersebut adalah Wiliam, sih mata-mata BIN yang kini bergabung menjadi salah satu tim mereka dalam misi kali ini.


"Kalau siang-siang begini cukup ramai, di malam hari ada empat orang yang berjaga. Mereka pakai senjata tajam. Penjagaannya juga sangat ketat." jawab William bersembunyi dibalik tembok dengan mata terus fokus ke arah laboratorium perusahaan tempat dirinya bekerja sebagai mata. Ia sudah tahu di mana letak-letak cctv-nya. Meski begitu ia harus tetap berhati-hati. Orang yang mereka lawan adalah orang yang kuat. Bukan tidak mungkin dirinya bisa ketahuan nantinya.


"Kau yakin ada cela bagi kita untuk masuk diam-diam?" kali ini Gean yang bertanya. Ponsel Dastin berada di atas meja dan sengaja di loadspeaker biar semua timnya mendengar.


"Yah. Aku berhasil membuat jalan masuk diam-diam. Dan malam ini kalian bisa bergerak." sahut William lagi. Dastin puas mendengarnya.


"Baiklah. Terimakasih William. Teruslah berhati-hati di sana." kata Dastin kemudian sebelum mengakhiri pembicaraan mereka dengan William di telpon.

__ADS_1


Pandangannya berpindah ke yang lain, yang berdiri dan terus menatap ke arahnya.


"Semuanya dengar baik-baik," suara tegas Dastin membuat para anggota timnya berdiri tegak, siap mendengar perintahnya.


"Malam ini kita akan bergerak. Laboratorium itu akan segera kita lenyapkan."


"Siap ketua!" sahut mereka bersamaan. Semuanya tampak antusias. Bagaimana tidak coba, mereka akan melakukan misi berbahaya secara diam-diam. Meski membakar bangunan orang lain diam-diam termasuk melanggar hukum, mereka tetap harus melakukannya, demi keselamatan banyak orang. Untuk mencegah pengembangan virus berbahaya itu, lebih baik kalau di bakar habis.


                                   ***


"Jadi orang yang nyulik aku waktu itu salah nyulik? Dia sebenarnya mau nyulik kamu!?" mata Ketty membulat besar. Setelah beberapa hari ini absen, akhirnya dia dengan berani memutuskan masuk kampus lagi. Dan hal pertama yang dia dengar adalah orang yang mau menculiknya ternyata salah culik. Sial sekali dirinya. Tapi dia tidak bisa menyalakan Zuin juga. Kan bukan salah temannya.


"Iya, aku nggak sengaja denger pembicaraan papa sama kak Nevan. Maafin aku yah Ket, gara-gara aku, kamu dalam bahaya." ucap Zuin tertunduk. Raut wajahnya merasa bersalah. Tapi ia harus jujur dan bilang yang sebenarnya pada Ketty. Ia sudah siap seandainya Ketty marah dan menyalahkan dirinya.


Ketty tersenyum menatap Zuin. Sekarang ia tidak mau marah, benci atau membanding-bandingkan dirinya dengan Zuin lagi. Sudah cukup dulu, ketika matanya dibutakan karena cinta bodohnya terhadap Kyle. Ia mau lebih fokus menyelesaikan kuliahnya dan terus menjalani persahabatannya dengan Zuin. Masalah salah culik atau tidak, ia tidak akan memperhitungkannya lagi.


"Nggak usah dipikirin Zu. Kamu nggak salah apa-apa. Lagian aku baik-baik ajakan sekarang." katanya.

__ADS_1


"Beneran?"


"Mm." Ketty mengangguk pasti. Pandangannya beralih ke arah empat orang pengawal Zuin yang berdiri di luar kelas.


"Jadi, kamu nggak nolak lagi diikutin pengawal? Yang lain natap kamu tuh." tanya Ketty menunjuk seisi kelas dengan dagunya. Zuin tahu dirinya sejak tadi menjadi perhatian di kelas karena datang-datang bawa pengawal, sampai empat lagi. Tapi ia tidak peduli. Kampus pun tidak melarang. Papanya sudah menyuruh kak Nevan untuk bicara dengan petinggi kampus perihal masalah yang dialami Zuin, kenapa sampai gadis itu perlu selalu diikuti pengawalnya.


"Biarin aja. Toh selama ini mereka selalu ngomong aku anak dari keluarga yang nggak jelas. Kalau mereka liat aku bawa pengawal, mereka pasti penasaran asal-usul aku dan siapa keluarga aku." ujar Zuin. Ketty tertawa.


"Kalau mereka mikir kamu asalnya dari keluarga mafia gimana? Kan selama ini kelakuan kamu..." ledek Ketty. Zuin menatapnya sebal. Sih Ketty, bukannya belain sahabat sendiri malah ngeledekin.


"Nona," seru salah satu dari  pengawal Zuin. Yang tiganya masih di luar, hanya satu itu yang masuk, entah kenapa. Mungkin ada perlu. Pandangan Zuin dan Ketty sama-sama beralih ke sih pengawal.


"Mamanya tuan muda Dastin sedang menunggu nona di luar. Katanya ingin bertemu nona."


"Hah? Siapa?" seru Zuin dengan suara toanya. Mungkin dia yang salah dengar. Saking tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, ia bahkan tidak sadar semua orang dalam ruangan tersebut sedang menatapnya.


"Mamanya tuan muda Dastin." ulang sang pengawal. Detik itu juga Zuin langsung berdiri dari bangku. Menarik Ketty ikut dengannya keluar.

__ADS_1


__ADS_2