
Sepanjang perjalanan, Dastin tidak bersuara sama sekali. Tinggal dirinya dan Zuin di dalam kendaraan beroda empat itu. Mereka sekarang menuju apartemen Dastin. Pria itu masih emosi pada Zuin. Ia tahu yang membuatnya emosi seperti ini adalah karena kekhawatirannya yang mungkin menurut orang lain terlalu berlebihan.
Tapi Dastin tidak peduli dengan pendapat orang lain. Baginya, itu adalah hal yang wajar karena Zuin adalah perempuan yang dia cintai. Tentu saja ia khawatir terjadi apa-apa pada gadis itu.
Ketika mereka sampai di gedung tempat tinggalnya, Dastin membukakan pintu untuk Zuin dan menarik gadis itu keluar dari dalam mobil, membawanya menuju lantai apartemen tanpa sepatah katapun. Zuin sendiri berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Dastin, tapi pria itu jauh lebih kuat darinya. Tidak, tidak. Zuin terus berpikir mencari ide.
Dastin benar-benar marah. Dia harus kabur. Bagaimana kalau pria itu tidakĀ bisa menahan diri dan menyakitinya? Seperti di film-film. Hihh. Zuin merinding ketika memikirkan suami memukul istrinya sendiri akibat emosi yang berlebihan. Yah, bukan tidak mungkin Dastin menghabisinya bukan?
"Auww..." bahkan saking hebohnya gadis itu dengan pikirannya sendiri, ia tidak sadar mereka sudah sampai ke dalam ruangan apartemen Dastin. Pria itu menghempas Zuin ke sofa ruang duduk. Tatapannya tajam dan berpindah sekalipun dari Zuin. Gadis itu menelan ludah. Sepertinya apa yang barusan dia pikirkan benar-benar akan terjadi.
"Kenapa ada di sana? Katakan itu kebetulan atau kau memang sengaja mengikuti kami?" tanya Dastin dengan tatapan tajamnya. Coba saja kalau gadis itu berbohong. Lagipula Dastin bisa tahu kalau gadis itu berbohong atau tidak padanya.
Zuin memutar otaknya. Tentu saja dia akan berbohong. Kalau itu bisa membuat dirinya terbebas dari amukan sang suami.
"A.. aku tidak sengaja ke sana. Kamu lihat sendiri kan, banyak orang yang datang juga. Bagaimana orang-orang nggak heboh coba, bangunan yang kalian bakar itu hampir habis tak bersisa." bohong Zuin.
__ADS_1
Dastin tertawa keras. Baru dari perkataannya saja, gadis itu sudah jelas-jelas ketahuan berbohong. Ia lalu maju selangkah dan berlutut didepan Zuin. Sementara Zuin makin merapatkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Darimana kamu tahu aku yang membakar lab itu?" tanya Dastin dengan nada rendahnya sambil berlutut didepan sang istri. Zuin langsung meringis dalam hati. Zuin, Zuin, kau memang bodoh. Umpatnya pada dirinya sendiri.
"A..aku... Baiklah, aku mengaku sengaja mengikuti kalian karena penasaran." percuma. Walau bersikeras mencari alasan, otaknya sudah tidak mampu berpikir lagi. Lebih baik jujur saja.
Zuin menunjukkan senyuman lebarnya dihadapan Dastin berharap pria itu tidak akan memperpanjang masalah ini lagi. Sayangnya senyuman yang dibuat semanis mungkin itu tidak mempan sama sekali. Dastin terus menatapnya seperti seorang iblis yang siap memangsanya. Lalu tangan Dastin terangkat membelai pipinya dengan senyuman nakalnya.
"Sepertinya aku harus menghukummu malam ini." katanya serak hingga Zuin yang mendengar merinding seketika.
"A..apa yang i...ingin kau lakukan?" balas Zuin menelan salivanya. Dastin menyeringai.
Zuin beringsut turun dari sofa. Ia berencana kabur, sayangnya dengan sigap Dastin mencekal kakinya yang berniat kabur, lalu menariknya, hingga kini ia berada diatas tubuh gadis itu. Posisi yang memudahkannya untuk mendominasi Zuin.
"Le..pasin." Zuin berusaha melawan seperti seseorang yang akan diperkosa. Padahal wajar saja Dastin melakukan hal tidak senonoh padanya. Toh mereka suami istri dan telah melakukannya berkali-kali. Mungkin karena dia takut dengan ancaman Dastin jadi dirinya tidak bisa berpikir waras lagi. Sementara Dastin tenang-tenang saja. Sekali-sekali melakukan hubungan intim dengan cara pemaksaan seperti ini kepada istrinya rasanya menyenangkan.
__ADS_1
Kekuatan Zuin tidak sebanding dengan Dastin. Kedua pergelangan tangannya dipegang kuat oleh pria itu diatas kepalanya. Zuin tak mampu berontak sama sekali. Tenaganya sudah hampir terkuras habis. Dastin yang melihat sang istri tak berdaya lagi dalam kungkungannya tersenyum puas.
Dastin menundukkan kepalanya dan mencium sisi leher Zuin, memberi tanda kepemilikan di sana. Sebelah tangannya melepaskan cekalannya dari pergelangan sang istri. Zuin sendiri sudah terlalu lelah melawan. Ia membiarkan Dastin melakukan apapun yang pria itu mau.
Dastin tersenyum. Lalu dengan sengaja ia menelusupkan tangannya yang semula mengusap perut Zuin kebalik baju perempuan itu kemudian menangkup bongkahan daging di dada istrinya yang masih tertutupi bra. Ukurannya makin membesar akibat sering ia mainkan dengan mulut dan tangannya.
Zuin tersentak. Tubuhnya menggelinjang akibat remasan kuat Dastin di ***********. Lalu gerakan itu berhenti. Dastin menatapnya sebentar.
Menatap Zuin dengan penuh gairah,
"Apakah kau sudah siap untukku sayang?" jemari Dastin kembali mengusap ujung pay*dara Zuin dengan lembut.
"Aku..." sekujur tubuh Zuin bergetar. Ia tak mampu menolak lagi. Ia baru sadar dengan hukuman yang dimaksud pria itu tadi. Kalau hukumannya seperti ini, jelas dia tidak berdaya. Di atas ranjang, Dastin yang paling mendominasi. Zuin tidak bisa menolak, karena dirinya juga menikmatinya. Dastin terlalu hebat di atas ranjang. Dan Zuin selalu melayang dibuatnya.
"Mungkin aku perlu memeriksanya dulu," Dastin meluncurkan sebelah tangannya dari pay*dara Zuin, mengusap perut Zuin dan terus bergerak turun. Pria itu bergerak perlahan-lahan sampai jemarinya menyusup masuk ke dalam jins Zuin. Ia harus segera melepaskan jins ini nanti.
__ADS_1
Zuin sendiri membiarkan jemari Dastin menyentuhnya. Tubuh Zuin begitu lembut, dan ia gemetar ketika Dastin menyentuh tubuhnya di bagian yang paling sensitif, berusaha menemukan pusat dirinya. Ketika akhirnya menemukannya, Dastin menggerakkan jemarinya dengan lembut. Hanya sekedar menggoda. Zuin mengerang, tubuhnya bergetar hebat. Tubuh Dastin sendiri sudah menegang putus asa.
"Ya, kau memang sudah siap," ucap Dastin sangat parau, Lalu berhenti sebentar, mengangkat tubuh Zuin masuk ke dalam kamar mereka.