Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
50


__ADS_3

Semuanya kembali ke vila dengan perasaan lega. Dastin dan lainnya sangat berterimakasih pada Dian karena tanpa gadis itu, mungkin mereka belum menyelesaikan penyelidikan mereka sampai sekarang. Zuin sendiri belum bersuara sama sekali sejak kembali dari kantor polisi sampai ke tempat ini. Satu-satunya orang yang paling merasa tidak puas adalah dirinya sendiri. Zuin tidak bisa bergerak ke manapun karena Dastin.


Zuin bahkan bisa melihat kalau sejak tadi Ayyara senang melihatnya kesal. Apalagi dibandingkan sebelum-sebelumnya, hari ini Ayyara perhatikan, Dastin bersikap cuek dan jarang bicara pada gadis itu. Pastilah wanita itu senang. Tapi Zuin sama sekali tidak peduli. Tidak penting juga.


"Kalau kami tidak bertemu denganmu, mungkin kami akan tinggal lama di desa ini. Untung ada kamu." kata Rivo. Dian tersenyum tipis. Ekspresinya berbanding terbalik dengan Zuin yang masih dongkol.


"Aku juga ingin mengucapkan terimakasih pada kalian. Tanpa bantuan kalian, aku tidak bisa menangkap penjahat-penjahat itu secepat ini." balas Dian merendah. Pandangannya lalu berpindah ke Zuin.


"Aku juga ingin berterimakasih pada Zuin. Dia banyak membantuku juga." ujar wanita itu tersenyum. Sebenarnya Dian cukup menyukai Zuin. Tapi karena Zuin adalah putri profesor Barry, ia jadi tidak begitu leluasa berbicara akrab dengan gadis itu. Dimata Dian, Zuin berbeda dengannya. Zuin yang mendengarnya mendengus pelan.


"Setidaknya kau masih tahu diri." balasnya ketus dengan gaya sombongnya, tapi perkataannya sama sekali tidak membuat Dian tersinggung. Dian sudah cukup mengetahui karakter asli Zuin dari Nevan. Jadi mau gadis itu bersikap seperti apapun, tidak ada pengaruhnya baginya. Hanya saja, saat pandangan Dian tidak sengaja melirik Ayyara, ia tertegun sesaat. Cara Ayyara menatap Zuin penuh dengan kebencian. Namun, ketika Ayyara menyadari dirinya sedang ditatap oleh Dian, wanita itu cepat-cepat mengubah ekspresi wajahnya dan pura-pura tersenyum pada gadis itu. Dalam hati Dian, ia merasa penasaran apa sebenarnya yang membuat Ayyara tidak menyukai Zuin.


"Oh ya, karena tugas kita sudah berakhir, bagaimana kalau malam ini kita rayakan bersama? Sebelum pulang besok?" seru Gilang. Yang lain mengangguk setuju termasuk Dastin. Pria itu sesekali mencuri pandang ke Zuin. Tampaknya suasana hati gadis itu masih tidak begitu baik, pasti masih kesal padanya. Dastin memikirkan cara bagaimana agar Zuin tidak kesal padanya lagi. Pria itu terus berpikir.


"Aku dan Dian akan memasak." Sari angkat bicara, membagi tugas mereka masing-masing.

__ADS_1


"Ayyara, kau siapkan minuman dan atur peralatan makan. Lalu Zuin..." Zuin menoleh ke Sari, menunggu perkataan wanita itu selanjutnya. Ia tidak akan membantah kalau Sari yang menyuruhnya.


"Bagaimana kalau kau mengeluarkan semua cemilanmu untuk dimakan bersama nanti?" kata Sari. Ia masih ingat kemarin dia menemani Zuin supermarket beli cemilan. Cemilan yang dibeli Zuin cukup banyak dan masih tersisa banyak didalam kamar.


"Baik." sahut Zuin lalu berdiri mengambil ancang-ancang untuk pergi ke kamar. Ia memang masih kesal pada Dastin, tapi dirinya tidak mau tertinggal dengan makan-makan besar tersebut. Pokoknya dia harus ikut, titik.


"Aku ikut denganmu." kata Dastin ikut berdiri. Lelaki itu tidak sadar sama sekali kalau perkataannya membuat semua orang di tempat ini saling bertatapan dengan ekspresi berbeda-beda. Hanya Ayyara yang terlihat kesal setengah mati. Kenapa pria itu tiba-tiba berkata begitu? Bukannya sejak tadi dia tidak mempedulikan Zuin sama sekali? atau Ayyara saja yang terlalu banyak berpikir? Wanita menahan kesal dalam hati.


Sedang Yang lain malah senyum-senyum penuh arti. Sepertinya sehabis dari kampung ini akan ada pasangan baru. Beberapa hari setelah berada di kampung ini, bohong kalau anggota tim Dastin tidak melihat mode bucin ketua mereka pada Zuin. Bahkan Dian bisa melihatnya.


Zuin sendiri yang mendengar ucapan Dastin langsung menoleh cepat ke pria itu. Ia masih kesal sekali pada Dastin dan tak mau bicara dengannya.


"Lihat, mereka manis sekali bukan? Sudah kubilang Dastin pasti menyukai Zuin. Kalau tidak, pria itu tidak mungkin membawa gadis itu ikut ke sini." ujar Rivo. Ia tidak menyadari ekspresi tidak senang di wajah Ayyara. Hanya Gilang yang menyadarinya.


"Sudah-sudah. Dian, ayo ke dapur." ujar Sari lalu mengajak Dian ke dapur. Mereka akan memasak seadanya saja. Tergantung bahan makanan apa yang tersedia didalam kulkas.

__ADS_1


                                   ***


Dastin mendorong perlahan pintu kamar yang dimasuki Zuin tadi. Gadis itu sedang sibuk memasukan cemilan ke dalam kantong plastik sambil membelakanginya sehingga tak menyadari kedatangan Dastin. Pria itu terus mengamatinya dari belakang dengan senyuman tipis yang terpampang indah di wajahnya. Ketika Zuin berbalik, gadis itu tampak kaget melihat Dastin sudah berdiri di sana.


Zuin pikir pria itu tidak jadi mengikutinya karena penolakannya tadi. Tapi ia salah besar. Dastin malah sudah berdiri didepannya entah sejak kapan.


"Kau tidak punya telinga? Kan sudah kubilang tidak butuh bantuanmu!" ketus Zuin. Dastin tahu gadis itu bersikap kasar karena masih marah padanya. Pria itu tersenyum nakal. Ayo lihat sampai sejauh mana gadis itu akan bicara kasar padanya.


Dastin lalu maju mendekat. Ia tidak berhenti dan terus mendekati Zuin, membuat Zuin mau tak mau mundur sampai dirinya menabrak tembok dan terhenti. Ia mendorong badan kekar Dastin ketika pria itu menghimpitnya ditembok. Lagi. Untuk kesekian kalinya posisi mereka seperti ini. Jarak mereka sangat dekat, dan Zuin bisa merasakan hembusan nafas Dastin diwajahnya. Gadis itu berusaha bersikap tenang walau jantungnya saat ini tidak baik-baik saja karena ulah Dastin. Entah apa yang membuat lelaki seperti Dastin ini hobi sekali mengunci Zuin seperti ini.


"Kau masih marah padaku?" bisik Dastin pelan ditelinga Zuin. Sekalian menggoda gadis itu. Zuin ingin memalingkan wajah ke arah lain, tapi Dastin tidak memberinya kesempatan sama sekali. Ia ingin Zuin hanya menatapnya sekarang.


"Jawab aku." gumamnya lagi. Kali ini didepan wajah Zuin. Zuin menarik nafas berat, berusaha keras bersikap normal lalu membalas tatapan Dastin dengan berani.


"Menurutmu?" tatapannya berani namun setelah itu ia menggigit bibir lirih, menutupi rasa gugupnya. Dastin tertawa pelan. Kelihatan sekali Zuin gugup tapi masih berusaha terlihat biasa saja didepannya. Dastin kembali mendekatkan wajah ke telinga Zuin.

__ADS_1


"Menurutku, sekarang kau kelihatan sangat gugup. Dalam pikiranmu, aku mungkin akan menciummu bukan?" bisik Dastin serak. Zuin terdiam. Ia malu. Sangat malu. Seseorang, ayo datang sekarang. Pleasee...


Doa Zuin secara kebetulan langsung terkabul, pintu kamar yang sengaja dikunci dari dalam oleh Dastin ketika masuk tadi tiba-tiba di ketuk dari luar, sebelum Dastin melakukan niatnya. Tentu saja pria itu kesal setengah mati. Padahal tinggal selangkah lagi dia akan mencium Zuin, merasakan manisnya bibir ranum itu.


__ADS_2