
"Kalian siap?" Dastin menatap bergantian para timnya. Mereka baru saja habis mengatur strategi untuk misi penyelamatan Ketty. Gean dan yang lain mengangguk bersamaan. Tempat itu sudah terlacak dan Ketty dipastikan berada di dalam rumah tua tersebut. Meski sudah biasa menangani kasus seperti ini, Dastin dan tim yang dipimpinnya harus tetap waspada, mengatur semuanya dengan matang untuk mencegah adanya korban jiwa. Mereka harus bergerak dengan sangat berhati-hati.
"Baiklah kalau begitu. Kita bergerak sekarang." kata Dastin lagi bersiap-siap pergi dari situ.
"Bagaimana dengan polisi yang dalam perjalanan?" tanya salah satu petugas cctv. Dastin meliriknya sebentar.
"Katakan pada mereka tentang kami, dan bilang langsung ke lokasi penculikan." ucap Dastin. Petugas cctv itu mengangguk. Dastin ingin berjalan pergi namun ia lupa sejak tadi ada gadisnya yang terus memeluk lengannya, menahan pria itu. Zuin terus menempel padanya seolah tidak mau pria itu pergi dari sisinya sedetik saja. Dastin menatap Zuin sebentar.
"Aku mau ikut ke rumah tua itu titik. Aku pengen liat Ketty langsung, sama liat penculik sialan itu ditangkap." kata Zuin membalas tatapan Dastin dengan ekspresi wajah yang sangat tidak ingin di tolak.
Ayyara yang berdiri tak jauh dari situ memutar bola matanya malas. Menurutnya Zuin malah cuma akan merusak pekerjaan mereka seperti yang lalu-lalu. Kan gadis itu suka sekali berbuat onar. Bukan tidak mungkin rencana penyelamatan mereka gagal karena ulah Zuin.
"Memangnya gadis lemah dan manja sepertimu bisa apa? Yang ada kau malah hanya menyusahkan kami. Sudah untung temanmu mau kami selamatkan." kata Ayyara sinis. Ia tidak tahan lagi melihat Zuin yang sengaja mengambil-ambil kesempatan pegang-pegang Dastin. Dia saja yang sudah beberapa tahun ini bekerja bersama Dastin tidak pernah berani menyentuh pria itu, Zuin malah seenaknya.
Zuin menatap Ayyara dengan raut wajah menantang.
"Nenek lampir sebaiknya diam saja." balasnya tak kalah sinis. Mata Ayyara melebar marah.
__ADS_1
"Apa katamu? Coba bilang sekali lagi. Kau pikir aku tidak berani mendisplinkan dirimu di sini?" kata Ayyara dengan nada tinggi. Wanita itu mulai tersulut emosi. Sari mencoba mengingatkan namun tidak di gubris sama sekali oleh Ayyara.
"Yee.. nenek lampir. Pantes aja cepat tua. Marah-marah terus sih, wleee.." ledek Zuin. Ayyara makin tersulut emosi. Namun ia tidak bisa main tangan karena Zuin sengaja berlindung disamping Dastin. Ah ya Dastin.
Ayyara terdiam. Ia baru sadar Dastin tengah menatap tajam ke arahnya. Ya ampun, padahal bukan dia saja yang berdebat. Tapi tatapan Dastin menunjukkan dengan jelas pria itu tampak... Marah?
"Ayyara, jaga sikapmu. Kau tahu Zuin masih muda bukan? Sebagai wanita yang lebih tua, harusnya kau memberi contoh yang baik. Dan Zuin..." pandangan Dastin berpindah ke Zuin,
"Jangan cari gara-gara." nada yang dipakai Dastin pada Zuin jauh lebih lembut ketika menegur Ayyara. Pastinya Ayyara tambah tidak suka.
Dastin sendiri tahu memang Ayyara yang mulai, dan Zuin bukanlah tipe gadis yang bisa diam saja kalau dibilang seperti tadi. Namun Dastin merasa harus menegur keduanya. Meski dia tidak suka cara bicara Ayyara pada istrinya tadi, namun dia juga tidak ingin keliatan sangat memihak Zuin. Jadi pria itu memilih mengambil jalan tengah. Meski sebenarnya jelas sekali dari nada bicaranya pada kedua perempuan itu yang sangat berbeda. Mereka semua di situ saja tahu Dastin lebih memihak Zuin.
"Aku ikut." ucapnya. Dastin menghela nafas,
"Baiklah. Tapi janji dulu. Di sana nanti kamu tunggu dalam mobil." balas pria itu. Zuin sedikit keberatan namun akhirnya mengangguk. Keputusan Dastin itu lebih baik daripada dia tinggal dan menunggu di tempat ini.
"Ayo pergi." kata Dastin pada timnya. Pria itu menggenggam tangan Zuin keluar dari tempat itu. Timnya mengikuti dari belakang.
__ADS_1
\*\*\*
Di suatu sudut yang gelap sebuah telepon terangkat, seorang laki-laki berpakaian hitam-hitam itu sedang duduk di kursi besarnya sambil merokok, segelas wine dengan botolnya yang setengah penuh tampak di sampingnya, tampangnya jelek dengan hidung memerah karena mabuk.
"Berhasil?" tanya orang lain yang menelponnya. Orang tersebut bertanya dengan cepat.
Jeda sejenak, pandangan laki-laki itu menatap ke gadis yang dia culik tadi, yang sudah terikat tak jauh dari tempat duduknya dan belum sadarkan diri sampai sekarang, lalu pria itu menjawab dengan tenang.
"Iya bos. Aku berhasil menculik putri Barry. Gadis itu bersamaku sekarang. Setelah ini rencana bos sudah bisa dijalankan." jawabnya.
"Kau yakin itu putrinya sih brengsek Barry?" sih penculik melirik Ketty lagi. Ia sebenarnya masih ragu karena tidak mengingat dengan jelas foto putri Barry yang sempat dia lihat. Tapi pria itu meyakinkan dirinya sendiri kalau dirinya tidak salah orang.
"Saya yakin bos." jawabnya kemudian.
"Bagus, tunggu di situ. Aku akan segera ke sana. Setelah itu kita akan bermain-main dengan Barry." orang diseberang sana tertawa jahat lalu mengakhiri pembicaraan di telpon. Nama orang itu adalah Marlon. Salah satu musuh bisnis Barry. Seminggu yang lalu, mata-matanya berhasil mengetahui tentang keberadaan Zuin, putri Barry yang selalu pria itu sembunyikan dari media dan orang banyak.
Marlon adalah pebisnis licik yang sanggup melakukan hal-hal kotor demi mencapai tujuannya. Beberapa bulan lalu ia memang sempat mendengar Barry ditangkap karena kasus korupsi, namun pemberitaan tersebut dengan cepat menghilang dan Barry pun ikut menghilang. Tapi perusahaan pria itu tidak bangkrut, Barry percayakan perusahaannya dikelola oleh musuh Marlon yang lainya, siapa lagi kalau bukan Kyle. Sudah lama Marlon tahu Kyle dan Barry bersahabat.
__ADS_1
Marlon yang licik tentu saja merasakan gerak-gerik Barry mencurigakan. Marlon memang tidak berhasil mencari tahu apa yang sedang Barry kerjakan saat ini sampai pria itu harus bersembunyi. Namun mata-mata Marlon berhasil mendapatkan rahasia penting lainnya tentang keberadaan putri kandung Barry. Itu sebabnya Marlon tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini dan berniat jahat menculik putri Barry, untuk membuat pria itu menyerah padanya tentu saja. Sayang sekali Marlon sama sekali tidak menyadari anak buahnya salah culik.
Telpon ditutup, penculik jelek itu terkekeh dalam kegelapan sambil meneguk minuman kerasnya. Sementara Ketty di belakangnya mulai sadar dan membuka matanya perlahan. Ketika Ketty menyadari dirinya berada dalam kegelapan dengan keadaan terikat dan mulut di lem, pandangannya menatap lurus kedepan sana. Suara tawa jahat itu terdengar jelas di telinga Ketty dan perempuan itu panik seketika sambil meronta-meronta berusaha melepaskan diri.