
Zuin tidak bisa berpikir panjang lagi sampai-sampai tidak menyadari dirinya malah menarik Dastin masuk ke toilet wanita. Ia terlalu gugup dan khawatir karena sih gadis bernama Dian itu, tahu tentang penyamaran mereka. Pokoknya karena gugup, Zuin tidak bisa berpikir jernih dan asal menarik Dastin masuk kemana saja. Untung di dalam toilet tersebut tidak ada siapa-siapa. Kalau tidak, dia dan Dastin bisa viral lagi. Kan nggak lucu. Apalagi viralnya karena kedapatan berduaan di toilet wanita. Sangat memalukan. Hih, amit-amit.
"Zuin, kau gila! Kenapa membawaku ke sini?" kata Dastin dengan suara pelan. Lebih seperti berbisik. Memang tak ada murid lain dalam toilet tersebut, tapi bukan berarti di beberapa bilik-bilik dalam toilet itu tidak ada orangnya juga. Mereka harus ekstra berhati-hati. Mungkin saja ada orang dalam bilik. Zuin tersenyum kikuk menatap Dastin.
"Aku tidak sadar ini toilet, maaf." gumamnya ikut berbisik. Dastin membuang nafas lelah. Ia ingin mengajak Zuin keluar dari situ tapi tiba-tiba terdengar suara dari luar. Langkah mereka seperti mau masuk ke toilet ini. Dastin berdecak kesal lalu secepat mungkin menarik Zuin masuk ke dalam salah satu bilik. Sangat berbahaya kalau mereka kedapatan berduaan di tempat ini.
"Dastin,"
"Diam dulu." bisik Dastin cepat-cepat menutupi mulut Zuin dengan tangannya. Mereka saling berpandangan. Namun tidak ada satupun di antara keduanya yang berbicara. Dinding bilik ini berbahan tipis dan suaranya bergema. Suara mereka kemungkinan bisa terdengar samar-samar dari luar sekalipun mereka hanya saling berbisik. Jadi lebih baik diam. Tempat ini bukanlah tempat yang baik untuk bicara. Apalagi membicarakan hal yang penting.
Entah sudah berapa lama keduanya berada dalam bilik tersebut dengan posisi Zuin bersandar di dinding dan Dastin mengungkung gadis itu sambil terus membekap mulutnya. Zuin mulai merasa sesak. Ia memukul-mukul lengan Dastin agar pria itu menurunkan tangannya dari mulutnya. Dastin sendiri yang menyadari Zuin merasa kesulitan bernafas, menurunkan tangannya perlahan.
Ketika tangan pria itu tidak lagi membekapnnya, Zuin langsung mengambil nafas banyak-banyak dan akhirnya merasa lega. Melihat itu Dastin terkekeh. Zuin selalu berhasil membuatnya merasa gemas. Pandangan pria itu turun ke bibir merah gadis itu. Lalu tanpa ijin, laki-laki itu dengan tiba-tiba menyentuh bibir Zuin dengan jemarinya. Jari ibunya mengusap lembut bibir Zuin, hingga sang empunya kaget dan malu seketika. Apa-apaan sih Dastin?
__ADS_1
Gadis itu berdiri kaku. Ya ampun, apa maksud pria itu? Apa Dastin akan menciumnya lagi, seperti beberapa hari yang lalu? Tidak, tidak. Jangan sampai pria itu menciumnya lagi sekarang, karena kalau sampai Dastin melakukan hal itu, kemungkinan akan sulit bagi Zuin untuk menjelaskan tentang Dian yang tahu tentang penyamaran mereka.
Dastin sendiri terus menatap Zuin intens. Ia ingin sekali mencicipi bibir itu lagi, tapi dia sadar Zuin sepertinya tidak berharap dicium olehnya sekarang. Dan Dastin tidak mau menakut-nakuti gadis itu. Ia ingin Zuin ikut menikmati saat dirinya mencium gadis itu. Namun sekarang bukan waktu yang tepat. Dastin tidak ingin memaksa. Laki-laki itu menjauhkan jemarinya dari dari bibir Zuin kemudian berbisik ditelinganya pelan.
"Rileks. Aku tidak akan menciummu. Setidaknya tidak sekarang." bisik Dastin. Zuin langsung bernafas lega sekalipun masih menahan malu.
Dastin sendiri kembali fokus mendengar situasi di luar. Suara orang mengobrol tadi sudah tidak terdengar lagi. Mungkin mereka sudah pergi. Pria itu membalikkan badannya ke arah pintu bilik dan membuka pintu perlahan. Sangat berhati-hati. Memang tidak ada orang lagi. Mereka sudah keluar. Pria itu kembali menoleh ke Zuin, kemudian menarik pelan gadis itu keluar dari situ. Ia tahu tempat yang lebih baik buat mengobrol serius dan tidak akan ketahuan. Bahkan jalan saja, mereka tidak melewati jalan utama. Dastin membawanya melewati jalan belakang dan lewat sebuah gang sempit. Sepertinya jarang ada yang melewati jalan tersebut, karena jalan itu tampak kurang terurus dan terasa angker.
Tak lama kemudian mereka sampai didepan sebuah ruangan. Dastin menarik Zuin masuk. Di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa barang rongsokan yang sudah tidak terpakai lagi. Sepertinya Zuin tahu ruangan apa ini. Pasti gudang. Penampakan saja persis seperti gudang.
"Peta. Bukankah kau juga ada petanya?" sahut Dastin santai. Sementara Zuin sendiri diam saja. Kalau dia bilang dirinya tidak bisa membaca peta dengan baik, Dastin pasti akan menertawainya. Jadi lebih baik diam daripada mempermalukan diri sendiri. Gadis itu memilih duduk disebuah bangku yang berdebu. Ia tidak peduli bangku itu berdebu atau tidak. Zuin sudah kelelahan karena sejak tadi dirinya berdiri terus. Dastin ikut mengambil sebuah bangku, mengibas debunya dengan kain yang dia ambil dalam ruangan itu, kemudian ikut duduk berhadapan dengan Zuin.
"Sekarang katakan, hal penting apa yang ingin kau bilang?" pria itu mulai angkat suara, menatap Zuin lekat-lekat.
__ADS_1
Zuin mendes*h pelan. Raut wajahnya sudah tidak sekhawatir tadi ketika dirinya mencari-cari Dastin. Zuin menggeser sedikit kursinya agar lebih leluasa berbicara dengan Dastin.
"Siswi disebelahku, namanya Dian. Gadis itu bilang dia tahu tentang penyamaran kita. Dian juga bilang kalau dirinya tahu apa pekerjaanmu dan Gean." lapor Zuin. Tidak seperti dirinya yang pertama kali tahu tadi dan langsung gugup bukan main, Dastin malah terlihat biasa saja dan sangat tenang. Memangnya pria itu tidak takut ketahuan apa? Bagaimana kalau usaha mereka gagal karena Dian sudah tahu tentang identitas mereka?
"Baiklah, aku tahu. Namanya Dian kan?" ucap Dastin santai. Sementara Zuin merasa heran. Kenapa pria itu bisa sesantai ini? Dia tidak sadar apa, kalau jalan belum bisa diperbaiki.
"Hanya begitu responmu?" balas Zuin. Entah responnya yang terlalu berlebihan atau sikap Dastin yang terlalu santai. Pria itu menatap Zuin sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kau ingin responku seperti apa? Ketakutan sepertimu?" ujar lelaki itu menatap Zuin. Zuin tersenyum remeh. Memangnya dia ketakutan? Dia kan cuma khawatir kalau rencana mereka sampai gagal.
"Jadi apa rencanamu nanti?" gadis itu memilih bertanya daripada membalas perkataan pria itu.
"Panggil siswi itu. Kalau dia tahu tentang kita, kemungkinan dia juga tahu tentang kasus pembunuhan yang sedang kita selidiki. Tugasmu adalah membujuknya bertemu denganku." kata Dastin kemudian. Ia ingin tahu berapa banyak siswi bernama Dian itu tahu tentang mereka. Kalau dirinya tidak langsung mengekspos Zuin, kemungkinan ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu. Dan Dastin harus tahu apa itu.
__ADS_1
"Bagaimana caranya aku membujuknya? Kita saja tidak akrab." ucap Zuin sedikit keberatan. Dastin tersenyum tipis.
"Coba saja dulu. Kalau dia tidak bersedia juga, aku sendiri yang akan turun tangan." katanya lalu mengacak-acak rambut Zuin membuat sang empunya menatapnya dongkol.