Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
51


__ADS_3

Kali ini Zuin merasa puas. Tadi dirinya yang kesal bukan main ke Dastin. Namun sekarang terbalik. Dastin memang tidak kesal padanya. Tapi pada Ayyara yang sengaja mengetuk pintu kamar tadi. Katanya wanita itu ingin mengambil barang miliknya dalam kamar tersebut. Tapi Zuin tahu itu hanya alasan Ayyara. Wanita itu pasti tidak ingin Dastin berduaan dengan dirinya. Namun kedatangan Ayyara memang tepat waktu. Karena Zuin bisa terlepas dari Dastin yang sengaja mau menggodanya.


Dastin terlihat kesal bukan main dan Zuin yang melihat ekspresi pria itu terus meledeknya habis-habisan. Keduanya kini duduk berhadapan di sofa. Ketika tatapan mereka bertemu, Zuin akan mengambil kesempatan tersebut untuk meledek Dastin dengan menjulurkan lidahnya ke pria itu. Apa yang gadis itu lakukan berhasil menambah kekesalan di wajah Dastin. Hahh... Puas rasanya melihat lelaki itu kesal.


Sementara itu di pantry, hanya tersisa Ayyara sendirian. Sari dan Dian sudah selesai memasak dan kini duduk bersama yang lain. Tadi mereka sibuk mengatur-atur makanan yang kini telah tersedia di meja bulat besar yang letaknya dekat ruang tamu. Memang ada meja makan di pantry, tapi malam ini mereka ingin merayakan kemenangan besar mereka sambil berbincang ringan di ruang tamu.


Ayyara yang masih di pantry, terus menahan rasa cemburunya pada kedekatan Dastin dan Zuin. Ia memang sengaja masuk ke kamar tadi karena tidak suka Dastin berduaan dengan Zuin. Tapi ketika ia ingin masuk, kamar itu terkunci. Kenapa mereka harus mengunci kamar, memangnya apa yang sedang mereka lakukan? Sampai sekarang Ayyara masih kepikiran. Jangan-jangan Dastin dan Zuin memang lagi melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Pikirannya mulai merembes kemana-mana. Terang saja ia merasa cemburu setengah mati.


Ayyara lalu mengeluarkan sebuah benda dari sakunya. Wajahnya tersenyum licik menatap benda itu. Kalau dirinya tidak bisa memiliki hati Dastin, ia akan membuat pria itu tidur dengannya agar bisa memilikinya. Dan untuk membawa Dastin ke atas ranjang malam ini, ia memerlukan barang ini.


Ayyara mengamati bubuk putih dalam wadah kecil di depannya. Sangat keras, sekaligus sangat efektif.

__ADS_1


Dan kalau Dastin meminumnya, maka Dastin akan menyerah padanya, dan menyenangkan dirinya. Dengan gerakan pelan penuh perhitungan, Ayyara mencampurkan bubuk putih tanpa rasa itu ke dalam minuman  yang akan ia berikan pada Dastin.


Obat ini akan membuat Dastin tersiksa, meminta dipuaskan. Kalau tidak ada yang memuaskannya, pria itu akan merasa seluruh tubuhnya terbakar, kesakitan. Dan Ayyara yakin, Dastin akan meminta, bahkan memohon-mohon padanya malam ini. Karena dia akan terus mencari kesempatan berada disamping Dastin, pastilah pria itu akan memohon padanya, kalau dirinya yang berada disampingnya.


Malam ini Dastin akan menyerah dalam tanganmu, Ayyara. Wanita licik itu tersenyum dalam hati, menanti apa yang akan terjadi nanti. Bagaimana ia membawa Dastin dalam genggamannya, membuat laki-laki itu tidak berkutik.


Setelah memasukkan bubuk tersebut ke dalam minuman, Ayyara cepat-cepat menyembunyikan botol obat perangsangnya karena mendengar langkah kaki yang berjalan ke bagian pantry. Bahkan dengan refleks Ayyara cepat-cepat bersembunyi dengan masuk ke dalam toilet samping dapur. Ia takut ketahuan. Ia hanya berharap siapapun yang datang tersebut tidak akan mengambil minuman yang sudah dia siapkan di atas meja.


Pandangannya mencari-cari letak air minum. Harusnya sih kalau haus begini, lebih baik minum air putih. Tapi ketika mata Zuin melihat ada minuman berwarna  yang belum di sentuh sama sekali diatas meja, gadis itu jadi penasaran untuk mencicipinya. Warnanya keunguan. Pandangan Zuin beralih kanan kiri. Tak ada orang juga yang muncul-muncul. Gadis itu lalu tersenyum nakal dan tanpa ijin meneguk minuman diatas meja tersebut.


Minuman apa ini?

__ADS_1


Zuin menatap gelas yang isinya sudah dia habiskan hampir setengah. Dilidahnya, rasa minuman itu cukup manis, namun ada pahit-pahitnya sedikit. Zuin pernah sekali mencoba mencicipi minuman keras ayahnya diam-diam, karena penasaran. Tapi ia ingat jelas minuman keras ayahnya terasa sangat pahit dan kandungan alkoholnya sangat tinggi, sampai membuatnya terbatuk-batuk. Waktu minum alkohol ayahnya, kepalanya terasa sangat pening. Berbeda dengan minuman yang baru saja dia minum ini. Apa mungkin ini jus? Karena rasanya agak  manis dan kepalanya tidak terasa sakit sama sekali. Gadis itu mengangguk-angguk kemudian menghabiskan sisa minuman yang masih tersisa setengah tersebut dengan sekali teguk. Setelah itu berbalik keluar dari pintu dapur ke kebun teh dibelakang.


Ayyara yang sejak tadi bersembunyi di dalam toilet memutuskan keluar setelah tidak terdengar lagi bunyi gerakan di dapur. Wanita itu tidak tahu siapa yang datang tadi. Saking gugupnya ketahuan kalau dirinya berbuat sesuatu yang tidak senonoh, Ayyara bahkan berusaha untuk tidak batuk sedikitpun di dalam kamar mandi. Namun, setelah keluar dari kamar mandi tersebut, wanita itu kaget bukan main melihat minuman yang dia tinggalkan tadi kini sudah habis tak bersisa.


Oh tidak. Ayyara mendadak gelisah. Kira-kira siapa yang meminumnya? Siapa yang datang tadi? Ya ampun, obat itu sangat keras. Sulit untuk meredahkan efeknya. Bisa sampai semalaman. Ayyara ingat obat itu pernah digunakan oleh salah satu temannya ke laki-laki yang dia sukai. Dan efeknya memang seluar biasa itu. Seseorang yang tidak menyukai kalian sedikitpun bahkan akan pasrah karena membutuhkan sentuhan untuk dipuaskan. Intinya, orang yang meminum bubuk yang Ayyara campur dengan perangsang itu akan merasa sangat tersiksa malam ini kalau tidak ada yang memuaskannya.


Dengan langkah cepat Ayyara keluar dapur, menuju ruang tamu. Pandangannya berpindah-pindah ke orang-orang di sana. Mencari-cari kira-kira siapa yang sudah meminum minuman yang berisi obat perangsang tersebut. Namun semua orang di sana tampak normal. Bahkan Dastin, laki-laki yang sebenarnya akan menjadi korbannya tersebut tampak biasa saja. Jelas sekali bukan lelaki itu yang minum.


Ayyara mencari-cari yang lain. Rivo, Dian dan Zuin tidak terlihat di sana. Kemungkinan yang minum minumannya ada di antara ketiganya. Ayyara melangkah mendekat ke Sari.


"Yang lain mana?" tanyanya pada Sari. Sari sempat menatapnya aneh karena Ayyara tidak pernah peduli pada yang lain. Tapi wanita itu tetap menjawab.

__ADS_1


"Rivo mengantar Dian kembali ke tempat tinggalnya. Kalau Zuin, tadi aku lihat dia sedang telponan diluar." sahut Sari. Ayyara mengangguk. Kalau Zuin sedang menelpon, kemungkinan bukan gadis itu yang minum. Ayyara sekarang lebih mencurigai Rivo dan Dian. Untungnya mereka sudah pergi. Ayyara bernafas lega. Sementara wanita itu tidak tahu di kebun teh belakang, bubuk perangsang tersebut mulai bereaksi di tubuh Zuin.


__ADS_2