Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
92


__ADS_3

Bercinta dengan Dastin sangat menguras energi. Pipi Zuin memerah ketika mengingat itu, memar-memar dan bekas ciuman di sekujur tubuhnya membuatnya mengingat dengan jelas bagaimana ganasnya Dastin semalam.


Ketika terbangun dari tidurnya, ZuinĀ  langsung merasakan rasa tidak enak yang amat sangat. Kewanitaannya terasa tidak nyaman dan seluruh tubuhnya terasa pegal. Dastin benar-benar menghukumnya tanpa ampun. Pria itu pasti sengaja agar hari ini dia tidak pergi kemana-mana. Dasar suami laknat. Bisa-bisanya memakai hukuman seperti ini. Tapi Zuin mengakui, semalam adalah malam panjang yang tidak terlupakan. Ia tidak memungkiri kalau dia sendiri menikmatinya. Siapa yang menyangka lelaki dingin dan kaku seperti Dastin, yang awalnya tidak pernah peduli pada yang namanya perempuan, malah jatuh cinta pada Zuin. Bahkan sangat liar di atas ranjang.


Zuin baru menyadari bahwa Dastin masih ada di sebelahnya. Lelaki itu masih telanjang dengan selimut putih membungkus pinggangnya, dia berbaring miring dengan bertumpu siku dan telapak tangannya menopang kepalanya. Lelaki itu tampaknya sudah mengamati Zuin dari tadi.


"Masih sakit?" tanya pria itu lembut. Ia sadar bahwa dirinya sudah terlalu ganas semalam. Bagian intim Zuin pasti masih perih. Lihat saja wajah kesal sang istri ketika melihatnya.


"Menurutmu?" balas Zuin memutar matanya dongkol. Dastin terkekeh lalu menangkup wajah Zuin dan mengecup kedua matanya bergantian.


"Salahkan tubuhmu yang terlalu nikmat, sayang." goda Dastin. Mata Zuin membulat besar lalu memukul pelan tubuh Dastin. Pria itu paling bisa menggodanya seperti ini.


"Kau masih bisa jalan? Katakan kalau kau ingin aku memandikanmu." goda Dastin lagi sambil mengedipkan matanya. Ia hanya sekedar menggoda, tidak bermaksud lebih, karena ia tahu Zuin tidak mampu lagi melayaninya pagi ini, mengingat semalam dia benar-benar mengunakan seluruh tenaganya dengan begitu liarnya sampai sang istri kewalahan. Tak lama sesudah itu Zuin mendorongnya dengan kuat lalu menatapnya dengan wajah galak, Dastin sampai harus berpegang kuat pada sisi tempat tidur agar tidak terjatuh. Ia merasa lucu melihat Zuin yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, karena tidak mau kena mangsa olehnya. Kemudian dengan tubuh telanjangnya Dastin berdiri dari kasur. Ia harus segera bersiap-siap ke markas seperti katanya semalam pada timnya.


"Aku akan berhenti menggodamu sekarang, aku harus segera siap-siap." ucap pria itu lalu berbalik masuk ke kamar mandi. Zuin memandangi Dastin yang berjalan dari belakang dengan tubuh telanjangnya. Bahkan dari belakang saja suaminya terlihat begitu sempurna. Semua wanita pasti ingin memiliki pasangan seperti Dastin. Dan Zuin senang di antara banyaknya perempuan, dialah yang dipilih oleh Dastin. Zuin tersenyum bangga.

__ADS_1


\*\*\*


"Jadi mereka sudah mendaftarkan pernikahan mereka?" Kyle menatap Barry seolah tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya. Entah apa yang dia rasakan sekarang. Ia pikir dia akan sangat marah dan emosi saat mendengar berita tentang Zuin dan Dastin yang telah resmi menjadi pasangan suami istri. Tapi sepertinya ia tidak semarah itu. Bahkan pria itu sama sekali tidak merasa kesal dengan berita itu. Apa dia sudah melupakan Zuin? Tapi, tidak mungkin. Ia pikir selama ini hanya ada Zuin di dalam hatinya.


Dan yang lebih anehnya lagi, di saat-saat di mana dirinya harus memikirkan Zuin, ia malah memikirkan Ketty. Sikap Ketty yang dingin padanya beberapa hari yang lalu membuatnya terusik, ia merasa seperti kehilangan sesuatu. Astaga, ini gila. Jangan bilang perasaannya terhadap Ketty mulai muncul. Tidak. Kyle menggeleng kuat. Ia tidak boleh jatuh cinta pada Ketty. Tidak boleh. Tapi...


"Aku sendiri masih tidak percaya putri kecilku sudah menikah secepat itu." ungkap Barry sambil menyandarkan diri di kursi kerjanya. Kyle menatapnya.


"Jadi, apa yang membuatmu menyetujui hubungan mereka?" tanyanya penasaran. Kyle tahu Barry adalah sosok lelaki yang sangat peduli siapa pasangan putrinya. Ia tidak mau Zuin jatuh ke tangan pria yang tidak bertanggung jawab. Dastin mungkin lelaki yang baik, mapan dan punya semua yang di sukai oleh para wanita. Tapi bukan berarti Barry akan rela memberikan Zuin dengan alasan tersebut. Pasti ada sesuatu di diri pria itu yang membuat Barry mempercayakan Zuin padanya.


"Memang ada insiden yang mengharuskan mereka untuk segera menikah. Tapi bukan itu yang utama. Bagiku, Dastin adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Ia tulus mencintai Zuin. Aku percaya dia bisa membahagiakan putriku." tutur Barry begitu percaya diri.


Insiden apa? Kyle sudah siap-siap untuk bertanya namun bunyi ketukan dari luar ruang kerja Barry menghentikannya.


Tok tok tok

__ADS_1


"Masuk." kata Barry dengan suara yang terdengar berwibawa.


"Om Barry." suara itu sangat familiar di telinga Kyle. Tapi ia belum berbalik.


"Ketty, kau sudah datang? Duduklah." ujar Barry lalu berdiri dari kursi putarnya dan berjalan menghampiri Ketty yang berdiri di dekat sofa. Kyle sendiri berbalik saat mendengar nama itu di sebut oleh Barry. Benar. Suara perempuan yang datang tadi adalah suara Ketty.


Ketika Kyle berbalik, pandangan mereka bertemu. Mereka saling berpandangan cukup lama, namun kemudian Ketty langsung membuang pandangannya ke arah lain. Dan Kyle merasa seperti... Kecewa?


"Katanya om ingin bicara denganku?" tanya Ketty berusaha menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat karena Kyle. Aduh, kenapa pria itu harus ada di sini sih? Ketty memang kecewa dan marah pada pria itu, tapi bukan berarti ia sudah sepenuhnya melupakannya. Tidak segampang itu melupakan lelaki yang ia cintai dengan sepenuh hati. Bagi Ketty, semuanya butuh proses.


"Betul. Bagaimana keadaanmu?" tanya Barry yang kini duduk berhadapan dengan wanita itu. Kyle mengamati mereka dari jauh. Pria itu lebih fokus pada Ketty. Ia baru menyadari Ketty tampak lebih kurus dari sebelumnya. Gadis itu tersenyum, tapi bukan padanya. Tentu saja Ketty tersenyum pada Barry yang duduk didepannya.


"Baik om. Bagaimana dengan Zuin? Aku minta maaf karena terlambat melaporkan ke kak Nevan sama om tentang apa yang dia rencanakan kemarin." kata Ketty tidak enak. Ia sempat ragu, makanya ia baru melaporkan aksi gila Zuin saat gadis itu sudah di lokasi kejadian.


Barry berdecak kesal mengingat putri nakalnya itu yang suka sekali berbuat onar. Untung tidak apa-apa karena ketahuan Dastin.

__ADS_1


"Lupakan anak nakal itu dulu. Hari ini om ingin minta maaf padamu karena kasus salah culik minggu lalu. Karena mengira kamu Zuin, penjahat itu malah culik kamu."


Ketty pernah di culik? Entah kenapa Kyle merasa marah. Sialan, siapa yang berani menculik gadis itu? Desis Kyle dalam hati.


__ADS_2