
Karena Dastin terus menatapnya dengan tatapan tajam, seolah akan memakannya hidup-hidup kalau dia berbohong, Zuin memutuskan menjelaskan yang sebenarnya. Gadis itu menghembuskan nafas panjang.
"Aku memang ikut berkelahi. Tapi bukan aku yang memulainya. Siapa suruh gadis itu mengataiku cewek bau." kata Zuin akhirnya. Ia masih ingat jelas bagaimana sih perempuan yang dipanggil Santi itu menghinanya tadi. Siapa yang tidak emosi coba kalau dikatain seperti itu. Apalagi dirinya tidak seperti yang sih Santi itu bilang. Tubuhnya malah sangat wangi.
Dastin memicingkan matanya mencari kalau-kalau ada kebohongan dalam mata Zuin. Tapi sepertinya gadis itu memang tidak sedang membohonginya. Alasannya juga masuk akal. Meski begitu, Dastin tetap saja tidak membenarkan Zuin yang malah ikut terlibat dalam perkelahian tadi.
"Baiklah, aku tidak akan mempermasalahkan kekacauan hari ini yang melibatkan dirimu." kali ini tatapan Dastin fokus ke pipi Zuin yang masih lebam dan pipi kanannya yang tergores kecil. Pria itu berdecak kesal. Gadis ini betul-betul tidak bisa menjaga diri
"Mendekat ke sini." perintah Dastin kemudian. Zuin langsung was-was. Apa yang mau pria itu lakukan? Tentu saja Zuin tidak langsung menuruti pria itu. Gadis itu malah menyipitkan mata curiga pada sosok tinggi dan kuat didepannya itu.
"Kenapa? Kau mau menghajarku?" kata Zuin tanpa berpikir panjang. Ia malah mundur selangkah menjauhi Dastin. Dastin mendengus pelan. Lalu tanpa aba-aba lelaki itu langsung menarik Zuin mendekat, membuat gadis itu memekik pelan.
"Diam dulu. Aku hanya mau memeriksa lukamu, bukan memakanmu." kata Dastin karena Zuin terus berusaha melepaskan diri dari genggamannya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Dastin, Zuin akhirnya diam. Membiarkan pria itu melakukan apa yang dia mau. Asal tidak menghajarnya saja. Kan tidak lucu. Apalagi dia perempuan. Masa pria itu berani memukul perempuan.
"Aww.. pelan-pelan." ringis Zuin yang merasakan tekanan tangan Dastin dibagian pipinya yang lebam. Rasanya perih.
"Salah siapa kamu babak belur begini?" balas Dastin menatap Zuin sebentar dengan tatapan mengintimidasiny, membuat gadis itu terdiam. Zuin mengutuk Dastin dalam hati. Dasar menyebalkan. Sesaat kemudian ia merasakan tangannya ditarik lembut oleh pria itu. Dastin mendudukkannya di tempat tidur kemudian berjalan ke meja untuk mengambil sesuatu.
Zuin diam saja sambil terus mengamati gerak-gerik pria tersebut. Tak lama berada di sana, Dastin berbalik dan berjalan ke arahnya lagi dengan sebuah kotak ditangannya. Itu kotak P3K. Dastin lalu duduk di sebelah gadis itu dan mulai mengobati lebam juga luka gores di pipinya.
Zuin tersenyum tipis. Dia pikir tadi pria itu mau ngapain, ternyata masih punya hati juga ingin mengobatinya. Zuin meralat ucapannya tadi. Ternyata Dastin tidak semenyebalkan yang dia pikirkan. Kalau diingat-ingat, sebenarnya telah cukup banyak pria itu memperlakukannya dengan manis. Kali ini Zuin senyum-senyum sendiri. Belum pernah sebelumnya ada laki-laki yang memperlakukannya seperti ini.
Zuin pikir Dastin akan memperlakukannya sama dengan laki-laki lain. Hanya menganggapnya sebagai gadis pengacau, menjauhinya, bahkan mungkin membencinya. Tapi, selama dirinya mulai tinggal bersama dengan pria itu, meski sering cekcok, Dastin tidak pernah mengungkit-ungkit cerita tentang kekurangannya yang suka sekali berbuat kacau dan melakukan tindakan seenaknya. Pria itu malah lebih banyak mendisplinkan gadis itu meski dengan memakai ancaman terhadapnya. Zuin tahu jelas segala ancaman-ancaman yang keluar dari mulut Dastin, sebenarnya adalah cara pria itu untuk mendisplinkan dirinya. Dan Zuin tidak memungkiri kalau dia mulai terbiasa bersama pria itu.
"Apa yang kau pikirkan?" pertanyaan itu kontan membuat Zuin salah tingkah. Gadis itu berdeham pelan lalu menggeleng cepat.
__ADS_1
"Tidak ada!" jawabnya langsung, mencoba menutupi rasa malunya. Kalau Dastin tahu gadis itu sedang memikirkan pria itu, dirinya akan sangat malu. Siapa yang tidak malu coba.
Dastin memicingkan mata, memajukan kepalanya ke dekat Zuin.
Ia sudah selesai mengobati pipi gadis itu. Walau tadi dirinya sibuk mengobati gadis itu, bukan berarti pria itu tidak bisa melihat kalau Zuin terus menatapnya sambil senyum-senyum sendiri. Bukannya geer, tapi menurut Dastin gadis itu pasti sedang memikirkan dirinya. Kalau tidak, kenapa gadis itu langsung salah tingkah saat dirinya bertanya?
Sudut bibir Dastin terangkat. Ia ingin sekali menggoda Zuin. Ingin melihat wajah malu gadis itu karena dirinya. Namun sebelum dirinya berhasil menggoda gadis itu, ketukan dari luar menghentikan niatnya. Dastin menggeram kesal. Siapa sih yang mengganggu? Gangguan itu datang di saat yang tidak tepat.
Karena Dastin diam saja, Zuin mengambil kesempatan tersebut untuk melarikan diri. Gadis itu cepat-cepat berdiri dan membukakan pintu. Ia melihat Rivo dan Gean 6anh sudah berdiri didepan pintu dengan tangan Rivo yang melambai ke arahnya.
"Kalian mencari Dastin kan? Ayo masuk saja." kata Zuin cepat. Ia berbalik sebentar melirik Dastin kemudian cepat-cepat beranjak pergi dari tempat itu.
"Aku belum menyuruhmu pergi Zuin." suara kuat dan tegas Dastin terdengar jelas dari dalam, membuat langkah Zuin terhenti sebentar. Gadis itu berbalik lagi, otaknya berpikir keras mencari alasan, sedang Gean dan Rivo hanya menjadi penonton di antara mereka.
__ADS_1
"A..aku mau ke toilet. Kalian bicara saja." kata Zuin memberi alasan lalu buru-buru pergi. Dastin berdecak kesal. Gadis itu sengaja mau kabur darinya. Huh!
"Apa kami mengganggu?" tanya Rivo santai. Ia sama sekali tidak menyadari raut kesal di wajah Dastin. Berbeda dengan Gean yang sudah mengerti. Gean tahu sejak tadi Dastin memang ingin berduaan saja dengan Zuin, itu sebabnya lelaki itu sengaja memberi mereka ruang buat berdua di kamar tersebut. Tapi karena mereka perlu melaporkan hal penting, Gean mau tak mau datang menemui Dastin ke kamar. Tidak apa-apa mengganggu dulu. Lagipula, masih banyak waktu bagi Dastin kalau mau berduaan dengan Zuin. Sekarang bahas pekerjaan dulu. Meski begitu, Gean tetap tidak bisa menahan senyumnya melihat wajah kesal Dastin.