
Seseorang mengikutinya!
Zuin langsung mempercepat langkahnya. Hari ini dari kampus ia bermaksud untuk mampir ke cafe tempat kerja Nako. Sekaligus menunggu Dastin menjemputnya di sana. Sebenarnya tidak apa-apa kalau dirinya pulang sendiri, tapi entah kenapa Dastin tiba-tiba menjadi over protektif padanya. Lelaki itu terlalu khawatir kalau terjadi sesuatu padanya seperti yang terjadi pada Ketty kemarin. Sahabatnya itu bahkan masih trauma sampai sekarang. Zuin tahu karena Ketty pagi tadi menelponnya dan mengatakan dia akan fokus memulihkan dirinya dulu seminggu ini. Zuin yang mendengar merasa iba namun tidak bisa membantu apa-apa.
Tapi Zuin bukanlah perempuan penakut. Kalau ada yang mencoba menculiknya, ia akan melawan. Enak saja main culik-culik sembarangan. Siapa juga yang mengikutinya sekarang? Bukan hanya perasaan lagi.
Zuin jelas tahu ada terus mengikutinya dari belakang. Gadis itu lalu mengeluarkan sesuatu dari ranselnya, berjaga-jaga kalau-kalau orang yang mengikutinya dari belakang macam-macam.
Zuin memilih memperlambat langkahnya. Bukan seperti orang lain yang akan mempercepat langkah kalau merasa ada bahaya yang mengintai didepan mereka, Zuin malah berjalan slow. Tidak ada rasa takut sama sekali. Namun ia merasa aneh. Ia pikir orang yang mengikutinya dari belakang akan ikut berhenti, ternyata tidak. Langkah kaki orang itu malah makin jelas. Zuin langsung was-was. Ia meremas kuat-kuat botol parfum yang ia keluarkan dari ranselnya tadi, kemudian ketika ia merasakan keberadaan orang itu dibelakangnya, Zuin berbalik dengan cepat dan menyemprotkan parfum tersebut ke mata orang yang mengikutinya.
"Ahhhhhh....." teriak Zuin ketika menyemprotkan parfum miliknya ke orang itu sambil menutup kedua matanya kuat-kuat. Orang dibelakangnya itu tentu saja kaget karena mendapat serangan tiba-tiba di mata. Matanya terasa sangat perih.
"Pak Barry, kau tidak apa-apa?!"
Zuin yang matanya masih tertutup langsung membuka ketika mendengar seseorang menyebut nama papanya. Ia kenal suara itu. Suara kak Nevan memang tidak mungkin dia lupa. Dan benar saja, kedua orang yang sedang berdiri didepannya saat ini adalah kak Nevan dan papanya. Bukan penculik seperti yang dia pikirkan. Zuin bisa lihat papanya mengucek-ucek matanya yang perih. Meski kaget melihat papanya ada di tempat itu, tapi ia juga merasa lucu melihat gaya papanya sekarang.
__ADS_1
"Ooppss.. salah orang." ucap gadis itu santai. Bukannya merasa bersalah karena perbuatannya, Zuin malah tertawa melihat papanya tersiksa.
"ZU...IN!" balas Barry menatap Zuin dengan mata bagian kiri masih ia kucek-kucek. Rasanya tadi sangat perih. Dan Barry sangat kesal pada putrinya. Padahal mereka baru bertemu lagi hampir tiga bulan ini. Tapi Zuin sudah menyakiti papanya sendiri. Meski Barry tahu Zuin melakukannya untuk membela diri, tetap saja Barry merasa kesal. Apalagi bocah itu malah menertawainya. Putrinya ini benar-benar...
"Lagian, siapa suruh ikutin aku diam-diam dari belakang. Aku hanya melindungi diri dari orang jahat." balas Zuin dengan dagu terangkat. Seolah-seolah menuduh kalau papanya adalah orang jahat.
Sudah di mulai. Kata Nevan dalam hati. Pria itu menarik nafas. Ia tahu saat Barry dan putrinya bertemu, perdebatan seperti ini akan selalu terjadi. Memang Barry tidak berpikir untuk mendatangi Zuin pagi tadi, tapi pria itu berubah pikiran siang ini. Ia tiba-tiba bilang ke Nevan untuk mengantarnya menemui Zuin, di kampus sang putri.
Barry juga tidak ingin Nevan memberitahu Zuin, karena dia mau memberi surprise pada sang putri. Jadi mereka menunggu sampai Zuin keluar dari gerbang kampus tersebut. Ketika Zuin keluar dari gedung besar itu, Barry dan Nevan melihatnya berjalan melewati sebuah gang kecil, entah mau kemana. Lalu mereka mengikutinya diam-diam. Awalnya Barry ingin mengagetkan gadis itu dari belakang, namun ia tidak menyangka malah dirinya yang di serang duluan pakai parfum yang membuat matanya perih. Sudah begitu, bukannya minta maaf dan merasa bersalah, Zuin malah menertawainya. Bahkan mengatakan dirinya seorang penjahat. Dasar anak durhaka.
Zuin akhirnya capek berlari. Begitupun dengan Barry. Mereka akhirnya berhenti saling kejar-kejaran.
"U...dah du..lu, a.. aku ca..pek." ucap Zuin ngos-ngosan. Ia sudah tidak mampu berlari lagi. Biarlah kalau papanya mau menjewer kupingnya atau apapun itu dia tidak peduli lagi. Daripada dia mati karena kehabisan nafas. Barry sendiri malah tertawa. Pria itu merasa lucu saja karena menyadari dirinya yang selalu menjadi seperti anak-anak kalau bertemu putrinya. Ketika pria itu mau membalas perkataan Zuin, tiba-tiba telponnya berbunyi dan wajahnya berubah serius seketika. Sebelum mengangkat telpon itu Barry menatap Nevan sebentar.
"Nevan," Nevan yang sejak tadi berdiri di tengah-tengah keduanya memandang Barry.
__ADS_1
"Bawa Zuin ke mobil, aku menyusul selesai menelpon." kata Barry. Nevan mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya ke Zuin. Sebenarnya Zuin penasaran siapa yang menelpon papanya dan mereka mau bicara apa, namun kak Nevan sudah menariknya menuju mobil yang ternyata terparkir didepan gedung kampusnya. Zuin duduk di jok belakang sementara Nevan di bangku sopir. Gadis itu menatap Nevan dari spion tengah.
"Kak Nevan, memangnya pekerjaan papa udah selesai? Kok bisa muncul didepan aku?" tanyanya.
"Sekarang papa ngga tinggal lagi di gedung kotor itu kan?"
Nevan menganggukkan kepala. Tidak ada yang perlu di tutup-tutupi lagi. Karena setelah pekerjaan tersebut selesai, mereka akan lebih fokus ke pekerjaan.
"Zuin,"
"Mm?"
"Akhir-akhir ini banyak orang jahat yang berkeliaran di luar sana. Kau jangan jalan-jalan di tempat sepi sendirian seperti tadi lagi." ujar Nevan. Zuin sudah ia anggap adik sendiri, wajar dia tidak mau terjadi apa-apa pada Zuin.
Zuin yang mendengar mengangguk begitu saja. Ia juga tidak pernah membantah seorang Nevan yang sudah banyak mengurusnya selama ini. Kak Nevan bilang begitu pasti karena khawatir padanya. Suasana berubah sepi. Nevan dengan pikirannya sendiri, dan Zuin yang kini sibuk main game. Mereka menunggu sampai papanya selesai menelpon.
__ADS_1