Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
74


__ADS_3

Sehabis rapat, Dastin dan Barry berbincang-bincang sebentar. Barry bertanya terkait langkah apa yang akan Dastin lakukan selanjutnya juga sekedar menanyakan keadaan Zuin. Hanya tersisa Dastin dan timnya, Barry juga Nevan yang berada dalam ruangan itu. Yang lain sudah keluar.


"Setelah ini, anda bebas kemana saja. Tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Zuin pasti senang." kata Dastin melirik Barry yang berdiri di sebelahnya. Barry tersenyum. Rasanya memang sangat lega karena dirinya bisa bebas sekarang. Ia tidak perlu sembunyi dan melakukan penelitian berat itu. Ia berhak melakukan apapun yang dia mau sekarang. Kapan saja pria itu bisa bertemu dengan putrinya. Barry melirik ke Nevan dan tim Dastin yang berdiri di jarak kira-kira lima meter dibelakang mereka sebentar, kemudian menatap Dastin lagi.


"Mengenai Zuin, terimakasih karena kau sudah menjaganya selama ini. Sayang sekali anak nakal itu tidak bisa tinggal denganku lagi. Kalian berdua terlalu cepat melakukannya, kau tahu maksudku bukan?" Barry tertawa setengah menyindir. Bukan bermaksud menyindir mereka terlalu cepat menikah, tapi lebih ke apa yang keduanya lakukan yang membuat keduanya harus terburu-buru menikah. Meski begitu ia tidak begitu keberatan karena ia percaya sepenuhnya pada Dastin.


Dastin tersenyum. Pria itu merasa tidak enak, tapi mau bagaimana lagi. Zuin adalah istrinya sekarang, mana bisa istrinya tinggal terpisah dengannya. Dia sendiri merasa tidak akan sanggup. Apalagi mereka baru menikah.


"Tunggu misimu dalam kasus ini selesai, lalu buatlah pesta pernikahan yang sangat meriah untuknya. Aku juga tidak sabar memberitahu kepada dunia kalau aku memiliki seorang putri yang sangat cantik. Semua orang harus mengenal Zuin sebagai putri kandungku satu-satunya. Di pesta pernikahan kalian, semua orang harus tahu Zuin adalah putri kandungku." kata Barry dengan bangganya. Selama ini dia selalu menyembunyikan Zuin dari banyak orang karena ingin melindungi gadis itu dan agar Zuin bebas melakukan apapun yang dia mau tanpa nama besarnya. Namun Barry juga merasa tidak adil bagi sang putri karena banyak orang, apalagi teman-teman di kampusnya yang berpikir kalau asal-usul Zuin tidak jelas. Nevan pernah cerita ada yang menghina Zuin di kampus karena asal-usulnya yang tidak jelas. Pokoknya Barry harus memperjelas kalau Zuin punya orangtua, walau hanya seorang ayah, itu sudah cukup. Ia ingin orang-orang tahu bahwa Zuin adalah gadis yang sangat dicintai.


"Kau akan menemui Zuin setelah ini?" tanya Dastin. Barry menggeleng.


"Aku mau ke kantor dulu. Kau datanglah ke rumahku bersama Zuin besok." kata Barry. Dastin mengangguk. Barry menarik nafas ke kemudian menepuk pelan bahu Dastin.


"Aku berharap misi kali ini bisa selesai. Semoga kalian berhasil menghancurkan organisasi itu. Hukum para penjahat tersebut tanpa ampun." setelah mengatakan itu, Barry langsung melangkah keluar diikuti oleh Nevan dari belakang. Mereka keluar kantor tersebut lewat jalan rahasia. Tentu saja karena tidak ada yang boleh tahu Barry terlibat kerjasama dengan pihak BIN. Setidaknya sampai kasus besar yang sedang mereka tangani itu selesai.


                                 ***


"Jadi selama ini kamu sengaja jauhin aku karena Kyle? Kau menyukai Kyle?"

__ADS_1


Zuin menatap Ketty tidak percaya. Pagi tadi, Ketty akhirnya muncul di kampus. Sudah beberapa hari ini sahabatnya itu bolos kuliah dan tadi akhirnya Ketty masuk juga. Zuin pikir Ketty akan bersikap cuek seperti biasa, namun perlakuan Ketty padanya sudah kembali seperti dulu. Sudah seperti Ketty yang ceria yang Zuin kenal.


Keduanya berbicara panjang lebar di apartemen Ketty sehabis kuliah. Dan Zuin sama sekali tidak menyangka Ketty akan curhat tentang hubungannya dengan Kyle, dan alasan kenapa gadis itu menghindari Zuin beberapa waktu lalu. Fakta bahwa Ketty menjauhinya adalah karena pria yang gadis itu sukai ternyata menyimpan rasa pada Zuin, dan itu membuat Zuin tercengang. Kaget tentu saja.


Zuin memang tidak kaget ketika Ketty bilang Kyle menyukainya. Gadis itu bisa merasakan perlakuan Kyle yang berbeda padanya, namun waktu itu Zuin tidak mau terlalu percaya diri dan hanya menganggap biasa saja. Tapi Ketty, sahabatnya itu bahkan tidak tanggung-tanggung memberikan dirinya hanya untuk seorang Kyle yang tidak membalas perasaannya sama sekali.


Dalam hal ini, menurut Zuin Ketty memang salah. Tidak seharusnya gadis itu memberikan keperawanannya untuk seorang laki-laki seperti Kyle. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Sekarang, daripada menyalakan keputusan salah yang Ketty lakukan, Zuin lebih memilih menghibur sahabatnya yang sedang putus cinta itu.


"Ket, aku yakin kamu bisa menemukan pria yang jauh lebih baik dari Kyle." hibur Zuin. Ia bisa lihat Ketty masih banyak pikiran. Ketty mengangkat wajah menatap Zuin, berusaha memaksakan seulas senyum.


"Aku pikir, dengan berjalannya waktu Kyle akan menyukaiku. Itu sebabnya aku rela melakukan semua yang membuat pria itu puas padaku. Ternyata aku salah. Laki-laki itu memang brengsek." ungkap Ketty dengan wajah sedih. Zuin menatap iba kemudian mendekatinya sambil mengusap-usap punggung Ketty. Kyle benar-benar sialan. Berani-beraninya pria itu menyakiti sahabat baiknya. Kalau memang tidak suka, jangan memberi Ketty harapan sejak awal.


"Jangan sedih lagi dong Ket, kamu kan masih punya aku sama Nako. Kita berdua bakal tetap ada buat kamu sebagai sahabat." gumam Zuin. Ketty tersenyum. Ia bersyukur bisa berbaikan lagi dengan Zuin. Ia baru sadar, dibalik sifat kekanakkan sahabatnya itu, Zuin malah lebih dewasa darinya.


"Siapa yang datang?" tanya Zuin. Pasalnya selama dia ada di tempat tinggal Ketty, tak ada satu pun orang yang datang ke situ, bahkan orangtua Ketty sendiri. Hanya Nako yang akan datang sesekali kalau tidak sibuk kerja. Tapi biasanya Nako akan memberi kabar dulu.


Ketty mengangkat bahunya. Ia juga tidak tahu siapa yang datang sore-sore begini. Gadis itu lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya.


Ketty menaikkan kedua alis, heran melihat kehadiran pria bertubuh tinggi dengan badan kekar berdiri didepannya. Jika dilihat dari pakaian serba hitam yang dipakainya, laki-laki itu mungkin bekerja sebagai bodyguard. Ah, jangan-jangan pria itu adalah salah satu bodyguard yang bekerja dibawa Dastin atau om Barry. Yang diperintahkan untuk menjaga Zuin.

__ADS_1


"Kau mau bertemu Zu..."


Bukk!!!


Belum sempat Ketty berhenti bicara, wanita itu sudah dibuat pingsan lebih dulu oleh laki-laki berpakaian serba hitam itu. Dan dengan cekatan laki-laki tinggi besar itu mengangkat tubuh Ketty, membawanya pergi dari situ.


Sementara Zuin yang heran kenapa Ketty tidak balik-balik juga, memutuskan menyusul ke depan. Tapi ia sama sekali tidak melihat keberadaan sang sahabat. Kening Zuin terangkat bingung.


"Kemana dia?" gumamnya pada dirinya sendiri. Pandangannya mencari ke segala arah namun tidak melihat batang hidung Ketty sama sekali.


Zuin bingung namun belum ada firasat buruk sama sekali. Ia memilih balik ke dalam dan menunggu. Namun hampir sejam dia menunggu, Ketty belum balik-balik juga. Zuin ingin menelpon tapi ponsel Ketty ada di atas meja sofa. Gadis itu mulai tidak tenang. Ia harus mencari tahu kemana Ketty pergi. Tapi bagaimana caranya?


Zuin berpikir keras. Oh iya. Dia bisa cek di cctv. Dengan cekatan Zuin berlari keluar apartemen tersebut dan pergi ke bagian cctv.


"Ada perlu apa nona?" tanya salah satu petugas cctv.


"Teman saya tiba-tiba hilang pak, bapak bisa bantu saya mengecek cctv?" jawab Zuin lalu bertanya dengan raut wajah memohon.


"Kamar nomor berapa dan hilangnya jam berapa?" tanya petugas itu lagi. Biar lebih gampang memeriksa. Setelah mendengar jawaban Zuin, petugas tersebut dengan cekatan memeriksa cctv. Zuin yang berdiri disebelahnya ikut fokus ke cctv tersebut.

__ADS_1


"Itu Ketty!" tunjuk Zuin. Matanya melebar saat melihat ke dalam video tersebut. Seseorang membuat Ketty pingsan dan membawanya pergi. Zuin terdiam sebentar. Sekujur tubuhnya berubah tegang.


"Ke..Ketty.. di.. di culik?!" katanya sambil menatap sih petugas cctv dengan wajah syok.


__ADS_2