
Kyle sebenarnya hanya ingin makan berdua saja dengan Zuin di restoran ini. Tapi pria itu harus menahan diri karena Zuin mengajak Ketty juga. Kyle yakin seratus persen Ketty memang mau ikut makan dengan juga mereka. Gadis itu kan selalu mencari-cari kesempatan untuk mendatanginya.
Lama-lama Kyle malah makin bosan dengan perempuan semacam Ketty ini. Gadis itu selalu menempel padanya dan berusaha merebut hatinya dengan cara yang kotor.
Kyle memang tidak menolak cara Ketty yang tidak bisa ia pungkiri selalu memberinya pelepasan yang dia mau. Sayangnya, wanita seperti Ketty itu tidak cocok untuk dirinya. Untuk seorang pendamping hidup, Kyle lebih memilih perempuan baik-baik, seperti Zuin. Belum tahu saja pria itu kalau Zuin sudah di rusak Dastin. Namun dalam kasus Zuin, Dastin akan bertanggung jawab dengan segera menikahinya. Di antara keduanya ada cinta. Berbeda dengan Kyle dan Ketty.
Ketty hanya semacam pelampiasan bagi seorang laki-laki semacam Kyle. Sekarang, Ketty harus menahan rasa cemburunya melihat Kyle yang selalu tersenyum lebar saat menatap Zuin. Kyle sendiri merasa ada kebahagiaan tersendiri dalam hatinya ketika ia melihat wajah manis Zuin. Gadis itu Benar-benar tipenya.
"Aku bisa pesan makanan apa saja yang aku mau kan?" seru Zuin menatap Kyle dengan mata berbinar-binar. Kyle terkekeh, lalu mengangguk mengiyakan.
"Zu, jangan banyak-banyak. Memangnya kau bisa habiskan semuanya nanti?" tegur Ketty merasa Zuin memesan terlalu banyak. Ia sampai malu pada pelayan yang mencatat pesanan Zuin.
"Biarkan saja Zuin pesan semua yang dia suka." kata Kyle. Ketty berdecak kesal. Gadis itu lalu memutuskan diam saja. Percuma juga dia berkomentar, karena selama ada Zuin didekatnya, Kyle akan terus membela gadis pujaan hatinya itu.
"Ayo pesan lagi apa saja yang kau mau manis." kata Kyle sambil ikutan melihat menu bersama Zuin. Membiarkan sang pelayan menunggu.
Setelah mereka selesai memesan, sih pelayan berbalik pergi gaya sopannya.
__ADS_1
Sesudah itu, seseorang tiba-tiba muncul dan tanpa ijin langsung duduk di sebelah Zuin. Ketty duduk disebelah Kyle, jadi disamping Zuin tidak ada siapa-siapa.
Tentu saja Zuin dan Kyle, juga Ketty sama-sama menatap ke orang yang tiba-tiba datang itu. Mata Zuin melebar ketika mengetahui siapa yang baru saja duduk tanpa ijin disebelahnya.
"Dastin?" seru Zuin kaget. Yah, lelaki yang tiba-tiba duduk disebelahnya tersebut adalah Dastin.
Sekarang adalah jam makan siang. Sebenarnya Dastin berencana makan bersama rekan-rekan kerjanya, tapi tadi dirinya tiba-tiba di telpon atasan dan berakhir di restoran ini. Mereka makan sekaligus membicarakan hal penting dengan atasannya di BIN. Ketika selesai makan dan hendak keluar, mata Dastin menangkap seseorang yang dikenalnya masuk ke restoran tersebut lewat pintu yang lain. Pria itu tidak jadi keluar.
Dastin berhenti melangkah. Pandangannya terus fokus ke gadis yang tengah berjalan bersama seorang laki-laki yang sama sekali tidak Dastin kenal. Mereka tidak hanya berdua. Ada Ketty yang berjalan dari belakang. Dastin memang merasa sedikit lega melihat gadis yang akan segera menjadi istrinya itu tidak berduaan saja dengan lelaki lain, tapi tetap saja ia merasa penasaran siapa laki-laki itu.
Perasaan Dastin makin merasa terganggu karena Zuin terus tersenyum pada pria asing itu. Pria itu bahkan berani-beraninya mencubit gemas pipi gadisnya. Sialan. Dastin makin tidak bisa menahan diri. Ia harus tahu siapa lelaki itu. Ia juga perlu menegaskan kalau Zuin adalah miliknya. Tidak ada yang bisa merebut miliknya. Siapapun itu.
Dastin lalu melangkah menghampiri meja bagian tengah, tempat ketiga orang itu berada. Bahkan pria itu langsung memilih duduk di sebelah Zuin. Kebetulan sekali kursi di sebelah gadis itu kosong. Dastin bisa melihat ketiga orang itu terus menatapnya dengan heran. Ketika Zuin menyebut namanya, Dastin tersenyum.
"Kebetulan sekali. Tidak biasanya kau makan di restoran mahal begini. Memangnya kau punya uang, hm?" ledek Dastin namun tetap menatap Zuin tajam. Yang paling bahagia dengan kemunculan tiba-tibanya Dastin tentu saja Ketty. Dengan begitu ia tidak akan lagi melihat Kyle memperlakukan Zuin dengan manis dihadapannya. Semoga saja Dastin segera membawa Zuin pergi dari tempat ini. Tapi, Ketty tidak tahu hubungan mereka sudah sejauh apa. Meski ia yakin melihat ekspresi cemburu di mata Dastin. Semoga saja dia benar. Biar Zuin tidak perlu menjadi saingannya lagi.
Zuin sendiri merasa malu mendengar perkataan Dastin yang sengaja meledeknya. Sejak tinggal di rumah Dastin, ia memang belum pernah mendapat uang saku dari ayahnya. Kartu kreditnya pun tidak bisa dipakai lagi karena sudah dibekukan. Ayahnya sengaja memberikan semua tanggung jawab ke Dastin untuk mengurusnya. Jadi uang sakunya sekarang hanya ia dapatkan dari pria itu. Ayahnya benar-benar tega.
__ADS_1
"Aku di traktir oleh pria tampan ini. Kyle baik sekali mau mentraktirku dan Ketty makan enak, di restoran mahal pula, memangnya kamu." sembur Zuin tidak mau kalah. Dastin menggeram dalam hati. Jadi nama pria Kyle. Pandangan Dastin berpindah ke laki-laki bernama Kyle tersebut. Keduanya saling menatap. Dan Dastin bisa melihat aura pria itu sangat kuat. Terlihat seperti seseorang yang berkuasa. Darimana Zuin mengenal pria itu? Atau jangan-jangan dosennya lagi.
"Zuin sayang, kau tidak akan memperkenalkan kami?"
mendengar cara lelaki itu menyebut nama Zuin, Dastin langsung melemparkan tatapan tajamnya. Ia tidak suka pria lain memanggil Zuin begitu, kecuali ayah gadis itu tentu saja.
Zuin dan Ketty saling berpandangan. Zuin sendiri jadi merasa ada aura-aura berbeda ketika dua laki-laki tampan itu saling bertatapan. Zuin langsung merasa kalau Dastin sepertinya tidak menyukai Kyle, begitupun sebaliknya. Tapi gadis itu tetap bersikap biasa saja. Dia harus berada di tengah. Tidak memihak siapa-siapa. Zuin kemudian menghembuskan nafas panjangnya sebelum bicara.
"Perkenalkan, ini Dastin. Dan Dastin, ini Kyle, sahabat papaku."
Oh, jadi dia sahabat papanya Zuin. Dastin berucap dalam hati. Dibandingkan profesor Barry, laki-laki itu lebih muda. Mungkin saja mereka senior dan junior waktu di kampus. Dastin lebih dulu mengulurkan tangannya ke depan Kyle. Cukup lama sampai akhirnya lelaki itu menyambut uluran tangannya dan mereka berjabatan.
"Aku Dastin, calon suami Zuin. Aku akan segera menikahinya."
Dastin sengaja mengatakan kalimat itu dan berhasil membuat ketiga orang yang duduk di meja yang sama tersebut kaget. Walau Zuin tahu dia dan Dastin tidak lama lagi akan menikah, bukan berarti pria itu harus mengumumkan secara mendadak beginikan. Kan dia ikut kaget.
"Menikah?!" seru Ketty dengan mata membulat sempurna.
__ADS_1