Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
55


__ADS_3

Ketika sampai di apartemen Dastin, Zuin langsung mengunci diri dalam kamar laki-laki itu. Selama perjalanan pulang tadi, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut gadis itu. Zuin terlalu malu menghadapi Dastin. Ia masih bingung bagaimana harus bersikap didepan pria itu. Hubungan mereka tak sama lagi. Zuin tidak tahu seperti apa status mereka sekarang. Yang pasti, dia bukan lagi hanya sekedar gadis yang numpang  tinggal di rumah pria itu untuk dilindungi dari orang jahat di luar sana.


Mereka sudah tidur bersama. Bukankah dia harus bertanya ke Dastin apa posisinya sekarang? Tapi gadis itu ragu. Bagaimana kalau Dastin adalah laki-laki bebas yang tidak mau terikat dengan perempuan? Bagaimana kalau kejadian semalam adalah sesuatu yang biasa yang pria itu lakukan dengan wanita-wanita lain di luar sana? Memikirkan hal itu pikiran Zuin menjadi gelisah. Memang ini hanya sebatas pemikirannya sendiri, tapi bagaimana kalau benar? Kenapa juga dirinya jadi tidak bersemangat seperti ini? Saat memikirkan Dastin sudah tidur dengan wanita lain selain dirinya.


"Zuin." ketukan dari luar pintu kamar itu membuat Zuin terkesiap. Gadis itu cepat-cepat naik ke kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Itu suara Dastin. Memangnya ada siapa lagi selain mereka berdua di apartemen ini?


"Zuin, buka sebentar. Aku ingin bicara." suara Dastin dari luar makin terdengar jelas.


Dastin terus merasa gelisah karena Zuin yang biasanya sering sekali mengomel dan berdebat itu jarang bicara selama perjalanan pulang tadi. Bahkan hampir tidak pernah. Pria itu merasa ia harus bertanya dengan apa yang sedang dirasakan gadis itu saat ini. Apa Zuin marah? Malu... Atau kecewa karena perbuatannya semalam. Setidaknya Dastin harus bertanya. Apakah dia harus minta maaf, atau bertanggung jawab.


Dastin akui dirinya akan tetap bertanggung jawab dan secepatnya menikahi Zuin sekalipun ada kemungkinan gadis itu akan menolaknya. Tapi dia juga akan menghargai keputusan Zuin. Dastin tahu ini terlalu buru-buru. Zuin pasti masih syok, mungkin juga ia masih bingung dengan perasaannya. Dastin ingin memberinya kesempatan untuk berpikir dan mengambil keputusan. Pria itu tidak mau memutuskan secara sepihak. Karena dia tahu, itu hanya akan membuat Zuin tidak bahagia. Kalau memang Zuin belum siap, dia akan menunggu.


"Zuin, kita perlu bicara. Tolong buka. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku janji." kata Dastin lagi terus mengetuk pintu. Cukup lama pria itu berdiri diluar sambil mengetuk. Lalu tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka. Menampilkan seorang gadis manis yang kini berdiri dihadapannya namun tidak mau menatapnya sama sekali.

__ADS_1


Zuin membuang muka ke arah lain karena tidak mau menatap Dastin. Bahkan, ketika pria itu hendak menyentuh lengannya, Zuin dengan cepat menepisnya kemudian berbalik ke ranjang, berbaring di sana sambil membelakangi pria itu.


Dastin tertegun. Lelaki itu mengernyitkan dahi. Apa pendapatnya pagi tadi salah? Zuin bukannya malu, tapi marah? Dastin mendes@h pelan kemudian duduk di tepi ranjang. Pandangannya tidak lepas dari Zuin yang berbaring membelakanginya. Pria itu mulai berbicara.


"Aku tahu aku salah. Semalam... Itu memang salahku. Aku yang tidak bisa menahan diri. Aku tidak bisa mengontrol diriku untuk tidak menyentuhmu. Melihatmu begitu tersiksa, membuatku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Terus terang karena aku juga mau. Semalam, aku sangat ingin memilikimu. Aku sangat sadar kalau diriku... Aku sadar...  Aku sudah jatuh cinta padamu. Dan semalam... Karena aku tidak bisa lagi menahan gairahku.. akhirnya aku..." gumam Dastin panjang lebar dan menggantung ucapan terakhirnya. Ia berharap Zuin memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia berharap gadis itu juga menyukainya.


Zuin sendiri meremas selimut kuat-kuat, menyembunyikan rasa kaget sekaligus berharap pria itu tidak mendengar detak jantungnya yang begitu kuat. Darahnya mengalir sangat cepat tanpa bisa ia hentikan.


Dastin jatuh cinta padanya? Ya ampun, dia tidak salah dengarkan? Sejak kapan? Apa sejak pria itu menciumnya? Tidak, tidak! Mungkin saja dia yang salah dengar.


"Mengenai semalam... Apa kau ingin aku minta maaf atau...?"


"Minta maaf?" perkataan Dastin membuat Zuin refleks membalikkan badannya menatap pria itu. Ia balik bertanya dengan tatapan bingung. Dalam ingatannya semalam, dialah yang lebih dulu menggoda Dastin. Jadi keduanya sebenarnya tidak harus saling meminta maaf. Lagipula, bukannya mereka berdua sama-sama menikmatinya? Atau jangan-jangan Dastin pikir, dia sedang marah pada pria itu karena membuatnya tidak perawan lagi? Normalnya sih memang harus begitu, tapi Zuin malah tidak begitu memikirkannya. Karena pria yang merenggut keperawannya itu adalah Dastin. Sepertinya dia juga sudah jatuh cinta pada pria tampan itu.

__ADS_1


"Semalam itu adalah pertama kalinya bagimu. Aku sudah... Keperawananmu..." Dastin berusaha mengucapkan kalimat tersebut dengan sangat berhati-hati. Zuin kembali menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, sampai menutupi kepalanya. Ia sungguh malu. Kenapa Dastin harus membahas itu lagi sih. Bagaimana dia bisa lupa coba.


Melihat refleks Zuin seperti itu, sudut bibir Dastin terangkat. Sepertinya gadis itu memang malu. Karena sejak tadi Dastin tidak menemukan kebencian dalam tatapan Zuin. Artinya, dia tidak perlu meminta maaf. Dastin tersenyum lebar lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali berbicara. Mungkin Zuin tidak mendengar kalimat terakhirnya semalam, jadi pria itu harus mengatakan sekali lagi.


"Aku tahu kau malu Zuin. Tidak apa-apa kalau kau tidak mau melihatku. Tapi aku tetap akan mengatakan hal penting ini. Dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan sekarang,"


Dalam selimut, Zuin menajamkan telinganya. Kira-kira apa yang akan pria itu bilang? Dia jadi penasaran.


"Aku akan bertanggung jawab dan segera mendaftarkan pernikahan kita secara hukum. Resepsinya akan dibuat saat pekerjaan ayahmu selesai. Kalau kau setuju, aku akan segera membawamu menemui orangtuaku." kata Dastin tanpa basa-basi, dan tentunya pria itu tidak bercanda sama sekali. Perkataannya selalu serius. Apalagi kalau itu menyangkut hubungannya dengan Zuin.


Zuin sendiri lagi-lagu dibuat syok oleh Dastin. Menikah? Pria itu bilang akan segera menikahinya? Ya Tuhan, mimpi apa dia semalam? Kenapa semuanya datang tiba-tiba seperti ini?


Zuin menyibak selimut yang menutupi keseluruhan tubuhnya dan mengubah posisinya menjadi duduk menatap Dastin dengan mata terbelalak, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Bahkan rasa malunya untuk menatap pria itu tadi langsung hilang seketika.

__ADS_1


"Kau bilang apa? Menikah? Kau dan aku?" seru Zuin menunjuk Dastin dan dirinya sendiri. Dan anggukkan pasti Dastin membuatnya tambah syok. Gadis itu terlalu syok sampai-sampai tidak tahu harus bersikap seperti apa.


__ADS_2