Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
42


__ADS_3

Satu hari kemudian, hari yang di tunggu-tunggu oleh Zuin akhirnya datang juga. Hari ini adalah hari pertama dirinya kembali menjadi anak SMA. Tentu saja bukan sungguh-sungguh untuk belajar. Seperti yang telah diatur, dirinya hanya menyamar untuk mendapatkan informasi tentang korban pembunuhan yang sedang diselidiki Dastin dan yang lainnya.


Zuin terus melihat penampilannya di cermin sambil tersenyum puas. Walau seragam SMA itu tidak sebagus dengan seragam SMA sekolahnya dulu, tapi tidak mengapa. Ia tetap cantik dengan balutan seragam SMA yang terkesan sederhana itu.


"Zuin, kau sudah siap? Dastin sudah menunggumu didepan." tanya Sari yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar. Dastin sengaja menyuruh wanita itu mengecek Zuin di kamar. Laki-laki itu tahu Zuin lama sekali kalau bersiap. Awalnya dia sendiri yang mau memanggil Zuin, tapi karena dia sedang bicara ditelpon, ia akhirnya menyuruh Sari.


"Iya-iya sudah." Zuin buru-buru merapikan rambutnya lalu keluar. Gadis itu melewati para bawahannya Dastin yang terus menatapnya. Mungkin mereka melihat penampilannya dalam balutan seragam SMA.


"Minggir," kata Zuin saat melewati Ayyara. Wanita itu terus bersikap sinis padanya. Jadi Zuin pun masa bodoh. Zuin sengaja melewati jalan tempat Ayyara berdiri sambil mengibaskan rambutnya dengan sengaja kebelakang hingga mengenai wajah Ayyara. Ayyara menggeram kesal, ia mau marah tapi gadis yang sengaja cari gara-gara dengannya itu kini sudah mencapai pintu depan.


Zuin berhenti melangkah saat mencapai mobil Dastin. Laki-laki itu sudah selesai menelpon dan kini berdiri sambil bersandar pada dinding mobilnya dengan kedua tangan terlipat di dada menunggu Zuin.


Ketika Zuin berhenti didepannya, Dastin mengamati seluruh penampilan gadis itu. Pria itu merapikan bagian-bagian yang belum terlihat rapi dimatanya. Zuin memakai seragam SMA itu asal-asalan sekali. Kemejanya tidak dimasukan ke dalam rok, dan lengannya di gulung ke atas persis preman. Dastin sampai menyentil pelan kepala gadis itu karena penampilan urakannya.


"Kau mau mengajak orang berkelahi dengan gaya begini?" celetuk Dastin kemudian membantu merapikan penampilan Zuin. Gadis itu memberengut, menatap Dastin sebal namun tidak melawan. Ia diam saja membiarkan pria itu mengatur seragamnya. Ia takut kalau dirinya melawan, Dastin mungkin akan membatalkan rencana penyamarannya tersebut. Jadi ikuti saja apa maunya pria itu. Demi petualangan barunya.


"Kau punya karet rambut?" tanya Dastin kemudian. Zuin langsung mengeluarkan beberapa karet rambut dari saku seragamnya. Ia memasukan beberapa barang itu di sana tadi karena sudah kebiasaan. Dastin mengambilnya dan mengikat rambut Zuin tanpa ijin.


"Kok di ikat?" ujar Zuin keberatan. Padahal ia sudah merapikan rambutnya tadi. Dan, bukan dikuncir satu doang. Zuin bisa merasakan rambutnya sengaja dikuncir dua oleh Dastin, bahkan tanpa bantuan sisir. Ya ampun, pria itu sungguh membuatnya kesal setengah mati. Tunggu saja setelah penyamaran ini berakhir.

__ADS_1


"Begitu lebih baik, biar kau lebih terlihat seperti anak SMA." ucap Dastin tanpa dosa. Sebenarnya tanpa dikuncir begitupun, Zuin masih kelihatan anak sekolah.


Sementara dari dalam vila, Sari dan yang lainnya terus menonton interaksi Dastin dan Zuin dari balik jendela kaca. Mereka semua senyum-senyum melihat interaksi manis pasangan itu. Hanya Ayyara tentu saja yang tidak senang sama sekali. Ia cemburu setengah mati. Tentu saja tidak senang melihat Dastin memperlakukan Zuin sampai sebegitunya. Memangnya gadis itu anak kecil, sampai-sampai penampilannya saja harus dirapikan dengan bantuan pria itu? Ayyara kesal karena bukan dirinya yang berada di posisi Zuin. Ia makin emosi karena tampaknya Dastin mulai menyukai gadis pembuat onar itu.


"Kemungkinan besar mereka berdua akan berakhir di pelaminan." perkataan Rivo menambah rasa cemburu Ayyara. Lalu dengan kesal wanita itu memilih masuk ke kamar. Telinganya sudah sangat panas mendengar teman-teman kerjanya tersebut mendukung hubungan Dastin dan Zuin.


"Cepat masuk" ujar Dastin membukakan pintu mobil buat Zuin dan menyuruh gadis itu masuk. Tak lama kemudian mobil pria itu meninggalkan halaman rumah tersebut.


 


                                   ***


"Ingat, namamu bukan Zuin. Aku sengaja mendaftarkanmu dengan nama Zua. Kau pindahan dari Bandung. Dan jangan terlalu cepat bergerak. Pelan-pelan saja. Kau ingat pengaturan kita kemarin kan?" Dastin berkata panjang lebar. Ia terus menatap Zuin dengan serius. Gadis itu menganggukkan kepala.


Kali ini Dastin memajukan tubuh dan memegangi bahu Zuin erat.


"Berusahalah supaya tidak ketahuan. Usahakan bergaul baik dengan teman-teman barumu nanti. Jangan membuatku khawatir, kau mengerti?" suara berat Dastin dan mata yang menatap Zuin lekat-lekat itu membuat Zuin mengerjap-ngerjapkan mata merasa aneh. Apa Dastin betul-betul mengkhawatirkan dirinya? Kenapa juga dirinya harus bergaul dengan orang-orang baru? Kan dia ke sini hanya akting, malah lebih baik tidak dekat dengan mereka. Ah sudahlah. Zuin membuang jauh-jauh pikiran-pikiran yang menurutnya tidak penting itu.


"Kalau ada apa-apa langsung kabari aku." kata Dastin lagi. Kali ini Zuin mengangguk patuh.

__ADS_1


"Masuklah." pria itu kemudian mendorong pelan bahu Zuin. Gadis melambai padanya kemudian mulai memasuki gerbang sekolah. Zuin menghembuskan napas panjang. Ia menoleh kebelakang sekali lagi, melihat melihat kalau lelaki yang mengantarnya tadi masih di sana atau tidak.


Ternyata masih ada. Dastin masih berdiri di sana sampai dirinya benar-benar menghilang dari hadapannya. Zuin menarik nafas. Ternyata begini rasanya melakukan sesuatu yang rahasia. Ia sudah seperti mata-mata saja. Menarik sekali. Zuin suka perasaan seperti ini.


Langkah pertama yang dilakukan Zuin adalah pergi ke ruangan kepala sekolah. Dastin cerita kalau pria itu sudah mendiskusikan rencana mereka dengan kepala sekolah supaya bisa mendapatkan akses masuk sekolah tersebut lebih gampang. Jadi kepala sekolah itu tahu tentang penyamarannya, tentu saja beserta dokumen palsu tentang jati dirinya. Dengan catatan, mereka harus melakukan penyelidikan kasus pembunuhan tersebut dengan sangat hati-hati. Tidak boleh sampai ada yang tahu. Kepala sekolah memang bekerja sama, tapi dengan tegas dia mengingatkan tidak boleh sampai terjadi keributan.


Zuin memandang berkeliling. Entah dimana dia berada sekarang. Sejujurnya ia tidak tahu dimana letak ruangan kepala sekolah, tapi dirinya terus berjalan saja. Dia sama sekali tidak terpikir untuk bertanya pada beberapa murid yang dilewatinya.


"Kau mau ke mana? Sebentar lagi bel." suara itu menghentikan langkah Zuin. Gadis itu berbalik. Ia menatap seorang siswi berambut kecoklatan, bertubuh tinggi dengan kulit sawo matang berdiri didepannya. Siswi itu terus menatapnya.


"Kamu anak baru di sini?" tanya siswi itu lagi setelah lama memperhatikan Zuin. Zuin tersenyum lebar lalu mengangguk. Ia harus berakting dengan baik agar tidak ketahuan.


"A..aku Zui.." Zuin terhenti sesaat.


"Namaku Zua." lanjutnya mengingat nama samarannya yang dikatakan Dastin tadi. Hufft... Hampir saja. Zuin kemudian mengulurkan tangannya kedepan siswi tersebut.


"Aku Maria. Kau sudah tahu dimana kelasmu?" siswi bernama Maria itu membalas uluran tangan Zuin lalu bertanya. Zuin menggeleng.


"Aku ingin ke ruangan kepala sekolah. Tapi sepertinya aku salah arah." ujar Zuin menjelaskan.

__ADS_1


"Jadi begitu. Kalau begitu ikut aku saja. Aku akan membawamu keruangan kepala sekolah." balas Maria. Ternyata gadis itu ramah. Zuin mengikutinya dengan senang hati.


__ADS_2