Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
75


__ADS_3

Dastin dan timnya kini dalam perjalanan kembali ke markas. Sepanjang perjalanan Sari tidak berhenti-berhenti mengagumi sosok ayah Zuin yang dia lihat tadi. Laki-laki itu sangat keren di mata Sari. Dia akui yang lain juga tak kalah tampan di ruangan tadi. Seperti Dastin, Gean, asistennya Barry dan beberapa pria lainnya juga. Namun di mata Sari kharisma yang di miliki ayah Zuin yang paling menarik hatinya. Andai saja ia bisa dekat dengan laki-laki seperti itu. Sari terus melamun.


Mereka berlima mines Rivo berada di satu mobil yang sama. Di mobil Gean. Dastin tampak sibuk membaca sambil membolak-balik berkas yang ada di dalam map yang dipegangnya, sementara Gean fokus menyetir. Ayyara, Gilang dan Sari duduk bertiga di jok belakang. Pandangan Ayyara sejak tadi tidak berpindah-pindah dari Dastin. Wanita itu terus mengamati setiap gerak-gerik pria itu, sambil memikirkan bagaimana agar dirinya bisa mendekati Dastin. Pria itu terlalu cuek akhir-akhir ini.


Lalu terdengar bunyi dering ponsel Dastin. Pria itu menghentikan kesibukannya sebentar dan merogoh ponsel dari saku celananya. Ayyara yang berada dibagian belakang berusaha melihat siapa yang menelpon lelaki yang diincarnya tersebut namun tidak berhasil. Tubuh Dastin yang membelakanginya membuatnya kesusahan melihat ke ponsel pria itu.


Dastin sendiri tersenyum senang  ketika melihat siapa yang menelponnya. Itu telpon dari istri tercintanya. Kalau mereka tidak sedang ramai di dalam mobil, Dastin pasti akan langsung menyebut Zuin dengan panggilan sayangnya. Tapi lagi-lagi Dastin harus menahan diri karena ada yang lain. Tanpa menunggu lama Dastin mengangkat telpon Zuin.


"Dastin, Ke..t..Ketty..."


Zuin langsung berbicara dari seberang. Ia menyebut nama Ketty. Suaranya terdengar panik dan gadis itu sepertinya menangis. Dastin yang awalnya bingung, kini berubah khawatir.


"Hei, kamu kenapa? Atur nafas kamu dulu lalu ceritain pelan-pelan ke aku." ucap Dastin lembut dan penuh kesabaran. Ia sadar dalam keadaan begini dirinya tidak boleh ikutan panik. Ia harus tenang, setenang mungkin. Gean yang tengah menyetir menoleh sebentar padanya, juga Gilang, Ayyara dan Sari yang duduk di jok belakang. Mereka penasaran.


Diseberang sana, Zuin mengikuti arahan Dastin. Meski masih tampak kesulitan tapi gadis itu hampir berhasil. Ia kembali membuka suara.


"K..Ketty di culik.." kata Zuin akhirnya dengan susah payah kemudian mulai menangis lagi. Dastin cukup kaget dengan kabar itu, yang ada dipikirannya sekarang hanyalah bertemu dengan Zuin secepat mungkin. Iya tahu gadis itu butuh dirinya sekarang.


"Denger Zuin, tenangin diri kamu dulu, dan bilang kamu di mana sekarang, aku akan segera ke sana." kata Dastin lagi. Ayyara dan yang lain tambah heran. Tentu saja Ayyara tidak senang karena yang menelpon Dastin ternyata adalah perempuan yang dia benci. Apalagi nada bicara Dastin pada gadis itu sangat lembut. Kenapa lagi sih dia? Bikin pekerjaan orang tertunda saja. 

__ADS_1


"Kita ke alamat lain dulu." ujar Dastin ke Gean. Pria itu mengangguk karena sepertinya itu adalah keadaan mendesak.


"Zuin kenapa?" tanya Gean melirik Dastin sesekali.


"Temannya di culik." sahut Dastin. Setelah itu hening. Tak ada satupun yang bicara dalam mobil tersebut. Semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ketika mobil yang tersebut parkir di sebuah gedung apartemen sesuai dengan alamat yang diberikan Zuin, Dastin langsung berlari keluar. Kata Zuin gadis itu berada di ruangan cctv, jadi pria itu bertanya letak ruang cctv pada resepsionis didepan dan langsung menuju ke sana secepat mungkin.


Gean, Gilang beserta Sari dan Ayyara mau tak mau mengikuti Dastin dengan tergesa-gesa. Begitu ruangan cctv tersebut terbuka, pandangan Dastin mencari-cari sosok Zuin. Di dalam sana ada sekitar empat orang. Duanya sibuk didepan banyaknya layar cctv, dan sisanya berdiri di hadapan Zuin yang sesenggukan.


"Tenanglah nona, polisi akan segera datang. Teman anda akan baik-baik saja." hibur salah satu petugas polisi tersebut. Ia sungguh bingung karena Zuin tidak berhenti-berhenti menangis sejak tadi.


Dastin sendiri langsung melangkah cepat ke arah Zuin.


"Zuin," pria itu menyentuh bahu Zuin. Zuin menoleh kesamping, saat menyadari keberadaan Dastin, gadis itu langsung memeluknya kencang, membenamkan kepalanya di perut suaminya dan menangis sejadi-jadinya. Zuin tidak peduli sekalipun banyak orang berada di ruangan itu. Malah Ayyara yang keliatan kesal saat melihat Zuin seenaknya memeluk Dastin.


"Bagaimana kejadiannya?" tanya lelaki itu dan salah satu di antara petugas itu mulai menjelaskan kronologinya sambil memperlihatkan cctv. Dastin dan yang lain yang datang bersama mendengar dengan serius.


"Kami sudah mencoba memeriksa dan menemukan plat mobil penculiknya. Setelah polisi datang, mobil penculik itu bisa dilacak keberadaannya." jelas sih petugas cctv.


Mendengar penjelasan tersebut, Dastin langsung menatap Gilang seolah memberi kode pada pria itu. Kalau tunggu polisi datang mereka hanya akan menyia-nyiakan waktu. Gilang bisa dibilang mahir dalam hal lacak melacak. Kemampuan Gilang jauh lebih diatas kebanyakan polisi. Kalau tidak, pria itu tidak akan di rekrut menjadi salah satu anggota BIN, apalagi di tim Dastin.

__ADS_1


Gilang yang mengerti arti tatapan Dastin, cepat-cepat mengeluarkan laptopnya. Setelah menanyakan plat mobil, pria itu langsung serius bekerja. Para petugas cctv hanya saling menatap kebingungan. Mereka langsung berpikir orang-orang asing yang berada diruangan itu bukanlah orang biasa.


Tak sampai lima belas menit, Gilang telah menemukan keberadaan mobil dari sih penculik. Pria itu mengangkat kepalanya menatap yang lain bergantian, kemudian berhenti pada Dastin.


"Sudah kau temukan?" tanya Dastin. Tangannya tetap sibuk mengusap-usap punggung Zuin. Gilang mengangguk.


"Jaraknya kira-kira satu kilometer dari sini. Di sebuah rumah..." Gilang kini melacak rumah tempat mobil penculik itu terparkir.


"Itu adalah rumah tua, sepertinya tak ada pemiliknya. Sepertinya teman Zuin di sekap dalam rumah tua itu." kata Gilang lagi. Kali ini Zuin mengangkat wajahnya memandang Gilang. Tangisannya sudah berhenti, tapi masih sesekali sesenggukan. Matanya bengkak. Meski begitu, ia sudah lebih tenang sekarang.


"Ketty di sekap?" suara Zuin berubah marah. Berani-beraninya mereka menculik dan menyekap Ketty.


"Bawa aku ke rumah itu. Aku mau selamatin Ketty!" kata gadis itu lagi dengan beraninya dan berdiri dari kursi. Namun Dastin menahannya.


"Zuin, jangan gegabah." tegur Dastin. Zuin balas menatap pria itu keberatan.


"Tapi aku harus nyelamatin Ketty." balasnya.


"Iya aku tahu. Tapi aku nggak pengen kamu kenapa-napa. Biar aku sama yang lain aja yang pergi ya. Aku janji Ketty bakal balik dalam keadaan baik-baik." bujuk Dastin sabar.

__ADS_1


"Tapi..."


"Zuin, dengerin aku." nada Dastin mulai tegas. Mau tak mau Zuin hanya bisa menuruti perintah suaminya.


__ADS_2