Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
62


__ADS_3

Zuin membuka matanya perlahan dari tidur nyenyaknya. Ia termenung sebentar di tempat tidur dan teringat apa yang telah ia lewati semalam. Gadis itu bertemu dengan orangtua Dastin di rumah pria itu, berbincang-bincang banyak dengan nyonya rumah yang ternyata tidak menakutkan seperti pertama kali ia lihat, dan makan malam bersama.


Awalnya Zuin memang merasa kaku, namun lama-kelamaan, gadis itu mulai terbiasa. Ia bisa merasakan orangtua Dastin menerimanya. Tapi satu hal yang membuat dia sangat malu adalah, mama Dastin mendesaknya untuk melahirkan anak Dastin, cucu wanita tua itu tentu saja. Astaga, mereka bahkan baru melakukannya sekali, bagaimana bisa dia langsung hamil coba. Lagipula dirinya juga masih muda. Dia belum pantas mengurus anak, mengurus dirinya sendiri saja susah, apalagi mengurus anak.


Satu hal yang membuat Zuin heran adalah, orangtua Dastin tidak marah sama sekali atau sama sekedar menegur mereka ketika tahu mereka sudah berhubungan intim sebelum menikah. Seperti yang terjadi semalam, mama Dastin malah senang. Apakah keluarga Dastin memang sebebas itu? Jangan-jangan Dastin memang pernah tidur dengan wanita lain lagi sebelumnya. Zuin menggeleng-geleng membuyarkan pikiran negatifnya. Semoga saja tidak. Kan dia sudah bilang setuju menikah dengan Dastin semalam.


Zuin menarik nafas panjang lalu bangkit dari kasur dan berjalan ke luar. Sepertinya Dastin sudah berangkat kerja karena ia tidak melihat batang hidung pria itu sedikitpun. Ia juga ingat semalam kata Dastin timnya akan menyelidiki kasus baru hari ini. Jadi Zuin cari makan di luar saja. Kemungkinan Dastin akan pulang sangat malam hari ini.


"Hmm, kalau begitu setelah ke kampus aku pergi ke rumah Ketty saja." gumam Zuin pada dirinya sendiri. Ia masih berpikir positif kalau Ketty kali ini tidak akan beralasan lagi untuk mengusirnya secara halus. Mungkin akhir-akhir ini sahabatnya itu benar-benar sibuk.


Pagi itu, sebelum berangkat ke kampus, Zuin mampir ke Cafe tempat Nako bekerja. Ia ingin sarapan di sana saja sekaligus ngobrol dengan teman prianya itu. Mengingat kemarin mereka tidak sempat ngobrol panjang.


Cafe tempat kerja Nako bernuansa hijau dan taman dengan dinding-dinding kaca yang berkilauan, memantulkan nuansa taman di sekelilingnya. Cafe itu terletak di pinggir jalan tak jauh dari  kampus Zuin. Jadi Zuin bisa jalan kaki pergi ke kampus dari cafe tersebut.

__ADS_1


Ketika ia mencapai pintu masuk,  seorang pelayan, yang kebetulan sedang berada di depan cafe itu menyapanya dengan ramah, mempersilahkannya masuk. Pelayan yang ramah itu bernama Gia, mereka saling kenal karena Zuin sering sekali mampir ke situ karena ada Nako yang diketahui Gia berteman baik dengan Zuin. Gia dan Nako tidak bisa dibilang dekat, mereka saling kenal karena sama-sama bekerja di cafe tersebut. Namun, walaupun tidak bisa dibilang akrab, mereka tetap saling bertegur sapa.


Sambil mengantri, Zuin mengamati cafe itu. Dulu sebelum tinggal di apartemen Dastin, setiap pagi sebelum berangkat ke kampus, Zuin dan Ketty pasti akan mampir ke cafe ini untuk membeli minuman kesukaan mereka dan sekedar berbincang ringan dengan Nako sebentar. Sekarang, mereka memang masih sering mampir, tapi sudah tidak sesering dulu. Dan akhir-akhir ini malah lebih banyak Zuin yang mampir karena Ketty selalu beralasan sibuk. Ketika antrian Zuin sudah mencapai paling depan, ia langsung menghadap ke pria didepan sana.


"Vannila latte kan?" ujar Nako langsung menyapa Zuin dan menyebutkan pesanannya, bahkan sebelum Zuin sempat memesan. Zuin  tertawa,


"Kau memang sahabat yang paling baik. Tidak pernah lupa minuman kesukaanku." Zuin mengangkat jempolnya tinggi-tinggi ke arah Nako sambil tersenyum lebar. Nako balas  tersenyum sebelum kembali sibuk membuatkan minuman Zuin. Masih ada antrian yang cukup panjang dibelakang Zuin, jadi pria itu harus bergerak cepat.


"Ini, vanilla latte punyamu." Nako mengulurkan minuman pesanan Zuin yang sudah gadis itu bayar.


                                    ***


"Di mana Ketty?" mata Zuin mencari-cari ke segala arah namun tidak menemukan Ketty yang dia cari sejak tadi. Padahal biasanya pagi-pagi begini Ketty sudah berada di kampus. Kemana dia? Ponselnya tidak diangkat pula. 

__ADS_1


Cukup lama Zuin duduk sendirian di dalam pos satpam dekat gerbang kampus. Sementara satpam yang bertugas berjaga hari ini sedang berdiri didepan sana. Zuin pikir tempatnya duduk menunggu Ketty ini paling strategis. Karena kalau Ketty datang, ia bisa langsung melihat gadis itu muncul lewat gerbang kampus.


"Itu Ketty?" mata Zuin menyipit ketika melihat seorang gadis yang perawakannya seperti Ketty turun dari sebuah mobil mewah. Ia terus mengamati gadis itu dengan saksama.


"Benar itu Ketty." kata gadis itu lagi, kali ini ia keluar dari dalam pos satpam dan berlari menghampiri Ketty.


"Ketty!" seru Zuin. Ketty dan pria di dalam mobil yang mengantar gadis itu sama-sama melihat ke arah Zuin. Pria di dalam mobil tersebut langsung turun dari mobil ketika melihat Zuin. Ternyata lelaki yang mengantar Ketty itu adalah Kyle. Ekspresi ketiganya bertolak belakang.


Zuin yang terheran-heran melihat Ketty di antar oleh Kyle, Kyle yang merasa sangat senang saat melihat Zuin, sementara Ketty terlihat sangat tidak bahagia karena Zuin yang tiba-tiba muncul didepan mereka. Ia bisa lihat jelas perubahan di wajah Kyle ketika melihat Zuin. Padahal pria itu sangat datar dan cuek saat bersamanya tadi. Tapi ketika melihat Zuin, raut wajah Kyle berubah begitu senang. Ketty seakan dilupakan begitu saja.


"Kyle? Kok kamu bisa anterin Ketty?" tanya Zuin heran. Kyle sudah berdiri didepan gadis itu, sengaja membelakangi Ketty.


"Aku tidak sengaja berpapasan dengannya di jalan. Karena dia sahabatmu, aku tidak mungkin membiarkannya bukan?" bohong Kyle. Padahal Ketty baru habis dari apartemennya. Melakukan pemanasan pagi. Bukan dia yang minta memang, Ketty sendiri yang mau. Karena Ketty selalu memberinya tawaran, jadi apa boleh buat. Kyle setuju-setuju saja, lagipula dia juga yang diuntungkan bisa merasakan pelepasan yang luar biasa pagi ini. Dengan mulut dan tangan Ketty yang bermain di kejantanannya.

__ADS_1


Sebagai balasannya, Kyle mengiyakan permintaan Ketty yang memintanya mengantar gadis itu ke kampus. Awalnya pria itu tidak tertarik sama sekali mengantar Ketty, namun saat melihat Zuin di kampus, ia jadi bersyukur karena tidak menolak mengantar Ketty hari ini. Tentu saja karena dia bisa melihat gadis yang dia sukai. Pujaan hatinya. Zuin.


__ADS_2