Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
52


__ADS_3

Sejak melihat Zuin masuk ke dapur tadi, gadis itu belum balik-balik sampai sekarang. Dastin mengerutkan kening. Pandangannya terus terarah ke arah dapur dan sesekali akan melirik jam tangannya. Apa sebenarnya yang dilakukan gadis itu di dapur? Kenapa dia belum kembali sampai sekarang? Memangnya minum selama itu?


"Dastin, kau yakin tidak mau coba? Kadar alkoholnya rendah, aku bisa jamin ini tidak akan membuatmu mabuk sama sekali. Benarkan Ayyara?" tawar Gilang untuk kesekian kalinya sekaligus melirik ke Ayyara yang kini sudah bergabung dengan mereka. Wanita itu yang menyiapkan minuman, tentu saja dia tahu berapa kadar alkoholnya. Wanita itu mengangguk. Ayyara sengaja menyampirkan rambutnya kebelakang telinga agar terkesan cantik didepan Dastin. Padahal bagi Dastin sama saja. Bagaimanapun juga, walau ada wanita cantik bak bidadari yang berdiri didepan pria itu sekarang, dimata Dastin Zuinnya adalah yang tercantik.


Zuinnya?


Huh! Dastin tidak percaya akan ada hari dimana dirinya mengklaim seorang gadis adalah miliknya. Tapi dia senang. Karena dia sudah tidak ingin membohongi dirinya sendiri lagi kalau dia memang menyukai Zuin.


Gilang masih memaksanya minum beberapa kali, tapi Dastin menolak. Bukannya tidak mau minum, ia sedang tidak berselera saja. Sekarang pikirannya lagi fokus ke Zuin yang belum muncul-muncul juga. Apa gadis itu ketiduran didapur? Dastin lalu berdiri dari sofa dan berjalan menuju dapur.


"Kau mau kemana?" Gean dan yang lain memandang pria itu. Dastin berhenti sebentar dan menoleh ke mereka bergantian.


"Pantry. Kalau kalian mau istrihat, masuklah." ujar pria itu lalu kembali berjalan meninggalkan mereka. Ayyara menghembuskan nafas panjang terus menatap punggung Dastin sampai pria itu menghilang masuk ke dapur. Wanita itu menyesal karena rencananya malam ini gagal total. Semua itu karena orang yang masuk ke dapur tadi. Kalau tidak, dirinya dan Dastin mungkin saja sudah... Ayyara terus mengutuk orang yang menggagalkan rencananya tersebut.


                                    ***


Didapur, mata Dastin mencari-cari ke segala arah. Kemana gadis itu? Tidak ada didapur. Tapi Zuin pergi kemana coba? Tadi Dastin terus menunggunya keluar dari dapur, namun Zuin tidak pernah keluar. Mata Dastin lalu berhenti ke pintu belakang yang terhubung langsung dengan kebun teh. Satu-satunya yang paling masuk akal untuk memikirkan kemana Zuin pergi adalah kebun teh.


Pria itu melangkah keluar menuju kebun teh dengan pandangan terus mencari-cari gadis yang ingin dilihatnya sejak tadi. Kira-kira Zuin berada dibagian mana. Saat matanya menangkap sosok Zuin, ia cepat-cepat berjalan ke arah gadis itu. Dastin mendengus pelan. Zuin sedang duduk sambil bersandar di sebuah bangku panjang.

__ADS_1


"Sepertinya kau sangat mencintai kebun teh, sampai lupa masuk." sindir Dastin. Ia terus menatap Zuin. Gadis itu mendongak menatap Dastin, tapi hanya sebentar kemudian kembali sibuk menggosok-gosok lengan dan bagian-bagian tubuhnya yang lain. Dastin yang awalnya tidak memperhatikan, langsung menyadari ada yang berbeda dengan Zuin. Gadis itu tampak gelisah. Dastin mendekat selangkah untuk memeriksa keadaan gadis itu.


"Kau kenapa? Sakit? Sudah kubilang jangan ke sini malam-malam begini. Angin di sini kencang." lelaki itu tampak khawatir namun tetap saja menegur Zuin, merasa kesal karena gadis itu sangat keras kepala. Dasar gadis keras kepala. Geram Dastin dalam hati. Sementara Zuin tidak peduli, lebih fokus dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba terasa aneh.


Dastin yang berdiri didepannya tertegun. Ia terus mengamati Zuin yang terlihat makin gelisah. Perempuan itu tampak… tidak tenang. Karena ingin tahu, Dastin makin mendekat, dan menemukan Zuin dengan tatapan mata tersiksa, tubuhnya menggeliat di atas bangku panjang dengan kaki yang sudah terangkat dan badan tersandar di dinding bangku. Gadis itu terlihat seperti kepanasan. Padahal di sini udaranya sangat dingin. Bagaimana bisa dia kepanasan?


"Panas…." suara Zuin mendes*h, serak seperti kesakitan. Dastin mengernyitkan keningnya, lalu duduk di tepi bangku, dan menyentuhkan jemarinya ke dahi Zuin, suhunya normal, dia tidak demam. Kerutan di kening Dastin makin dalam, lalu kenapa perempuan ini bilang kalau dia kepanasan?


"Kau mau minum?" dengan cekatan Dastin menarik Zuin masuk ke dapur dan mengambil gelas air di meja pantry. Tak ada seorang pun di sana. Tampaknya diruang tamu pun sudah sepi. Mungkin yang lain sudah masuk ke dalam kamar.


"Sini, aku bantu kau minum." Dastin membantu Zuin duduk. Tubuh Zuin menggayut lemah di lengannya, dan napas perempuan itu terengah,


Dastin memutuskan duduk disebelah Zuin namun gadis itu tiba-tiba langsung duduk dipangkuannya dengan kedua tangan melingkar di leher pria itu. Dastin bahkan bisa merasakan Zuin dengan beraninya menggesek-gesek tubuh bagian bawahnya pada kejantanan Dastin. Seolah-olah gadis itu memang sangat menginginkan itu.


Sial. Dastin menggeram. Ia hanyalah pria normal yang tentu saja akan merasakan gairah yang luar biasa saat berhadapan dengan perempuan yang disukainya. Apalagi dalam keadaan begini. Dastin menjernihkan pikirannya, berusaha agar tetap fokus, meskipun sangat sulit. Pasti ada sesuatu…. Dastin mulai curiga. Gerak-gerik Zuin ini sangat aneh dimatanya. Pria itu bukanlah laki-laki polos yang tidak tahu apa-apa.


Dastin berusaha membuat Zuin yang terus menggodanya dengan gerakannya tersebut turun dari pangkuannya, supaya dia bisa mengamati Zuin dengan jelas. Wajah Zuin merona kemerahan, napasnya terengah, dan matanya sedikit tidak fokus, dia selalu mengeluh kepanasan… Bahkan membuat suara-suara yang sangat menggoda iman Dastin.


Jangan-jangan apa yang dia pikirkan memang benar…

__ADS_1


Dengan cepat Dastin mengangkat tubuh Zuin dan menggendong gadis itu. Membawanya kedalam kamar. Ia tidak membawa Zuin ke dalam kamar gadis itu. Tapi membawanya ke kamar tidurnya dengan Gean.


"Dia kenapa?"


Gean yang baru saja keluar dari kamar mandi melangkah mendekati Dastin yang terlihat kesusahan membaringkan Zuin ke tempat tidur. Gadis itu tampak lain. Zuin terus membelai-belai wajah Dastin dan mengeluarkan suara-suara tersiksa namun aneh ditelinga Gean. Kenapa dengan gadis itu? Gean terus mengamati tingkah aneh Zuin. Jangan-jangan dia meminum...


"Kau memberinya perangsang?" tanya Gean tanpa pikir panjang. Gerak-gerik Zuin memang membuatnya langsung berpikiran seperti itu. Kalau gadis itu mabuk, ia tidak akan terlihat bernapsu seperti ini. Pasti karena obat perangsang.


Sementara Dastin langsung menatap pria itu dengan tatapan membunuhnya.


"Aku tidak akan pernah melakukan tindakan sepicik itu pada gadis yang aku sukai." balas Dastin keluar begitu saja dari mulutnya. Gean terkekeh. Akhirnya pria itu mengakui juga kalau dirinya memang menyukai Zuin. Sebenarnya dia tahu Dastin tidak mungkin melakukan hal seperti itu.


"Aku tidak tahu bagaimana dia sampai mengonsumsi obat itu. Kau ada cara membuatnya kembali normal?" Dastin meminta pendapat Gean. Membiarkan Zuin sebentar. Laki-laki itu dokter hebat pasti ada cara lain, menurutnya.


Lagi-lagi Dastin menahan diri ketika tangan Zuin masuk ke dalam kaos oblong yang dipakainya. Menyentuh perut ratanya yang berotot.


"Dastin... Tolong aku...pleasee..." gumam Zuin dengan suara terengah-engah. Gean yang ikut mendengarnya serasa menonton drama berlabel 18+.


Astaga. Dastin membuang nafas frustasi. Lama-lama dia bisa gila. Kalau Zuin terus melewati batas seperti ini, pria itu yakin ia tidak bisa menahan diri lagi.

__ADS_1


__ADS_2