
"Bagaimana pendapatmu, apa kau setuju menikah denganku?" tanya Dastin menatap Zuin lekat-lekat. Gadis itu masih kelihatan bingung sejak tadi.
Ya iyalah Zuin bingung sekaligus syok. Siapa yang tidak kaget coba kalau tiba-tiba mendengar ada laki-laki yang bilang dengan gampangnya akan segera mendaftarkan pernikahan mereka tanpa melamar dulu. Bahkan sampai sekarang Zuin masih terduduk linglung diatas kasur, tidak tahu mau menjawab apa. Gadis itu tampak terbengong-bengong.
Dastin yang sejak tadi terus menatapnya kini menangkup wajah Zuin dan membuat gadis itu menatapnya. Pria itu tidak punya waktu berlama-lama. Ia masih ada kerjaan sebentar dan harus segera melapor ke kantor pusat mereka. Jadi sebelum Dastin pergi, ia harus memastikan semuanya dulu dengan Zuin. Takutnya kalau dia langsung pergi begitu saja tanpa penjelasan apapun, Zuin akan mengira dirinya adalah laki-laki brengsek yang hanya menginginkan tubuh gadis itu. Jadi Dastin setidaknya harus memberikan kepastian pada Zuin kalau dirinya tidak hanya sekedar main-main saja dengan gadis itu. Bahwa dirinya akan menikahinya. Dan memastikan juga, Zuin akan menyetujui pernikahan itu atau tidak.
"Zuin, aku tidak akan memaksamu. Kau hanya perlu jawab kau setuju atau tidak. Kalaupun kau belum mau menikah, aku akan menunggu sampai kau siap." gumam Dastin lembut. Meski hatinya sebenarnya sangat ingin mendengar kata setuju keluar dari mulut Zuin. Dengan begitu, kapan saja dia mau, dirinya bisa menyentuh Zuin.
Zuin balas menatap mata Dastin. Pemilik mata tajam yang biasanya selalu mengintimidasi dirinya itu kini berubah lembut seolah mengharapkan sesuatu darinya. Zuin akui Dastin sangat berkarisma dan memiliki wajah yang sangat tampan. Kalau tidak, ia tidak akan mau mengajak kenalan pria itu saat pertama kali melihat Dastin di night club waktu itu. Dastin bahkan adalah laki-laki pertama yang Zuin ajak kenalan, saking tertariknya dia pada wajah lelaki itu ketika melihatnya.
__ADS_1
Memang setelah itu hubungan mereka jadi tidak baik karena Dastin yang terlalu mengintimidasinya bahkan suka mengancamnya kalau dia tidak mengikuti kemauan pria itu. Tapi makin lama Zuin makin terbiasa dan menganggap semua yang dilakukan Dastin padanya hanyalah untuk mendisplinkan dirinya yang terlalu suka berbuat seenaknya. Zuin juga tidak memungkiri bahwa dia pun mulai ada rasa pada Dastin. Tapi kalau menikah secepatnya... Ini terlalu mendadak. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Meski dalam hatinya berbunga-bunga saat mendengar Dastin ingin menikahinya.
"Bagaimana hm? Kau belum menjawabku." Dastin membelai pipi Zuin lembut. Zuin berdeham lalu mengatur nafasnya sebelum bicara.
"A..be...beri aku waktu beberapa hari. A...ku janji akan memberimu jawaban setelah beberapa hari ini." ucap Zuin pelan lalu kembali menunduk. Hanya itu yang bisa dia bilang sekarang. Ia belum bisa secepat itu mengambil keputusan setuju atau tidak. Dan kalau langsung setuju... Bukankah itu terlalu cepat? Kesannya dia sendiri juga sangat ingin menikah dengan Dastin. Setidaknya gadis itu harus jual mahal sedikit. Tidak boleh langsung setuju.
Dastin menatap Zuin cukup lama kemudian mengangguk setuju. Setidaknya gadis itu tidak langsung menolaknya. Baiklah, Dastin akan memberinya waktu beberapa hari ini. Dia berharap setelah beberapa hari, dia akan mendengar jawaban yang dia inginkan. Dastin menghembuskan nafas panjang.
"Aku keluar dulu sayang, kalau ada apa-apa panggil aku." gumam Dastin lagi. Ia memajukkan kepalanya, mengecup kening Zuin sebentar, lalu beranjak keluar, meninggalkan gadis itu yang terus mematung di tempat tidur.
__ADS_1
Tangan Zuin terangkat ke dadanya yang kembali berdebar-debar kencang akibat perbuatan Dastin. Pipinya terasa panas. Gadis itu berbaring lagi dengan ingatan yang dipenuhi oleh laki-laki yang bilang mau menikahinya tadi, sampai gadis itu ketiduran.
\*\*\*
Ketika terbangun di malam hari, Zuin merasa lapar. Perutnya keroncongan. Dia ingat dirinya belum makan dari tadi siang. Zuin kemudian turun dari kasur besar tersebut dan melangkah keluar menuju dapur sambil memegangi perutnya.
Gadis itu mencari makanan apa saja yang ada di dapur. Zuin tidak pernah memasak, karena memang dia tidak bisa masak. Apalagi waktu dirumahnya, ada banyak pembantu yang bergantian memasak untuknya. Jadi gadis itu tidak pernah ada kesempatan untuk belajar masak, dan memang dia tidak terlalu suka masak.
Selama tinggal di apartemen Dastin pun, makanan mereka yang menyiapkan selalu lelaki itu. Bahkan terkadang Dastin masak sendiri untuk mereka berdua, kalau pria itu tidak sibuk. Laki-laki idaman betul. Zuin malah senyum-senyum sendiri ketika memikirkan banyak perempuan yang akan iri berat padanya kalau dirinya dan Dastin sampai menikah. Tak lama kemudian, Zuin menggeleng-geleng wajahnya dan kembali fokus ke meja makan.
__ADS_1
Gadis itu bernafas lega saat melihat ada makanan di atas meja makan. Kayaknya makanan itu memang sengaja disiapkan Dastin untuk dirinya. Tapi, kemana pria itu? Pandangan Zuin menengok ke segala arah. Dastin tidak ada di setiap tempat yang dia lihat, padahal biasanya pria itu selalu duduk di ruang tamu. Ketika Zuin memutuskan untuk tidak mencari lagi dan fokus ke makanan di atas meja, matanya menemukan selembar catatan kecil di atas meja. Mungkin itu dari Dastin.
Zuin meraihnya dan membaca. Dalam catatan tersebut dastin mengatakan kalau pria itu pergi ke kantor sebentar untuk melapor. Bukannya sedih, Zuin malah sangat bersyukur. Karena dengan begitu, dia bisa menemui Ketty malam ini. Gadis itu cepat-cepat duduk dan memakan semua makanan yang telah tersedia di atas meja. Zuin secepat mungkin menghabiskan makanan tersebut kemudian berganti baju dan keluar dari apartemen itu. Dia berharap ketika dia kembali, Dastin belum pulang.